Empat tahun yang lalu (2)

225 24 20
                                    

Julian telah tiba di rumahnya yang sederhana. Dia hanya terdiam mengetahui ia akan melakukan segalanya sendirian. Tidak ada lagi gurauan dari ayahnya maupun omelan ibunya.

Langkah kakinya mendekati para pot penuh bunga di halaman rumahnya. Harum bunga yang menyegarkan membuat perasaannya membaik.

Pemuda itu memegang ujung mahkota bunga peony yang dirawat oleh Anne. Dia termenung memikirkan dirinya akan mengalami kesepian karena ketiadaan orangtuanya.

Baru saja ia memasuki rumahnya yang terasa dingin, suara telepon kabel berdering membuatnya refleks mengangkatnya.

"Halo?"

"Julian! Aku dengar kau baru saja pulang!"

Julian mengenali suara ini, entah mengapa ia merasa lega tanpa sebab. "Benar."

"Aku minta maaf karena baru bisa menghubungimu sekarang. Aku akan menghadapi turnamen bela diri sebentar lagi."

Ada jeda sejenak. Julian hanya terdiam menunggu. Dia bisa mendengar keramaian melalui telepon sambung Yin.

"Nanti aku dan Melissa datang berkunjung. Kau jangan kemana-mana ya!"

"Memang aku akan kemana?" tanya Julian datar. Dibandingkan keluar rumah, ia merasa nyaman berbaring di atas ranjangnya sambil bermain games atau memainkan gitar klasiknya.

"Benar juga, kau merupakan orang yang sangat suka sekali bertapa dirumah." ejek Yin yang dihadiahi dengusan oleh Julian.

"Aku sudah mendengar apa yang terjadi padamu. Aku turut berduka cita atas kepergian paman Terizla dan bibi Anne."

Selanjutnya, suara kawannya yang terdengar sedih membuat Julian terdiam. Julian bisa memahami mengapa Yin turut berduka cita. Sebab, setiap kali temannya datang berkunjung. Yin sangat mengenal kedua orangtuanya dengan baik dan sering berinteraksi pada mereka.

"Terima kasih."

Setelah itu obrolan berlanjut dengan Yin menanyakan kondisinya. Mengetahui Julian hanya bisa menggunakan satu tangannya, Yin berkata untuk tidak bermacam-macam dan beristirahat saja. Julian hanya mengiyakannya dengan nada malas kemudian sambungan pun tertutup.

Dia berbalik menuju kamarnya dan melihat boneka lithowanderer disamping tasnya. Julian menduduki tepi ranjang sambil memegang boneka tersebut seraya termenung.

Teringat sewaktu ia pulang dari rumah sakit, Xavier memintanya untuk tetap bersemangat sambil mengusap kepalanya. Sejujurnya, ia tidak suka kalau ada orang lain sembarangan menyentuh kepalanya. Namun, ia tidak mengerti mengapa Xavier yang melakukannya justru membuatnya lebih tenang.

Apa yang sebenarnya dokter aneh itu lakukan padaku? batin Julian merasa bingung.

Tanpa sadar, musk menenangkan menguar harum melalui lithowanderernya. Refleks, membuat Julian memeluk bonekanya. Ini wangi yang selalu menempel pada Xavier setiap kali dokter itu berada disampingnya.

Apalagi ketika sepasang mata biru safir itu menatapnya penuh ketulusan.

Dengan mata terpejam sambil memeluk bonekanya, ia menyembunyikan wajahnya disana. Menikmati harum musk tersebut dengan mata terpejam sambil berbaring diatas ranjangnya.

•••

"Xavier."

"Ya, ibu?"

Ibunya yang cantik nan mempesona itu tersenyum lembut padanya. "Kau tidak ingin bermain?"

Xavier yang sedang mengupas apel merah untuk ibunya hanya menggeleng. Sang ibu tentu bertanya-tanya mengapa putranya yang tercinta ini jarang sekali bersenang-senang.

Bittersweet Relationship Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang