i'm sorry

321 26 2
                                    

"Morning, Sir Grant."

Steven sedikit terkejut saat Pete dan Tera menegur nya di lorong sekolah menuju ruangan nya. Steven tersenyum canggung kemudian melanjutkan langkah nya bersamaan dengan mereka yang berjalan menuju kelas nya. "Kenapa kalian tidak terlambat?"

"Nora tidak menjemput kami." Balas Pete. "Yang telat paling Willy."

"Nora berkelahi di Club, kau tahu itu, Tuan Grant?" Tanya Tera sambil merangkul Pete.

Steven tersentak dan mengerutkan kening nya. Setelah kepergian gadis itu, dia tidak ada kembali ke Apartemen nya. "Dia ... Berkelahi?"

Pete terkekeh geli, "Tujuh orang harus masuk rumah sakit. Entah apa yang membuat nya begitu marah dan melampiaskan nya ke mereka."

Steven terdiam, apa percakapan mereka membuat nya sangat emosi sampai-sampai harus berkelahi di tempat umum?

Langkah Steven terhenti saat di ujung lorong lebih tepat nya pintu kantor kepala sekolah terbuka sedikit menampilkan Nora yang sedang berdiri dengan kedua tangan di belakang sedang menghadapi kemarahan Ayah nya.

Pete dan Tera saling menghela nafas bersamaan. "Ayah nya pasti sudah mendengar hal ini."

Tera mengangguk, "Ku dengar dari Willy, dia bertengkar dengan Kakak nya Belly di rumah sebelum bertanding. Itu yang membuat nya kalah semalam."

Nora bertengkar dengan Kakak nya di rumah dan kalah dalam tanding basket? Di tambah pertengkaran mereka tadi malam. Great, tak heran jika dia begitu menahan emosi.

Terlihat Tuan Lee mengangkat tangan nya dan menampar wajah Nora keras-keras di hadapan Kepala Sekolah dan beberapa guru. Pete dan Tera spontan menutup mata dan meringis pelan sedangkan Steven menggengam tali tas nya erat-erat.

Manik kecokelatan Steven memperhatikan gadis itu, murid sekaligus pacar nya yang tak menunjukkan rasa sakit sama sekali.

Pete menyenggol Tera, "Sebaiknya kita tak melihat hal ini."

Tera mengangguk setuju lalu berjalan pergi ke lorong sebelah kiri meninggalkan Steven yang masih terdiam beberapa saat di tempat nya sebelum akhirnya ia juga memilih pergi ke lorong sebelah kanan, menuju ruangan nya.

"Nora! Nora!"

Seorang bocah laki-laki berlari di tengah kerumunan murid-murid di lorong sekolah untuk istirahat sejenak dari pelajaran. Bocah itu berusaha mencapai posisi gadis dengan tiga laki-laki di sekitar nya.

Namun ketika ia berhasil dan Nora berbalik, menunjukkan wajah penuh lebam nya.

Seketika ia terdiam.

"Ssup kiddo?" Tanya Tera seraya mendorong bahu nya pelan.

"Ka-kk-ka-ka—ka—"

Nora menaikkan satu alis nya.

"Bicara yang jelas." Willy mendekat dan mengangkat tangan nya.

Bocah itu spontan menunduk dan memejamkan mata nya. "KAU DI PANGGIL TUAN GRANT KE RUANGAN NYA!"

Karena ketakutan menguasai nya, ia tak sadar berbicara terlalu keras dan terlalu cepat membuat Tera dan Pete saling tatap lalu menahan tawa nya.

Nora menghela nafas lalu menoleh ke arah teman-teman nya, "Duluan." Ujar nya sebelum akhirnya melangkah maju dengan santai karena semua murid langsung menyingkir untuk memberi nya jalan.

Nora masuk ke dalam ruangan Steven dan melihat pemilik ruangan juga sedikit terkejut. "Nora, came in."

Nora menutup pintu nya lalu berjalan masuk. Ada dua kursi saling berhadapan.

"Duduk." Steven duduk di salah satu kursi.

Nora diam sejenak memandangi pria itu kemudian menurut dan duduk di depan nya. Mereka saling pandang. Nora yang menatap Steven yang terdiam dan Steven yang terdiam melihat lebam-lebam di wajah nya.

Dan luka di sudut bibir nya yang masih memerah dan sedikit mengeluarkan darah. Yang Steven yakini adalah hasil dari tamparan keras Ayah nya tadi pagi.

Steven mengangguk samar lalu meraih sapu tangan nya yang berisi es batu. Steven mengarahkan nya ke arah lebam di wajah Nora.

"Ssshh!" Nora meringis pelan dan menatap pria itu sinis lalu merebut sapu tangan itu dan melakukan nya sendiri.

Steven tersenyum canggung, "Maaf."

Kemudian Steven meraih mangkuk kecil berisi alat untuk membersihkan obat. Steven mengoyakkan beberapa kapas dan meneteskan obat ke atas nya lalu perlahan, ia mendekatkan tubuh nya untuk membersihkan luka di sudut bibir Nora yang masih mengeluarkan darah.

"Sshh—" Nora memundurkan kepala nya menghindari kapas itu.

"Just a moment, please."

Nora pandangi wajah memohon Steven kemudian menghela nafas panjang. Akhirnya ia membiarkan Steven memajukan kursi nya dan dengan hati-hati mengobati luka Nora seraya gadis itu menempelkan es batu ke lebam nya.

Steven fokus menatap luka itu tanpa sadar Nora tak melepaskan pandangan nya dari nya.

"Apa yang kau lakukan di Club?" Tanya Steven tanpa mengalihkan pandangan nya.

"Melampiaskan kekesalan ku?" Nora menaikkan satu alis nya.

Steven melirik Nora sekilas lalu berdeham. "Kekesalan mu pada ku?"

"Pada Belly."

Steven diam sejenak, ia fokus pada luka tersebut lalu membuang kapas nya ketika sudah selesai. Ia menarik nafas panjang dan menegakkan tubuh nya juga menatap Nora lembut.

"Apa yang dia lakukan?"

Nora hening sesaat lalu membuang tatapan nya, "Kurasa itu bukan urusan mu, Tuan Grant."

Steven mengeraskan rahang nya, "Bukankah aku pacar mu?"

"Bukankah kau guru ku?" Nora langsung menatap nya dingin dan menaikkan satu alis nya. "Aku harus patuhi norma sekolah, bukan?"

Steven kembali diam sejenak lalu menunduk sedikit, "Aku minta maaf."

"Aku tidak bermaksud membuat mu marah, aku hanya kesal melihat mu dengan pria lain—"

Steven memejamkan mata nya tak pernah siap atas serangan Nora yang tiba-tiba memajukan wajah nya dan menyambar bibir nya lalu melumat nya kasar bahkan kursi yang di duduki Steven sempat terjungkal sedikit ke belakang.

Steven perlu waktu untuk menyesuaikan segala nya sampai akhirnya ia dapat mengimbangi lumatan Nora.

Tangan Nora berada di rahang Steven, menuntun nya. Hingga akhirnya ia merasa puas.

"Fuck, I'm addicted to your lips."

Steven meraup nafas sebanyak-banyak nya lalu menatap gadis itu. "Aku belum menyelesaikan kalimat ku."

Nora tersenyum kecil, "Just don't made me upset."

Steven menelan ludah nya kasar, "K-kau bisa mencium ku sepuas mu."

Nora terdiam dan mengerutkan kening ny heran.

Steven mengangguk patah-patah, "Sebagai permintaan maaf ku."

Tera men-drible bola berwarna cokelat tersebut kemudian melemparkan nya ke dalam Ring. Tak lama ia menyamparin Pete yang berdiri di pinggir lapangan untuk mengajak nya bermain.

"Kenapa bibir si guru mesir itu bengkak?" Tanya Pete saat Tera di samping nya.

Tera menatap Pete kemudian beralih pada pria yang baru saja datang sambil membawa Sebuket bunga dengan kaos abu-abu lengan panjang celana hitam panjang malu-malu berjalan ke lapangan.

Tera menatap Pete malas, "Buddy," Pete menoleh, "He is Nora's boyfriend."

"Ah," Satu hal yang Pete lupakan kini teringat kembali dalam pikiran nya kemudian membuang tatapan nya. "Tak heran."



TeacherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang