⚠️️WARNING!⚠️
Seperti di chapter sebelumnya, ada adegan 18+ di Chapter ini. Mohon bijak dalam membaca.Awalnya, Soraru tak terpikir untuk menyusul albino itu.
Mengetahui Mafumafu menyembunyikan sesuatu darinya membuat Soraru merasa dikhianati. Yang ia lakukan, hanya terus larut dalam tangis. Menggerung, meratapi nasibnya yang lagi-lagi tidak bagus. Ah, apa yang salah dari hidupnya, sebenarnya.
Hingga kemudian pandangan jatuh ke lolipop stroberi yang diberikan pemilik toko seperempat jam lalu. Seketika Soraru terdiam. Lolipop itu, seharusnya untuk putrinya.
Entah mengapa, tiba-tiba sang memori menyusup masuk tanpa permisi. Soraru kembali ke beberapa bulan lalu. Malam hari dimana dia baru selesai membacakan dongeng pengantar tidur untuk peri kecilnya.
"Wow, pangeran itu keren! Pangeran berhasil menyelamatkan tuan putri!" Emi kecil berdecak kagum. Tawa lembut segera terdengar dari lisan ibunya. Jemari lentik nan hangat memberi usapan pelan.
Kemudian, Emi kecil kembali berceloteh, "Pangeran itu mirip Mama, ya. Mama, kan, cakep dan kuat! Mama juga pemberani, penyayang, dan selalu melindungi Emi. Mama keren!"
"Wah, Mama seneng, deh, dapat pujian dari Emi," tanggap Soraru mengundang tawa kecil sang putri.
Sejenak setelah itu, tampak raut sang putri sedikit sedih. Tentu, mengundang tanya dari si ibu. "Emi kenapa?"
Gadis kecil itu menjawab lirih, "Sayangnya, Papa bukan pangeran buat Mama..."
Tak dapat dipungkiri, Soraru sempat tersentak atas pertanyaan ini. Jangankan pangeran, suaminya bahkan lebih buruk dari sosok serigala dalam cerita gadis bertudung merah. Meski begitu, tidak mungkin dirinya berkata demikian di depan sang putri.
Maka kemudian, Soraru tersenyum tipis. "Mama ngga butuh pangeran, kok. Memiliki kalian berempat dalam hidup Mama sudah membuat Mama bahagia."
Lihatlah binar yang terpancar dari sepasang manik sebiru miliknya itu. Emi memeluk mamanya erat. Gadis itu berucap riang, "Emi sayang Mama!"
Mengelus lagi puncak kepala raven si kecil, Soraru tertawa lembut lagi. "Mama juga sayang Emi."
Sebelum lampu kamar dimatikan, Soraru kembali dipanggil sesaat sebelum menutup pintu kamar. "Mama?"
"Ya, Sayang?"
Emi merapatkan selimut, menyemat senyum pada bibir kecilnya yang diapit pipi gempal merah muda. "Emi senang Mama mau terus mikirin kami, tapi..."
"... Emi juga pengin Mama bahagia. Kalau, kalau suatu saat nanti, ada pangeran baik hati yang tulus menyelamatkan Mama... Emi harap, Mama meraih tangannya."
Mengingat kembali konversasi bersama sang putri itu membuat Soraru terdiam. Ia sempat termenung sekian saat. Memikirkan kembali kilas hidupnya selama beberapa hari terakhir.
Hingga kemudian, keputusannya telah bulat. Soraru menghapus airmata dengan siku. Setelah itu, ia semat senyum determinasi. Senyuman tanda ia belum menyerah. Hal ini berimbas pada sorot matanya. Mata yang terlihat kuat, mata yang mantap akan tujuannya.
Berdiri raga si raven. Mengemas beberapa helai baju dan makanan seadanya dalam sebuah ransel kecil, ia juga mengambil sejumlah foto buah hatinya. Soraru pergi ke halaman belakang, meletakkan lolipop di atas gundukan makam si sulung.
"Mama pergi dulu, ya, anak-anak," pamitnya, "mungkin, mungkin saja Mama akan menyesali ini, tapi... Mama rasa, Mama akan lebih menyesal jika diam saja tanpa melakukan apa-apa."
Mengucapkan selamat tinggal, Soraru berangkat menyusul sang pangeran. Pangeran kesepian yang juga membutuhkan seorang penyelamat.
Emi, Hideaki, Harue, Hioshi...

KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth
Fanfiction"Apa itu tempat kembali?" Pemuda pelarian itu mengerjap. Tak butuh waktu lama bagi sepasang biru samudera sang penanya untuk berbinar. Mengangkat kedua sudut bibir, sang pemuda pelarian menjawab, "Entahlah. Aku tak yakin. Mungkin bagiku, itulah temp...