Selamat Membaca Kisah
Perjalanan MerekaNow Playing : Febby Putri - Usik
***
Bab 4 | Skenario Pagi
Terkadang pagi menjadi tidak terduga padahal dari malam sudah di persiapkan dengan matang
***
Pagi menyambut begitu cepat dari biasanya. Iqbal yang memulai hari ini dengan sekolah tampak bingung sekaligus heran soalnya tadi malam bahwa dirinya kemarin tidur di ruang tamu tapi kenapa sekarang dirinya ada di dalam kamar. Pikirannya sempat berpikir bahwa ini ulah sang abang. Namun melihat tindakan abangnya semalam membuat Iqbal menepis semua pikirannya. Dan melanjutkan kegiatannya. Setelah melakukan ritual mandi dan memakai pakaian sekolahnya ia bersiap untuk sarapan bersama kedua orang tuanya dan abangnya, Iqbal memutar bola malas karena dirinya dengan sang abang sedang tidak baik-baik saja.
Dengan menghela napas ia berjalan keluar dari kamar sambil menggendong tas sekolahnya, "Pagi Ibu," sapa nya.
"Pagi, sayang. sarapan dulu yuk," ajak Ify kepada sang anak---Iqbal.
Kala Iqbal duduk dan sang Ibu mulai menyiapkan sarapan buat dirinya, Iqbal menatap kanan dan kiri kursi di meja makan ia mulai mencari sosok yang ada di kanan dan kirinya seolah ada yang kurang disini, lalu Iqbal menerima makanan itu dari Ify.
"Bu, Ayah sama abang kemana?" tanya Iqbal yang mulai menanyakan ayah serta abangnya, padahal ia sedang malas menanyakan sang abang, namun karena sang ayah juga tidak jadi mau tidak mau ia juga harus menanyakan keberadaanya.
"Ayah sama Wahyu udah berangkat tadi pagi-pagi sekali," jawab Ify sang sedang membersihkan dapur.
"Kamu lagi marahan sama Wahyu," tebak Ify.
"Gak kok bu," alibi Iqbal.
"Kok Wahyu gak mau nganterin kamu sekolah, dasar abang gak tanggung jawab," geram Ify.
Mendengar ocehan sang Ibu membuat Iqbal sedikit merasa bersalah pasalnya kalau bukan perdebatan semalam mungkin abangnya masih ada disini. Wahyu juga marah mungkin akan sikap dirinya yang tidak mau menghargai keputusannya. Jadi Iqbal berpikir ia harus memberikan alibi lebih kuat agar Ify tidak menyalahkan lagi Wahyu.
"Kemarin malam kata abang, ia harus berangkat ke gerai fotocopy an. Katanya ada proyek dadakan. Jadi ia gak bisa nganterin aku ke sekolah," jelas Iqbal.
"Tapi bagaimanapun kenapa gak ngomong sama Ibu." geramnya makin lama makin menjadi.
"Mungkin lupa kali bu,"
"Terus kamu berangkat sama siapa?'
"Kebetulan nanti ada temen Iqbal yang jemput di depan." lagi-lagi Iqbal berbohong, pasalnya ia belum menghubungi siapapun untuk berangkat sekolah pagi ini.
"Yaudah syukurlah."
Iqbal kembali menyantap kembali sarapan sampai habis, dan setelah itu ia mencuci piring bekas makannya dan mulai berangkat menuju sekolah, ia berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum atau mungkin ada temannya yang lewat untuk mencari tumpangan. Namun setelah berjalan selama 15 menit akan tetapi belum ada angkutan umum ataupun temannya yang bisa ia tumpangi.
Dalam hatinya ia ingin mengambil ponselnya dan menghubungi sang abang, bahwa ia membutuhkan bantuan. Akan tetapi rasa gengsi menyelimuti hatinya hingga mengurungkan niatnya untuk menghubungi sang abang, dan detik berikutnya ia masih berjalan bertemulah ia dengan seseorang.

KAMU SEDANG MEMBACA
BBS [5] Wahyu Iqbal ✓
Teen Fiction"Ketika kita berjalan ke arah yang sama namun berakhir dengan jalan yang berbeda" *** Wahyu Lutfhi dan Iqbal Lutfhi adalah kakak-beradik yang terpaut usia beda satu tahun. Di kala mereka menginjak usia remaja, Wahyu lulus dari bangku menengah kejuru...