Raga Duda? (1)

1K 77 31
                                    

___

Jangan lupa ngaji dan shalawat Nabi 🤍
Tetap jaga iman dan imun 🤍

Senyum dulu dong sebelum baca
Happy Reading!

***

Lelaki pemilik nama Braga Pratama Athaya di usianya yang baru saja menginjak 27 tahun sudah dipercaya sebagai asisten dosen di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta, sekaligus sukses mengelola berbagai bisnis yang ia rintis.

Kendati kerap menjadi sasaran candaan kedua adiknya, Rafa dan Revan, Raga tetap mempertahankan karakter khasnya—tenang, tegas, dan penuh wibawa, sifat yang mengakar kuat dalam dirinya sejak kecil. Pagi ini, ia duduk santai di teras rumah, menikmati secangkir kopi hangat sambil larut dalam halaman-halaman buku yang dibacanya. Dengan kacamata yang bertengger sempurna, pesonanya semakin terpancar, menciptakan aura yang memikat siapa pun yang memandang.

"Bang, gue ada kenalan cewek cakep banget. Mana tau cocok buat lo," ucap Revan yang mendekat ke arah kakak lelakinya yang sedang fokus membaca buku.

"Gak minat," jawab Raga tanpa menoleh ke arah Revan.

"Sampai kapan gak minatnya sih, Bang? Bang Rafa aja udah punya buntut, lah lo masih aja betah sendiri. Emangnya lo nggak pengen punya anak selucu Adhisty?" Revan masih berusaha membuka obrolan.

Raga meletakkan bukunya di atas meja dengan tenang, lalu memandang Revan dengan tatapan yang malas.

"Hidup itu bukan melulu soal menikah, Revan. Masih banyak mimpi dan tujuan yang harus abang raih. Usia 27 tahun belum menikah bukanlah hal yang patut dirisaukan. Soal Rafa yang sudah berkeluarga, itu adalah jalan hidup yang telah digariskan untuknya," ujar Raga sambil menatap lurus ke depan, tatapannya kosong tapi penuh makna.

"Lagi pula, hati ini udah lama mati," gumamnya dalam hati, menyimpan luka yang tak ingin ia bagi.

Revan tertegun mendengar ucapan Raga. Rasa bersalah menghampirinya. Ia mulai sadar bahwa tidak semua orang memiliki keberuntungan seperti Rafa, yang begitu cepat menemukan pasangan hidup dan membangun keluarga yang tampak sempurna.

***

Setelah pulang dari rumah Khafa dan menghabiskan waktu sejenak bermain bersama Adhisty, gadis bernama lengkap Naya Ayura Ningtyas memutuskan untuk pergi ke alun-alun kota. Adiknya sempat mengabari bahwa Alfi, lelaki yang diam-diam ia kagumi, sedang berada di rumah bersama Kinar—sepupunya yang kini telah menjadi istri Alfi. Sejujurnya, hati Naya belum cukup kuat untuk menghadapi kenyataan itu. Maka, ia memilih untuk menjauh, melarikan diri sementara, hingga dirinya merasa siap.

"Gue kok masih patah hati gini sih," ujar Naya sambil menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir dengan deras.

"Gimana sih konsepnya, Nay? Lo sama Kak Alfi dari dulu gak pernah lebih dari teman, tapi liat dia nikah sama yang lain kok lo patah hati gini? Gak lucu banget, Naya. Cinta boleh, tapi jangan berlarut-larut sedih gini dong. Bego banget!"

Naya terus meratapi diri sendiri sambil terisak pelan. Ia tak peduli pada tatapan orang-orang yang kini tertuju padanya. Bagi Naya, yang terpenting adalah melepaskan beban di hatinya, meski itu berarti harus menyalahkan dirinya sendiri.

"Kamu gila?"

Pertanyaan yang dilontarkan seseorang membuat Naya mendongak, matanya terbelalak, dan ia langsung mengusap air matanya dengan kasar.

"Nangis di tempat umum. Kamu nggak punya tempat privacy untuk menangis?"

"Ck! Bukan urusan lo, Raga!"

"Gak punya malu," cibir Raga sambil melipat tangannya di depan dada.

Naya yang mendengar cibiran itu langsung bangkit, menatap Raga dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah. Namun, Raga tidak sedikit pun gentar. Tatapannya masih penuh ejekan, seolah menantang.

"Gue udah sering bilang ke lo, Raga. Lo tuh gak ngerti apa itu jatuh cinta dan patah hati. Jadi, lo gak bakal pernah bisa merasakan apa yang gue rasain sekarang," kata Naya penuh emosi.

"Oh, lo nangis gak jelas gini cuma gara-gara patah hati?" Raga bertanya dengan nada mengejek.

"Kalau iya kenapa?" tanya Naya dengan melotot horor.

"Gara-gara cinta kamu sampai segini, Naya. Saya gak nyangka," ujar Raga dengan tatapan datar.

"Nangis itu wajar dan manusiawi, Raga! Sekali lagi gue ingetin sama lo, kalau lo itu gak pernah namanya jatuh cinta. Jadi, gue pastikan lo gak bakal ngerti," ucap Naya dengan geram.

Raga memandang Naya dengan tatapan datar. Sebenarnya, ia tidak begitu menyukai perempuan yang terlalu berisik seperti Naya saat ini. Namun, entah kenapa, ada rasa kesal yang membara dalam dirinya setiap kali ia diam dan tidak menanggapi ucapan Naya.

"Saya pernah jatuh cinta, Naya!"

"Masa?" tanya Naya tak yakin.

"Bahkan, saya juga pernah menikah."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Raga, membuat mata Naya terbelalak lebar. Tanpa sadar, rahasia terdalam lelaki itu terlontar begitu saja.
Sekejap setelahnya, Naya tertawa keras, seolah tak percaya. Ia yakin betul bahwa Raga sedang berbohong.

"Hahahaha, lo gak usah bohong, Raga! Gue tahu, lo tuh jomblo dari lahir, jadi jangan pamer cerita halu soal pernah nikah."

Raga mendengkus kesal, geram mendengar kata-kata Naya. Tanpa banyak kata, ia mempersempit jarak di antara mereka, menghadirkan aroma tubuhnya yang langsung menyeruak ke indera penciuman Naya.

"Saya sudah menikah sekaligus bercerai setahun yang lalu, Naya. Kamu lah orang pertama yang tahu akan hal ini. Bahkan, keluarga saya sama sekali tidak tahu akan hal tersebut," ujar Raga dengan sorot mata tajam.

Naya mendorong tubuh Raga agar menjauh darinya. Kemudian, Naya menatap lekat lelaki tersebut untuk mencari kebohongan dari ucapan Raga barusan. Namun, Naya tidak menemukannya.

"Kok bisa?"

"Ya, bisa aja," jawab Raga enteng.

"Lo nikah siri?"

"Ya."

"Kenapa?" tanya Naya penasaran.

"Kita gak sedekat itu, Naya untuk saya menceritakan rahasia terbesar saya ini secara detail. Saya harap kamu bisa tutup mulut!"

Raga berujar dengan nada dingin sekaligus datar. Ketika Naya akan membuka mulutnya untuk berbicara kembali. Raga langsung berbalik badan lalu meninggalkan perempuan tersebut begitu saja.

"Jangan buat gue penasaran, Raga!" teriak Naya dengan kesal.

Rahasia Hati Braga (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang