Keinginan

295 30 60
                                    

Xavier
Hai ^^

Bagaimana harimu?

Julian menatap layar handphonenya selama beberapa menit. Dia mulai menggerakkan jari-jemarinya susah payah demi mengetikkan balasan untuk dokter yang sibuk di rumah sakit.

Biasa saja

Setelah Julian membalas pesannya, dengan cepat pesan itu dibaca oleh Xavier. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu balasan dari pria tersebut.

Xavier
Jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu ya.

Apalagi tanganmu belum sembuh, kuharap kamu tidak melakukan aktivitas yang berat.

Julian mendengus karena pria itu masih saja memedulikannya. Setelah pertemuan mereka di taman, Xavier sempat meminta nomor kontaknya supaya mereka tetap saling berkomunikasi. Awalnya Julian ingin menolak permintaannya, tetapi ia merasa tidak sanggup melakukannya karena Xavier sudah memasang ekspresi layaknya Golden Retriever. Anjing itu sangat menggemaskan menurut Julian, jadi ia tidak bisa mengelak permintaan Xavier.

Lagipula dia sendiri menyukai obrolannya dengan Xavier. Meskipun Julian jarang bercerita, tapi ia menyukai apapun yang Xavier kirim melalui chatroom mereka. Contohnya seperti foto kucing yang sedang makan, obrolan Xavier yang ingin pergi ke laut menikmati udara disana, dan kegiatannya saat bekerja.

"Kau sedang mengirim pesan pada siapa?" tanya Yin penasaran.

Julian terkejut mengetahui Yin ingin mengintip isi pesannya pada Xavier dari belakang. Dia menoleh kearah Yin dan menyipitkan matanya tidak suka.

"Rahasia."

Yin memiringkan kepalanya karena merasa Julian bersikap tidak biasa. "Kau sedang dekat dengan seseorang?"

Julian memilih diam.

Lelaki dengan surai cerahnya seperti cahaya mentari itu hanya mendesah sambil menatap temannya.

"Baiklah. Aku tidak akan mengganggu."

Julian merasa waswas karena Yin berkata seperti itu sedangkan sebelumnya lelaki dengan rambut terkepang ini sempat mengintip isi handphonenya.

Keduanya sedang menunggu Melissa yang sedang berbelanja di minimarket. Sebuah kebiasaan mereka setiap pulang sekolah yakni membeli es krim setelah mengalami cuaca panas yang menyengat. Sembari menunggu Melissa, Julian menyempatkan dirinya mengobrol dengan Xavier. Mungkin pria itu sedang istirahat makanya bisa menghubungi Julian.

"Teman-teman, aku sudah membeli es krimnya. Kalian cepat-cepat makan ya sebelum mencair!" seru Melissa keluar dari minimarket sambil membawa kantung berukuran sedang.

"Enak banget sore-sore makan es krim." gumam Yin seraya mengambil es krim rasa vanilla melalui kantung belanja milik Melissa dan menyantapnya.

"Julian, bagaimana kondisi tanganmu?" tanya Melissa sambil membuka bungkus es krim rasa semangka kemudian memberikannya pada Julian.

Julian menerimanya sambil menggumamkan kalimat terima kasih sebelum menggigit ujung es krimnya. Dia melirik tangannya yang masih terbalut oleh gips.

"Dokter bilang aku tidak boleh beraktivitas berlebihan." jawabnya singkat. Dia mengingat kembali kalau Xavier sempat mengingatkannya serupa. "Padahal aku merasa tanganku baik-baik saja."

"Ck! Itu kan menurutmu." celoteh Melissa sambil membuka tutup kaleng berisi cola dingin. "Tapi, menurut dokter. Kau ini belum sembuh."

Julian hanya menggumam tidak jelas sambil melangkah pulang bersama kedua teman-temannya. Sebentar lagi akan memasuki ujian tengah semester dan ketiganya sering belajar bersama. Yin berinisiatif untuk belajar di rumah Julian sekaligus mengawasi temannya yang cuek ini agar tidak membakar dapur lagi. Melissa merasa setuju mendengar usulan Yin, jadi ia langsung mengikutinya. Sementara Julian memilih diam dan membiarkan saja melakukan apa yang mereka mau.

Bittersweet Relationship Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang