Bab 11 | Terlambat Sudah

52 8 0
                                    

Selamat Membaca Kisah
Perjalanan Mereka

Now Playing : Hanin Dhiya - Terlambat Sudah

***

Bab 11 |  Terlambat Sudah

Mendengarkan adalah kunci dimana mereka seseorang bisa selamat dari marabahaya jadi berhati-hatilah kala mendengar jangan salah tanggap

***

Mereka akhirnya menikmati perjalanan menuju ke tempat kerjanya Wahyu,  sebenarnya Wahyu agak tidak sanggup untuk bekerja hari ini. Tapi kalau ia tidak bekerja maka ia akan di marahi sama Ibu, karena ini demi kepentingan Iqbal yang sebentar lagi akan mengharumkan nama baik keluarga, sekolah dan lembaga pemerintah. Wahyu akan turun senang karena kerja kerasnya terbayarkan dengan kesuksesan sang adik.

Hawa di badannya mulai di rasa tidak enak, dan sekarang malah di tambah dengan angin yang sedang ia terjang. Itu malah akan menambah rasa sakit yang sedang ia derita sekarang, namun bagaimanapun ia tidak boleh sakit apalagi di depan sang adik. Akhirnya perjalanan mereka sampai dan disana satu per satu turun namun sebelum masuk Wahyu menepuk pundak sang Adik.

"Bal, beliin cemilan di supermarket depan,"

Iqbal langsung semangat kalau sudah membahas makanan atau cemilan "Wokeh bang, sini uangnya,"

"Nih. Beli nya terserah kamu, intinya bebas apa aja," tutur Wahyu yang langsung di angguki Iqbal.

Kala Wahyu mulai berjalan masuk ke gerai fotocopy tumbuhnya hampir limbung akan tetapi ia dengan cepat memegang ke etalase kaca disana, berharap menyeimbangkan badannya agar tidak jatuh menyentuh tanah. Disana Yedam dan Shino melihat gelagat aneh Wahyu sampai mereka tidak sempat bicara dan membantu Wahyu buat duduk.

"Lo sakit Yu?" tanya Bang Yedam memastikan.

Mas Shino langsung menyentuh kening Wahyu dan ternyata suhu badannya panas. "Kalo sakit kenapa kesini? Katanya mau istirahat." Mas Shino memberikan ceramah kepadanya.

"Gue gapapa kok," jawabnya baik-baik saja walaupun mukanya mulai memerah karena suhu di badannya.

"Iqbal gak tahu kalo lo sakit," ujar Mas Shino dan langsung di jawab dengan gelengan kepala.

"Kalo gitu. Lebih baik lo minum obat kebetulan gue bawa persediaan obat, tapi di rumah apa lo sudah makan." Wahyu menjawab dengan anggukan karena tidak kuat menahan panasnya badan.

"Ya sudah mending minum obat. Lalu lo mending istirahat dekat komputer deh, biar adek lo gak curiga."

"Gak Mas, gitu sama aja. Gue gapapa bantu kalian anggap saja semuanya baik-baik," ucap Wahyu yang membuat Mas Shino tidak bisa berbuat apa-apa karena keburu ada pembeli yang memerlukan jasanya.

"Ya sudah mending lo bagian di komputer aja, ya. Masalah ini bjar gue yang urus," titah Yedam yang langsung di angguki Wahyu.

Beberapa menit kemudian Iqbal datang dengan membawa cemilan yang banyak, jadi ia sengaja membiarkan Iqbal pergi dulu ke supermarket agar Wahyu bisa beristirahat walaupun beberapa menit sampai efek obatnya bekerja. Ia mulai duduk dan menyalami satu persatu teman abangnya itu. Iqbal cuma tahu nama dan wajah kedua teman Wahyu jadi untuk masalah sifat Iqbal tidak tahu.

"Widih bawa banyak makanan nih," sorak Yedam yang begitu gembira.

"Iya nih. Tapi ini semua pake uang Abang gue bang. Kalo pake uang Iqbal mah mana punya coba?" Begitulah Iqbal selalu bisa berbaur dengan orang yang jarang pernah ia temui.

"Kan lo masih sekolah, belajar yang pinter. Kalo sudah pinter nanti kuliah dan kerja dan uangnya baru bisa Lo pake apapun sesuka hati lo," ujar Mas Shino menasehati.

"Tuh dengerin apa kata senior," ledek Wahyu yang menyindir Yedam.

"Alah Yu, bukannya ini menyindir lo juga kan," ucap Yedam tidak terima.

"Gue mah gak baperan kayak lo yah,"

"Iya deh iya."

"Syut kenapa malah ribut sih. Tuh makanannya mubazir kalo gak dimakan, nanti nangis terus balas dendam di alam mimpi terus di eksekusi gimana,"

Semua menatap Mas Shino dengan tatapan bingung seolah seorang Mas Shino mendapatkan kata-kata seperti itu." Mas ngomong apa?"

Sambil menghela napasnya "biasalah jokes bapak-bapak gak guna,"

Memang di antara mereka yang ada disini. Mas Shino adalah seorang laki-laki beranak satu satu ia menikah dan langsung di karuniai anak yang sangat lucu berjenis kelamin perempuan, jadi tidak jarang gara-gara keseringan isengin sang anak gara-gara jokes membuat lupa bahwa dirinya sedang berada bersama anak-anak remaja.

"Kita lanjut makan aja yuk,"

🎓🎓🎓

"Mas, Bang. Iqbal mana?"

Memang tadi pekerjaan mereka terlalu sibuk hingga melupakan satu sama lain bahkan Wahyu saja lupa sama sang adik yang menghilang dari pandangan matanya.

"Katanya keluar bentar tapi kok gak balik-balik," jawab Bang Yedam yang mulai khawatir.

"Kalo gitu Wahyu cari dulu. Kalo Mas sama Abang mau tutup silahkan, Wahyu juga mau pulang setelah ketemu sama Iqbal." Wahyu bergegas menaiki motornya dan mulai mencari keberadaan sang adik.

Sementara di tempat lain Iqbal yang sudah selesai jalan-jalan sebentar tidak sengaja melewati jalan yang sepi. Jalan yang memang terkenal dengan para begal dan preman jalanan, memang tadi jalanan ini masih banyak orang yang lalu lalang tapi baru sebentar saja tempat ini sudah sepi. Harusnya tadi ia tidak boleh jauh-jauh dari sang Abang, inilah akibatnya kalau tidak menuruti perkataan Ibu dan abangnya.

Iqbal berusaha mencari jalan alternatif agar tidak melewati jalan itu, namun itu adalah satu-satunya jalan untuk sampai ke sana. Dan mau tidak mau Iqbal terpaksa melewati jalan itu dan matanya tidak lepas dari pandangan kanan dan kiri, dalam hatinya terus berdoa agar jauhkan dari marabahaya.

Ia melihat beberapa langkah lagi ia akan menemukan pemukiman rumah yang sangat ramai, jadi ia harus cepat-cepat sebelum semuanya terlambat. Namun hingga satu langkah lagi keluar dari tempat itu. Datanglah 2 sosok pria berbadan besar dengan tato naga di ototnya keluar dari persembunyiannya karena melihat mangsa yang sedang sendirian tanpa penjagaan banyak orang-orang.

Iqbal sontak terkejut dan langsung menjatuhkan dirinya ke aspal, tidak peduli rasa sakit dan kotornya tempat ini yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya ia bisa lolos dari tempat ini.

"Mau kemana kau, jangan takut kami gak akan sakiti kamu," ujar salah satu pria itu.

"Gak. Jangan mendekat," pekik Iqbal ketakutan.

"Hei...hei, kami gak ngapa-ngapain kamu. Kok asal kamu mau cari aman, jadi serahkan semua barang-barang kamu," pinta salah satu pria yang lain.

Iqbal tidak punya apa-apa sekarang kecuali ponsel yang merupakan hasil jerih payah sang ayah demi kepentingan ia di sekolah. Ia tidak bisa memberikannya, kalau ia memberikannya maka bagaimana cara ia berkomunikasi dan mendapatkan informasi di sekolah. Jadi lebih baik ia akan tetap kekeh sama barang yang ia punya sekarang.

"Ayo sini serahkan barang kamu." nada lemah lembut masih mereka gunakan, namun Iqbal menggelengkan kepalanya tidak mau hingga raut muka mereka berubah dari awalnya ramah dan bersahabat kini berubah marah dan emosi.

***

Tbc

Yeyeyeyeye akhirnya Lis bisa up lagi. Maafkan Lis yang gak bisa up beberapa hari belakangan ini karena jujur Lis butuh referensi agar cerita ini bisa sampai ke hati kalian dengan rasa yang cukup mendalam. Mudah-mudahan agar bisa melakukan itu ke Kalian semua.

Jangan lupa vote and coment 👧
Tinggalkan Jejak 👣

Lis_author

BBS [5] Wahyu Iqbal ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang