Bab 23 | Takut Kehilangan

61 6 0
                                    

Selamat Membaca Kisah
Perjalanan Mereka

Now Playing : Repvblik - Aku Takut

***

Bab 23 | Takut Kehilangan

Itu semua adalah rumus dalam kehidupan dunia dimana semua ada pertemuan di situ ada perpisahan

***

"Lho Dian, mana?" tanya Farid yang baru selesai menelepon Ibunya.

"Ke rumah orang tua gue, Iqbal tadi telpon pasti ia kangen. Mungkin," jawabnya biasa.

"Dia nanyain lo?"

Wahyu mengangguk. Karena pasti Iqbal tidak akan rindu kepadanya karena kebencian dan rasa kecewanya lebih besar daripada rasa sayangnya jadi lebih baik ia menghubungi kedua orang tuanya lewat sahabatnya daripada harus lewat sang Abang yang hampir saja menghilangkan Harapan satu-satunya.

"Lama-lama gue kesel sama adek lo, apa yang lo lakukan ini sia-sia dong," kesal Farid.

"Gapapa. Biarkan lah,"

"Oh ya tadi kata nyokap gue, lo mau gak ikut ke acara gue," ajak Farid.

"Acara apaan?"

"Acara ultah gue lah. Masa lo lupa? Apa emang lo beneran lupa,"

"Bukannya ultah lo bulan depan?"

Farid mendorong bahu Wahyu dengan bercanda. "Itu mah ultah lo bulan depan, sebenarnya ultah gue sih besok tapi karena kata nyokap gue lahirnya pas jam 12 malam jadinya mau nya sekarang. Kan pas sekolah biasanya di rayain pas siangnya bukan malam hari, tapi sekarang mereka maunya beda,"

"Oh gitu. Happy birthday Farid,"

"Belum waktunya Wahyu...."

Setelah itu Farid langsung mengajak Wahyu menuju rumahnya. Ternyata benar rumahnya sedang didekorasi dengan balon-balon dan hiasan penunjang pesta lainnya. Setelah itu Farid malah mengajaknya menuju kamar pribadinya lalu Farid menyiapkan baju spesial buatnya.

"Apa ini gak berlebihan Farid," ucapnya tidak enak.

"Enggak sekarang lo pake aja ya."

Wahyu menurutinya dan lalu setelah bersih-bersih dan mengenakan pakaian yang tadi disiapkan sahabat. Lalu Wahyu keluar dan melihat semuanya selesai dengan cepat tinggal menghitung jam.

"Widih ultah lo keren amat," kagum Wahyu.

"Menurut gue ini berlebihan. Harusnya sih sederhana aja dengan mengundang anak yatim," ucapnya setengah hati.

"Tapi sesekali lah biar jadi kenangan kalo lo kangen sama gue nah tanggal dan hari ini lo bisa mengingatnya."

"Kok lo tiba-tiba ngomong gitu." Farid melihat perubahan sikap dari Wahyu seolah berbeda dari biasanya.

"Gak tahu nih belakang ini gue sering linglung, dan lupa gitu," jelas Wahyu.

Tiba-tiba Farid mengalihkan pembicaraan. "Nah kalo lo lapar bisa langsung ambil sana gue mau telpon seseorang dulu,"

Sambil menunggu acaranya di mulai makanan sudah tersedia disana, terlihat makanan itu enak di lihat dan nikmat, karena memang sudah dipersilahkan untuk memakan makanan tersebut hingga  saat makanan itu masuk ke mulutnya tiba-tiba rasa mual muncul hingga Wahyu menghentikan aksinya.

"Huek,"

Tanpa Wahyu minta ia langsung berlari dan langsung meninggalkan tempat itu dan menuju toilet. Tanpa Wahyu sadari ada Farid melihat sahabatnya itu.

BBS [5] Wahyu Iqbal ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang