"Bukannya Heris udah pindah keluar negeri ya, Pa?" Thaka masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang ia dengar dari papanya itu.
"Papa gak tau juga, kenapa dia bisa ada di Indonesia lagi, ditambah berkeliaran di luar sekitar mansion kita. Itu sebab nya Papa gak izinin Gara jadi barista dan kerja di cafe, Tha. Karna cafe itu tempat tongkrongan anak-anak muda termasuk Heris. Papa gak mau kalo Gara sampai ketemu sama Heris. Papa khawatir adik kamu di celakain lagi sama dia," Balas Adrhan dengan raut wajah sarat akan kekhawatiran.
"Papa gak usah terlalu khawatir. Thaka gak akan biarin itu terjadi. Nanti kita 'kan juga bisa suruh bodyguard untuk jaga Gara selama dia berada di luar.."
Drrrrtt.. drrrrtt.. drrrrtt
Obrolan mereka terhenti saat terdengar suara dari ponsel Adryan yang bergetar menandakan panggilan masuk. Adryan lantas mengeluarkan ponsel itu dari saku jasnya, kemudian mengangkat panggilan telepon dari putranya yang lain. Siapa lagi kalau bukan si Shino.
"Halo, Assalamualaikum. Kenapa Shin?"
"Wa'alaikumsalam.. papa dimana? Kok belum ada di kantor? Sebentar lagi kan ada meeting"
"Papa masih di mansion. Adik kamu tiba-tiba drop. Jadi kayaknya papa gak bisa ke kantor. Kamu tolong gantiin papa mimpin meetingnya, ya, bisa 'kan?"
"Bisa aja sih, pa. Tapi kenapa Gara bisa ngedrop? terus keadaan Gara sekarang gimana, pa? Padahal tadi pagi dia oke oke aja. Kenapa jadi tiba-tiba ngedrop?"
"Adik kamu gak apa-apa, dia cuma demam. Di mansion ada oma, om dan tante kamu juga mereka baru datang tadi. Makanya papa gak bisa ke kantor. Masa mereka baru datang tapi malah papa tinggal, 'kan gak enak."
"Lah mereka di indo? Kok gak bilang-bilang?!"
"Sebenarnya om kamu udah bilang ke papa dari beberapa hari yang lalu, kalo mereka mau ke indonesia tapi papa aja yang lupa kasih tau ke kalian,"
Terdengar dari seberang sana Shino ber 'oh' ria untuk membalas penjelasan dari papanya itu.
"Kamu beneran bisa sendiri? Butuh bantuan nggak? Kalo butuh bantuan nanti papa suruh Thaka ke kantor,"
"Gak usah, Pa. Shino bisa kok sendiri. Lagian hari ini 'kan Kamis, pulang kerja nya cepat jadi gak masalah hehe."
"Iya, kalo memang nanti kerjaannya udah selesai, dicepatkan aja jam pulang nya.. nggak apa-apa."
"Beneran,pa?"
"Iya."
"Wokeh deh.. mantab! Kalo gitu Shino tutup ya telpon nya, pa.. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam."
Adryan lantas memasukkan kembali handphone nya ke saku jas."Shino beneran bisa sendiri, Pa?" Tanya Thaka.
"Katanya sih bisa. Kita percayakan aja pekerjaan di perusahaan hari ini ke kembaranmu. Papa pengin lihat dia bisa menghandle semuanya atau enggak. Karena selama ini Shino kayak gak serius kerja di perusahaan." Jawab Adryan.
"Itu karna memang dari awal Shino gak mau kerja di kantor, Pa. Dia lebih senang kerja di cafe.. "
"Dan itu dia tularkan ke adeknya. Makanya Gara jadi ikut-ikutan pengen kerja di cafe juga!" Celetuk Adryan memotong kalimat Thaka.
"Izinin aja lah, Pa. Namanya juga anak muda." Bujuk Thaka.
"Nanti Papa pikirin dulu." Balas Adryan.

KAMU SEDANG MEMBACA
About Gara
General FictionTentang Gara menghadapi kekurangan dan kelemahan nya. 📢 Warning! - Ini cuma cerita fiksi ya! Jadi jangan terlalu dianggap serius! Buat hiburan aja! Ambil sisi baik nya, buang sisi buruk nya, okey! 💙😽