Julian memalingkan mukanya dengan raut kecewa. Dia sudah mendengar alasan Xavier mengunjunginya dan ia merasa tidak suka.
"Tapi, aku membencimu."
"!"
Kelopak mata Xavier terbuka lebar, ia terduduk dengan pikiran berkecamuk. Jantungnya berdebar begitu cepat mengingat ekspresi kecewa Julian sangat membekas. Mendadak pening menyerang kepalanya karena ia terbangun secara tiba-tiba. Sesuatu terjatuh di atas pahanya yang tak lain merupakan washlap basah.
Ah, hanya mimpi.
"Kau sudah bangun?"
Xavier menoleh ke samping dan mendapati Julian sedang berjongkok sambil menatapnya lurus. Dia baru menyadari bahwa dirinya masih berada di rumah Julian. Duduk di atas sofa panjangnya dengan selimut di tubuhnya.
Xavier bertanya-tanya mengapa ia masih berada disini.
"Kau mengalami demam." terang Julian menjawab kebingungannya Xavier. "Aku meminta Yin untuk datang membantuku. Jadi, aku mengawasimu sepanjang malam agar kau tidak passed out."
Kalau diperhatikan, mata Julian seperti mata panda karena kantung matanya menghitam. Xavier tersenyum tipis. Dia merasa bersalah karena telah membuat Julian menjaganya.
"Aku pasti telah merepotk--"
Belum sempat Xavier menyelesaikan ucapannya, tangan Julian sudah mendarat di keningnya. Hal itu mengejutkan Xavier sampai pria itu tidak berkata-kata.
Sementara di sisi lain, Julian sedang memastikan suhu tubuh Xavier tidak setinggi malam kemarin. Dia sampai panik merasakan bahunya memanas akibat demam yang Xavier miliki. Berhubung tangannya masih di gips, tentu saja ia langsung menghubungi Yin untuk membantunya merawat Xavier.
"Sepertinya sudah tidak sepanas kemarin, tapi sebaiknya kau beristirahat dan mengambil cuti hari ini." Julian menarik kembali tangannya setelah meraih washlap yang sempat dikompresnya pada kening Xavier.
Xavier tersenyum masam. "Apakah aku terlihat menyedihkan?"
Julian mengurungkan niatnya untuk beranjak. Dia memiringkan kepalanya sambil berpikir sejenak.
"Justru aku merasa aneh karena melihat seorang dokter jatuh sakit."
Xavier terkekeh. Perkataan Julian tidaklah salah. "Tapi, aku juga manusia."
Julian mengangguk-angguk. "Benar juga, karena kau manusia tentu bisa mengalami sakit."
Setelah itu tak ada obrolan lagi, Xavier terdiam sambil memandang Julian yang memunggunginya. Dia tidak terpikir kalau ia akan jatuh sakit setelah menemui Julian. Mendadak ia merasa malu karena sebagai orang dewasa telah menunjukkan sisi seperti ini.
Pria itu berniat memanggil Julian dengan memegang bahunya. "Julian."
"Uh, Xavier.."
Alis Xavier terangkat karena Julian tiba-tiba menoleh kearahnya. Keduanya terdiam lagi karena posisi mereka saling bersitatap itu sangat dekat. Julian bisa merasakan deru nafas Xavier yang hangat terhembus ke wajahnya.
"Kau ingin bilang sesuatu?" tanya Julian salah tingkah. Dia orang yang pertama mengalihkan pandangannya.
"Aku ingin meminta nomor Yin karena ingin mengucapkan terima kasih." lanjut Xavier berusaha bersikap tenang.
"Aku akan menyampaikannya sendiri pada orangnya."
Xavier mendengus kecil. "Tidak sopan."
Julian mengabaikannya, tidak memedulikan celetukan Xavier yang memang benar adanya. Dia bukannya tidak mau memberikan nomor kontak Yin pada Xavier, hanya saja mulut temannya itu bagaikan ember bocor dan Julian hanya ingin mencegah kejadian Yin membicarakan hal yang tidak perlu pada Xavier.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Relationship
AcakSinopsis: Karena kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya, Julian mengenal Xavier. Pria dewasa itu menawarkannya untuk tinggal bersama. Membuat tawaran hingga mereka menjadi sebuah keluarga. Namun seiring waktu berjalan. Julian memutuskan untuk...