"Apapun heronya, ban Nana!"
"Eh, jangan dong! Aku mau pake!!"
"Bodo amat! Itu hero haram!"
Perdebatan itu terus berlanjut setelah Yin membanned hero Nana. Hero itu sangat menjengkelkan kalau dipakai musuh, apalagi yang benar-benar bisa memainkannya. Sudahlah, Yin memilih surrender saja.
Wanwan mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Kalau begini ia harus mengambil hero yang lain untuk draft pick. Dia langsung memukul punggung Yin dengan keras. Otomatis, lelaki itu langsung mengerang kesakitan.
"Kalian tidak pulang?" tanya Melissa memasuki kelas yang mulai lengang. Sekolah telah berakhir menyisakan Julian, Yin, Wanwan dan beberapa murid yang masih menetap di kelas.
"Sebentar, mau push rank!" seru Yin yang sudah terlanjur asyik dengan gamesnya. Wanwan mengangguk menyetujui. Soalnya mereka sedang ingin bermain mumpung squad mereka sedang online semua.
Julian mengambil tempat duduk sedikit jauh dikarenakan Yin dan Wanwan akan bermain. Bisa dipastikan keduanya akan sangat berisik dan mengganggu dirinya yang sedang membuat sketsa. Sebenarnya ia ingin sekali ke rooftop menikmati udara disana sambil menggambar, tetapi musimnya juga sedang tidak mendukung.
"Julian, kamu juga tidak pulang?" tanya Melissa seraya menghampirinya.
"Aku tidak bawa payung."
"Hee?"
"Diluar sedang hujan." lanjut Julian sambil menunjuk jendela kelas. Melissa mengikuti arah jari telunjuknya. Perkataan Julian tidaklah salah, langit mulai mendung dan beberapa tetes hujan mulai turun.
"Habis darimana?" tanyanya balik pada Melissa yang belum juga pulang.
"Aku habis dipanggil bu Esmeralda karena melamun di kelas tadi." jawab Melissa sambil meringis malu.
Julian berganti memandang lurus pada Melissa. Mengenal watak Melissa selama ini, Julian sedikit bertanya-tanya mengapa temannya ini sampai dipanggil oleh guru. Untuk seorang Melissa yang sangat tekun dan merupakan pelajar yang baik, melamun di kelas bukanlah dalam kamusnya. Maka dari itu, Julian merasa heran.
"Aishh! Jangan menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja." Melissa menepuk bahu Julian sambil tersenyum lebar. "Hanya ada sedikit masalah di rumah, aku bisa mengatasinya."
Rumah. Julian bisa memahami perkataan Melissa karena keluarga gadis ini cukup... berantakan. Melissa punya saudari dan ibu tiri yang cukup menjengkelkan. Mereka pasti mengganggu Melissa lagi yang memang telah lama kehilangan ibu kandungnya.
Memikirkan hal tersebut, Julian jadi teringat bahwa situasi yang dialami Melissa dan Xavier cukup serupa, yaitu kehilangan ibu. Yang membedakan keduanya mungkin karena Xavier sudah dewasa dan bisa mencari uang sendiri, pria itu tidak perlu tinggal lagi bersama orangtuanya.
Hidup sebagai anak remaja tanpa orangtua memang sulit. Julian saja masih beradaptasi tinggal sendirian. Mungkin setelah lulus dan melanjutkan kuliah, dia harus mencari pekerjaan demi membuat uang saku untuknya sendiri.
"Aku tahu kau sanggup mengatasinya." Julian kembali memokuskan dirinya menyoretkan sketsa pada buku gambarnya. "Tapi, jangan lupa kalau aku dan Yin selalu ada untukmu."
"Aww! Perhatiannya.." Melissa langsung memeluk erat Julian sambil mengusap-usap kepalanya. Dia merasa tersanjung karena Julian diam-diam masih memedulikannya.
Julian tak menghindar ketika Melissa mengusap-usap kepalanya. Dia memberi pengecualian untuk orang-orang tertentu yang boleh menyentuhnya. Teman-temannya dan Xavier. Selebihnya, jika ada orang lain yang ingin berniat mendekatinya. Julian akan bersiaga memukul orang tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Relationship
AcakSinopsis: Karena kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya, Julian mengenal Xavier. Pria dewasa itu menawarkannya untuk tinggal bersama. Membuat tawaran hingga mereka menjadi sebuah keluarga. Namun seiring waktu berjalan. Julian memutuskan untuk...