Xavier yang mengusulkan tinggal bersama itu berhasil membuatnya merasa betah di tempat tinggalnya.
Julian merasa resah.
Karena pria itu terang-terangan mengatakan kalau ia ingin memanjakannya
Dan Xavier benar-benar melakukan apa yang diucapkannya.
Contohnya seperti Julian yangyang tidak sengaja ketiduran saat mengerjakan PRnya di ruang tamu. Lalu bangun-bangun ia menemukan dirinya tertidur dengan berbantalkan paha Xavier. Tak hanya itu, saat ia merasa tidak enak badan Xavier pasti akan membuatnya terbaring seperti orang pesakitan sungguhan.
Terkadang Julian merasa serba salah pada Xavier yang benar-benar tulus memerlakukannya seistimewa itu.
Terlalu baik, pikir Julian sambil merapihkan buku-bukunya yang telah ia baca. Dia beranjak dari ruang tamu menuju kamar tidur milik Xavier. Julian telah memutuskan untuk sepenuhnya tinggal di rumah pria ini dikarenakan suasananya sangat nyaman. Apalagi rumah Xavier memiliki sekat glass door menuju halaman yang membuatnya betah duduk di lantai sambil mengamati hujan turun dari dalam.
Sampai gips tangan Julian dinyatakan boleh di lepas, ia bisa dengan leluasa melakukan apapun. Xavier yang menemaninya ke rumah sakit kontan mengucapkan selamat untuknya. Tak lupa tangan besar itu akan mengacak-acak rambut merahnya sambil memperlihatkan senyuman hangat.
Sesederhana itu dan Julian merasa senang.
Ia terpaku di tempat melihat Xavier tertidur di atas ranjangnya dengan laptop terbuka. Begitu banyak file dan dokumen pasien menumpuk di meja lelaki tersebut.
Karena mereka mulai tinggal bersama, Julian seringkali menemukan Xavier ketiduran dalam keadaan berantakan seperti ini. Tidak hanya di kamarnya, kadang ia akan menemukan Xavier ketiduran di sofa ruang tamu bahkan di meja bar pantry. Julian berpikir kalau aktivitas dokter itu sungguh berat. Xavier pasti kelelahan sampai dengan mudahnya tertidur di tempat manapun.
Julian merapihkan dokumen milik Xavier ke nakas tempat tidur dan meletakkan laptopnya juga disana. Setelah itu, ia meraih selimut dari ujung ranjang untuk pria ini. Dengan perlahan, ia menyelimuti Xavier agar pria itu tidak kedinginan.
"Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, Julian."
Perkataan Xavier sebelumnya terngiang-ngiang dalam pikirannya, Julian mendengus lalu menyentil kening pria itu secara ringan. Hal itu sempat membuat Xavier mengerinyit karena merasa tidurnya diganggu.
"Kamu sendiri juga tidak sadar kalau kamu terlalu keras pada dirimu sendiri." Julian menggumam sebelum pergi meninggalkannya beristirahat.
Tak lama setelah Julian keluar, kelopak mata sang dokter terbuka. Dia sudah terjaga saat merasakan Julian menyelimuti dirinya.
Jemari Xavier memegang keningnya, tempat dimana Julian sempat menyentilnya secara pelan. Masih dengan posisi berbaringnya, ia mendengus pelan mendengar Julian mengembalikan kata-katanya mengenai ia terlalu keras pada dirinya sendiri. Tak menyadari kalau ujung telinganya memerah hingga menjalar ke lehernya.
Xavier merasa tersentuh kalau remaja itu mulai memedulikannya.
Mungkin. Hanya mungkin. Xavier telah membuat Julian membuka hati pada dirinya dan pelan-pelan mulai menunjukkan perhatiannya.
Pasti manis sekali, ratap Xavier sedikit menyesal karena ia tidak bisa melihat ekspresi Julian saat menyentil dirinya.
×××
Hari itu ia ingin membuat kedua orang tuanya senang, jadi ia membelikan tiga tiket ke restoran keluarga. Mendengar hal itu, Terizla dan Anne sangat bangga padanya lalu memutuskan untuk berangkat malam hari. Ia ingat saat itu ayahnya mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ibunya tengah tersenyum dan sesekali menengok kearahnya. Dia memiliki ayah dan ibu yang sangat menyayanginya. Julian memang jarang mengekspresikan perasaannya, tapi ia sungguh bahagia.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Relationship
RandomSinopsis: Karena kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya, Julian mengenal Xavier. Pria dewasa itu menawarkannya untuk tinggal bersama. Membuat tawaran hingga mereka menjadi sebuah keluarga. Namun seiring waktu berjalan. Julian memutuskan untuk...