Jalan raya Seoul tidak pernah sepi. Saat Yerim memandang ke luar jendela, ia bisa melihat banyak orang yang lalu-lalang. Walau mobil yang dikendarainya melaju dengan kecepatan tinggi, paling tidak ia bisa melihat satu atau dua orang selagi dalam perjalanan. Punggungnya ia sandarkan pada kursi, walau menurutnya benda itu tak begitu nyaman. Namun tak masalah, ia hanya ingin beristirahat dari segala dinamika yang terjadi malam ini.
"Kau pusing?"
Setelah beberapa saat berkendara tanpa suara, akhirnya si pengemudi berbicara juga. Sesekali ia menoleh ke arah Yerim, ingin melihat bagaimana kondisinya.
"Kalau begitu menginap saja malam ini."
"Iya," Yerim menjawab seadanya, ia bahkan tidak menoleh.
"Kau minum cukup banyak, ya?"
"Iya. Karena kau membuatku menunggu terlalu lama."
Ada implikasi tuduhan dan pelimpahan kesalahan, si pengemudi tersenyum miris karena merasa bersalah.
"Kita bahas itu setelah sampai di rumah, maafkan aku, ya?"
Yerim tidak memberikan respons yang berarti kecuali mengangkat bahunya. Dia mungkin terlalu lelah. Bisa saja kepalanya berat karena ia mulai merasakan efek minuman keras. Tetapi dia sadar, kalau permintaan maaf telah ia dengar. Itu bukan sesuatu yang sering terjadi. Tetapi apresiasi tidak akan diberikan, anggap saja mereka impas.
Mobil berhenti pelan-pelan, Yerim mendapati sebuah swalayan di hadapannya. Dia otomatis menoleh, mempertanyakan mengapa mereka harus berhenti di sana. Rumah masih cukup jauh. Apa yang harus dibeli?
Rasa penasaran itu cukup disalurkan dengan tatapan saja, si pengemudi turun dengan penjelasan. "Aku akan belikan minuman pengar untukmu."
Cukup perhatian, ya?
"Aku ingin es krim." Yerim menghentikan si pengemudi tepat sebelum pintu mobil ditutup.
"Baiklah. Kau tunggu di sini. Aku akan segera kembali."
Yerim dari dalam mobil dapat melihat pemuda itu turun dan masuk ke dalam swalayan. Dia berlari kecil, seperti sedang terburu-buru. Ada beberapa titik yang membuat gadis itu langsung tersenyum. Bukan karena usaha yang orang itu berikan, tetapi bagaimana cara pemuda itu berpenampilan. Gadis itu tak menyadarinya sampai saat ini.
Ketika di klub, dalam hati ia menggurui cara berpakaian Bomin yang 'terlalu beradab' untuk sebuah klub malam. Betapa pemuda itu mengingatkannya pada Lee Heeseung. Dan ia tidak salah sama sekali.
Pemuda itu kembali dengan barang belanjaannya: beberapa kaleng minuman pengar, obat-obatan, juga es krim. Ada juga barang pribadi yang ia selipkan di saku kemeja tepat setelah keluar swalayan, namun Yerim tak melihatnya dengan baik. Begitu sampai di mobil, Yerim menyambut pesanannya saja, membiarkan pemuda itu hampir menjatuhkan semua barang ketika dia mengambil es krim tanpa peringatan.
"Sebaiknya kau minum ini dulu."
Tetapi Yerim mengacuhkannya, dia menikmati eskrim batang yang dibawakan tanpa menunggu apapun.
"Makan pelan-pelan. Jangan mengotori mobilku."
Mata Yerim memincing tajam, ia tersinggung. Tetapi orang ini lebih mirip seperti Lee Heeseung sesungguhnya. Lelaki yang perhatian dan romantis sama sekali bukan dirinya.
"Aku tahu. Mobil mahalmu tidak akan aku kotori."
Dengan ketegangan yang berarti, Yerim baru benar-benar merasa seperti berada di tempat yang seharusnya. Orang ini baru benar-benar Heeseung.
"Kau tidak mabuk?"
"Tidak."
"Itu bagus."
Heeseung menutup pintu mobil, lalu kemudian bersandar di jok. Dia tidak menyalakan mesin mobilnya, hanya bersantai seraya menatapi Yerim yang sedang makan es krim.

KAMU SEDANG MEMBACA
THE GAMBLER 2: Big League🔞 | TXT & EN-
Fanfiction🚫PLAGIAT ADALAH TINDAKAN KRIMINAL🚫 HOTTER, BADDER, BRAVER Kim Yerim bersama kawan-kawan barunya memutuskan untuk membalas dendam pada orang-orang jahat di masa lalu. Namun, akankah semua berjalan sesuai rencana? .Kim Yerim (OC) .Lee Heeseung (ENHY...