chapter 20

3.1K 418 1
                                    


kini hari telah berganti, para penghuni istana capella berbondong kesana-kemari sejak sang surya mulai menampakkan diri.

begitupun dengan sang putra mahkota, renjun dibantu beberapa dayang menyiapkan dirinya ia memakai pakaian kebangsaannya yang sudah lama tidak ia kenakan.

"aku jamin anak panah dan tajamnya pedang tidak akan bisa menembus pakaianmu, pangeran." sahut kun yang sedang melihat renjun bersiap diri, "karena kita sudah melapisinya dengan besi."

renjun kagum dengan ide sang paman, bagaimana bisa dia kepikiran untuk melapisi bajunya dengan besi? "kau sangat pintar paman."

"tentu saja!"

renjun terkekeh geli, "apakah lucas ge dan yangyang sudah bersiap?"

"mereka sedang memeriksa prajurit kita yang akan ikut sambil menunggu anda."

"aku akan segera menemui mereka, apa sudah selesai?" tanyanya pada salah satu dayang.

"sudah pangeran." para dayang itu menunduk

renjun keluar dari ruangannya dan hendak menyusul lucas dan yangyang diikuti kun yang berjalan dibelakangnya, sepanjang lorong istana para penjaga maupun pelayan menunduk kala renjun melewati mereka.

para prajurit yang sedang berlatih kini berhenti dan menunduk saat menyadari renjun berdiri didepan mereka, renjun tersenyum puas ia tidak menyangka banyak nyawa yang rela mati untuknya dan capella.

saat yangyang menyadari kehadiran renjun ia segera menghampiri sang pangeran, "sudah lama aku tidak melihat anda mengenakan pakaian itu pangeran."

"kau berlebihan yangyang."

renjun menatap keseluruh para prajuritnya, "aku berjanji keluarga kalian akan hidup berkecukupan!" renjun mengetahui kecemasan para prajurit walau mereka tidak memperlihatkan kecemasan itu, bukan karena akan tewas namun mereka mencemaskan keluarga mereka jika mereka tewas siapa yang akan menghidupi keluarganya.

para prajurit saling pandang dan berucap syukur pada sang pangeran mahkota, "kami rela mati untuk anda dan capella yang mulia!" ucap salah satu prajurit diiringi sorakan dari prajurit lainnya.

"yang mulia, pangeran mark dan haechan telah datang." yangyang berbisik pada renjun, dia tidak bisa jika memanggil mark tanpa gelar pangerannya walaupun raja archernar telah mencabut gelarnya.

"biarkan mereka masuk.."

yangyang mengangguk, tidak butuh waktu lama ia kembali dengan mark dan haechan yang disampingnya.

haechan tampak terkejut, "ternyata ibunda berkata benar, kau seorang pangeran mahkota."

mark melihat wajah terkejut kekasihnya itu hanya terkekeh, sedikit berlebihan memang namun mark akui renjun lebih berwibawa saat mengenakan pakaian kebangsaannya.

"bagaimana dengan ibu anda? apa dia tidur dengan nyaman?" tanya renjun pada mark.

"ibunda tidur dengan nyaman kau tidak usah khawatir." jawab mark.

renjun bernafas lega sejujurnya ia takut mantan ratu archernar itu tidak nyaman, "apa kalian sudah bersiap?"

mark mengangguk, "pangeran jeno memberiku surat, dia akan segera melakukan perlawanan dari dalam istana beserta pangeran jaemin dan beberapa prajurit yang memihaknya walau jumlahnya tidak seberapa namun itu bisa membuat para prajurit raja sedikit berkurang sampai  kita datang nanti." 

renjun mengangguk, ia segerea memberi perintah pada yangyang "persiapkan kuda untuk pangeran mark dan haechan." yangyang mengangguk lalu pergi.

"pangeran apa kau sudah siap? kita harus segera pergi sebelum matahari semakin terik" tanya lucas yang baru menghampiri mereka.

I'm prince [NOREN] √Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang