(35) 𝙥𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙖 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙩

19 8 0
                                    


"Dibutuhkan hati yang kuat untuk mencintai, tetapi dibutuhkan hati yang lebih kuat untuk terus mencintai
setelah terluka."

- zada fadila -











Seorang gadis sedang menatap ke arah cermin. Ia menatap gusar wajahnya yang kacau.

"Ma, pah kalian ngga kangen sama zada?." ucap nya sambil mengusap bingkai foto yang kini berada di kedua tangannya.

"Zada ngga kuat ma, pah. Tolong jemput zada sekarang, zada pengen bareng kalian. " lanjutnya dengan isakan kecil.

"Kenapa kalian pergi disaat zada belum jadi sosok yang mandiri, zada masih belum siap kalau harus terbiasa tanpa mama papah."

"Permisi non, sarapan nya sudah siap." ucap bi titin yang entah kapan berada dibalik pintu kamar zada.

Zada yang sadar pun menolehkan kepalanya ke arah bi titin.

"Iyaa bi, nanti zada nyusul yaa." jawab zada sambil memperlihatkan wajah baik baik saja.

"Baik, non." sebenarnya bi titin sendiri tidak tega melihat zada terus menerus menangis seperti itu. Bi titin pernah merasakan hal yang sama, yaitu kehilangan suami tercinta.

Zada kini sudah berada di lantai bawah menuju meja makan. Bekal sekolah zada sudah tersedia rapi di atas meja. Siapa lagi yang menyiapkan selain bi titin.

"Bi titin ngga perlu repot-repot seperti ini." ucap zada tak enak hati.

Bi titin tersenyum mendengarnya. "Ini sudah menjadi tugas bibi non, den alvin sudah menitipkan non ke bibi. Bibi ngga mau kalau harus merusak kepercayaan den alvin dan non zada."

Melihat ketulusan bi titin, zada jadi teringat kepada mamanya, biasanya setiap pagi mamanya yang selalu menyiapkan bekal untuk nya, namun sekarang?


- 𝙎𝙈𝘼 𝙋𝙍𝘼𝙈𝙐𝘿𝙄 𝘽𝘼𝙉𝙂𝙎𝘼 -

"Vin, sebenarnya lo sama anak baru itu ada hubungan apa?." tanya alvino penasaran.

Alvin yang mengetahui kemana arah pembicaraan saudara kembarnya itupun hanya tersenyum.

"Yakin, lo udah move on dari salsa?." lanjut alvino.

"Ngga perlu gue jawab pasti lo udah tau jawabannya." jawab alvin cuek.

"Ckck, gue takut aja kalau anak baru itu diperlakukan semena-mena sama mantan pacar lo itu."

Alvin hanya memperlihatkan wajah cuek, tapi tidak dengan hatinya. Ia khawatir kalau yang dikatakan alvino benar terjadi.

"Selama ada gue, salsa ngga bakalan bisa nyentuh zada sekalipun." ucap alvin sambil meninggalkan saudara kembarnya, alvino.


- 𝙍𝙐𝘼𝙉𝙂 𝙓𝙄 𝙈𝙄𝙋𝘼-

Pelajaran kedua dimulai, zada mulai tidak nyaman dengan perutnya.

"Ris, bisa temenin gue ke uks ngga?." ucap zada pelan disela pembelajaran.

"Ha, lo kenapa? Sakit perut?." tanya rischa.

"Cenayang ya lo, iya ni bisa temenin ngga?. "

"Aduh sorry banget dil, tugas gue belum lengkap nih entar pak madan ngamuk lagi." jawab rischa tidak enak hati.

"Sorry banget dil, bukannya gue ngga mau nemenin lo." lanjut rischa.

"Ngga papa kali ris, gue sendiri aja." ucap zada sambil tersenyum.

Zada mengangkat tangannya, meminta izin kepada gurunya untuk beristirahat sejenak di uks. Kebetulan kali ini pak madan yang mengajar, lelaki paruh baya itu membolehkan zada untuk keluar dari pembelajaran nya.

"Hati-hati yaa ibu negara." seru rischa ketika zada berdiri dari bangkunya.

- 𝙆𝙤𝙧𝙞𝙙𝙤𝙧 𝙎𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝 -

Zada memegangi perutnya yang terasa sakit itu, ia menyesal karna selama ditinggal oleh kedua orang tuannya, pola makanya tidak terjaga. Padahal bi titin selalu menyiapkan makanan untuknya.

Kebetulan darez barusan keluar dari toilet yang tidak berada jauh dari koridor. Matanya tertuju kepada gadis yang ia temui dua hari lalu sedang memegang perutnya dengan wajah seperti menahan sakit.

"Boleh saya bantu? Seperti nya kamu terlihat seperti menahan sakit." tanya darez.

Zada menyibakkan rambutnya yang menutupi penglihatan nya karna terkena angin.

"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Jangan membuat keysa cemburu ketika melihat kita berdua berada disini." ternyata itu darez, pacar dari keysa acila. Ckck.

Darez menyipitkan kedua matanya, sebenarnya apa yang dikatakan oleh gadis didepannya ini. Keysa Acila katanya?

Tanpa enggan menjawab, ia langsung menggendong zada layaknya seorang bayi kecil.

"Apa apaan sih, turunin ngga! gue bisa jalan sendiri, gue ngga lumpuh kak darez." pekik zada kesal hingga menjambak rambut darez dengan kasar.

Darez tak menghiraukan pekikan gadis yang kini berada di pelukannya. Ia terus berjalan menuju uks.

Untungnya ini masih di jam pembelajaran, kalau tidak bisa-bisa zada menjadi bahan cemohan para siswi-siswi pramudi bangsa.
Membayangkan nya saja sudah membuat zada bergidik ngeri.












Jika menyukai bab ini,
pertimbangkan untuk memberikan vote.

terima kasih🙌

DAREZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang