0027

795 35 0
                                    

A few days later

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

A few days later....

Kediaman besar yang Jaehyun beli untuk anak buahnya kini dijadikan rumah duka, dua wanita yang Jaehyun sayangi kini menatap pigura foto dirinya yang sedang tersenyum sebaik mungkin. Hana yang memang kondisinya tidak stabil, dia pingsan dan langsung ambruk. Beruntungnya Jungkook sigap menahan tubuh Hana. Dia membopong wanitanya masuk.

Banyak yang merasa kehilangan disini, terutama sang pendamping hidup. Sora kembali menangis saat peti Jaehyun ditutup.

Jenazah pria itu terlihat tampan, wajahnya yang sangat tenang membuat hati Sora sakit.

“Se-bahagia itu kah kamu mau pulang?” Suaranya terdengar serak, dia menunduk dengan air mata yang kembali mengalir. Mingyu yang disebelahnya berkali-kali menenangkan Sora, sebab wanita itu berbicara lirih seolah mengajak Jaehyun mengobrol.

Saat peti Jaehyun telah siap, Jaemin dan Jeno kompak menunjuk diri. Diantara mereka masih belum berbaikan, tapi tidak lucu jika harus saling menghajar disaat masing-masing sedang berduka. Meskipun marah, figur seorang ayah tetap terlekat pada Jaehyun. Dan dua laki-laki itu harus menghormati.

Jaemin mengangkat di bagian depan pada sisi kiri, dan disisi kanannya ada Jeno. Dibelakang ada Jungkook, Mingyu, Johnny dan Doyoung.

Baru berjalan beberapa langkah, air mata Jaemin mengalir. Tubuh tak bernyawa yang sedang dia bawa, dia yang telah memberikan segalanya untuk dia. Jantung ini, Jaemin berjanji akan menjaganya dengan baik.

Mereka mulai menaiki kendaraan masing-masing dan mengantarkan Jaehyun ke peristirahatan terakhir, di mobil itu ada Jeno, Ara dan Jaemin, hanya mereka bertiga. Anak-anak kuat, anak-anak hebat yang akan mengantarkan ayahnya.

Setibanya di tempat pemakaman, tubuh Jaemin limbung dan hampir saja terjatuh.

“Kuatin diri, lo harus bisa ngantar papa ke tempatnya.” Jeno memeluk saudaranya dengan hangat. Dia harus menyingkirkan egonya. Jaehyun akan kecewa jika Jeno malah membenci Jaemin.

“Makasih.”

Langkah enam orang yang membawa peti Jaehyun berjalan dengan pelan, juga Jaemin yang bernafas dengan sesegukan. Dia tidak melirik orang-orang sekitar, juga Sora yang berusaha meyakinkannya.

Jeno menatap khawatir Jaemin yang sangat pucat, anak itu baru sadar dan dia harus menerima hal mengejutkan seperti ini. Meskipun dirinya sama, namun Jeno lebih dulu membuka mata dan sudah bisa mengikhlaskan, walaupun sedang dalam tahap mencoba.

Tangis Jaemin pecah saat peti ayahnya ditutup oleh tanah, dia berkali-kali memukul dadanya yang terasa sangat sakit. Jeno juga sama, anak itu menangis namun tidak ingin ditunjukkan. Matanya sudah memerah, melihat ini semua hanya membuatnya tersiksa.

Jeno memakai kacamata hitamnya dan merangkul bahu Jaemin. Betapa terkejutnya dia saat lengannya bersentuhan dengan Jaemin, lengan saudaranya sangat dingin.

𝐏𝐀𝐏𝐀 - 𝐉𝐀𝐄𝐇𝐘𝐔𝐍 [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang