Memang, sih, untuk bekerja di sebuah perusahaan retail yang terbilang sangat sibuk itu tak membuat Jungkook bisa mengambil jeda. Untuk cuti liburan saja, dia harus mengatur ulang jadwal kerjanya supaya tak menumpuk dan tak bentrok dengan kegiatannya yang lain. Kendatipun demikian, penghasilan Jeon Jungkook itu sudah sangat banyak. Itu sudah cukup untuk membiayai dirinya, ibunya, dan anaknya yang masih berusia satu tahun. Bayinya yang kecil sudah berlatih merangkak. Akan tetapi, bayinya masih membutuhkan air susunya. Bayinya juga sudah bisa makan bubur, lalu buah-buahan yang dihaluskan. Biasanya, Jungkook akan menitipkan bayi kecilnya kepada ibunya, lalu di siang hari, dia akan izin pulang untuk menyusui Jeon kecil lalu kembali ke kantor. Untungnya, kantor bisa memaklumi lantaran Jungkook adalah karyawan yang sudah lama bekerja di sana dan pekerjaannya terbilang sangat bagus.
Masalahnya di sini adalah, bayinya.
Jungkook harus bisa mendapatkan uang karena dia single parent. Di rumah juga ada ibunya yang penuh hangat merawat bayi kecilnya. Kalau dia resign dan belum menemukan pekerjaan pengganti, makan apa mereka nanti? Terlebih, Jungkook kurang paham untuk bermain saham. Dia hanya bisa mengamati ketika teman-temannya sibuk berceloteh tentang jual-beli saham, yang akhirnya membuat Jungkook hanya terdiam sembari bermain ponsel atau menonton video bayinya yang menggemaskan.
"Jeon, kau dipanggil atasan untuk menghadapnya sekarang."
Nah, ini. Salah satu alasan kenapa Jungkook ingin resign. Bukan sebab dia tidak betah dengan lingkup kerjaㅡsebenarnya itu salah satunya karena Jungkook pernah mendengar dirinya dibicarakan oleh orang-orang kantor (bukan teman-temannya) di belakang karena melahirkan anak di usia 25 tahunㅡdan salah satunya adalah atasannya.
Kim Taehyung, namanya.
Jeon Jungkook tahu kalau dia adalah sosok senior yang baik hati dan pekerja keras. Sayangnya, dari semua itu, atasannya masih sangat kurang puas dengan apa yang sudah Jeon Jungkook lakukan. Dokumen-dokumen yang sudah Jungkook susun bahkan ditolak mentah-mentah oleh sang Manager, sehingga membuat Jungkook langsung turun tangan menyerahkan dokumen susunannya ke direktur langsung yang tanpa Jungkook dengar sang Direktur mengeluh soal susunan dokumennya yang kelewat rapih dan sangat baik.
"Manager memanggil saya?"
Kaki Jungkook berhenti tepat di belakang pintu di mana dia sudah masuk ke dalam ruangan. Manager itu, Kim Taehyung, berdiri berhadapan dengan kaca jendela yang super besar membelakanginya. Jungkook memiliki firasat ini bukanlah sebuah hal yang baik.
"Sudah kukatakan padamu, bukan? Jangan memberikan dokumen yang kau susun itu langsung ke Direktur Kim?" Ujarnya, terdengar tenang akan tetapi menakutkan bagi Jeon Jungkook.
"Saya hanya... saya hanya tidak ingin manager selalu meminta saya merevisinya."
"Kau juga mengeluhkan soal itu?" Tanyanya, membuat Jungkook tercekat karena dia teringat bahwa dia bercerita soal sikap manager ini ke direktur perusahaan.
"Sebenarnya apa maumu?"
Taehyung kini berbalik. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap Jungkook seolah menelanjangi pria itu dengan tatapan menusuknya, lalu berdecak kesal seperti anak kecil yang pendapatnya tidak diterima oleh teman sepantarannya.
"Saya... saya bukannya bermaksud untuk mengadu." Jelasnya.
"Lalu?"
"Saya sudah berusaha merevisi dokumen yang saya susun dengan sangat sempurna, tetapi Anda selalu menolaknya. Saya merasa bingung, padahal dokumen saya lebih baik daripada dokumen susunan dari karyawan-karyawan yang memiliki jabatan seperti saya."
"Kau merasa superior karena sudah menjadi senior selama beberapa tahun bekerja di sini, begitu?"
Jungkook langsung menundukkan kepalanya. "Maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya kembali."
"Aku sangat kesal! Kau tahu." Taehyung mulai melangkahkan kakinya mendekat, sementara jantung Jungkook sudah ingin lepas dari tempatnya. "Kalau aku berkata jangan berikan, ya jangan berikan. Berikan padaku, ya berikan padaku."
"Saya minta maafㅡ"
Jungkook tercekat tatkala Taehyung menarik kemejanya dan mendorongnya ke atas kursi sofa tamu. Ini lebih dari sekedar menantang maut. Jungkook tak menginginkan hal ini terjadi akan tetapi Taehyung sudah melepas kancing jasnya, melonggarkan dasinya dan melepas kancing teratas kemeja yang dikenakan.
"Sa-saya mohonㅡ!"
"Tidak ada." Taehyung berucap penuh penekanan. Lututnya menekan paha Jungkook supaya Jungkook tidak memberontak, terlebih Taehyung mengunci kedua pergelangan tangan Jungkook di atas kepala.
"Manager Kimㅡ"
Tangan Taehyung dengan cepat melepas satu per satu kancing kemeja Jungkook hingga dada Jungkook terekspos di depan matanya.
"Manager, saya mohon..."
Taehyung bisa melihat pupil mata Jungkook yang bergetar memohon untuk dilepaskan. Sayangnya, itu tidak mudah bagi Taehyung untuk melepasnya. Mereka sudah terikat kontrak, perjanjian, dan kesepakatan. Jungkook tak akan bisa melaporkan kejadian ini sebagai bentuk pelecehan baginya.
"Aku tak ingin kau menangis, Jeon. Jika sampai kau menangis, aku akan membawa Jeon Zeha bagaimanapun caranya."
Jangan Zeha.
Jungkook yang sedikit memberontak akhirnya berhenti. Dia memejamkan matanya rapat-rapat ketika bibir Taehyung mendekat dan mulai menempel di lingkaran sekitar putingnya. Kemudian, satu desahan lembut lolos dari mulutnya ketika Taehyung membasahi putingnya dengan lidahnya, lalu mulai mengisap dadanya seperti bayi yang kelaparan.
Ini, adalah salah satu alasan kenapa Jeon Jungkook ingin resign.
Pertama, karena dia harus memberikan air susunya selain kepada Jeon Zeha, anaknya. Dia harus memberikannya ke atasannya, Kim Taehyung, yang entah kenapa bisa membuatnya sedikit merasakan ketenangan diantara antah-berantah hiruk-pikuk kebisingan karena tuntutan pekerjaan.
Kedua, karena Kim Taehyung memegang kelemahannya.
To Be Continue

KAMU SEDANG MEMBACA
The Darkness Will Become The Light [VKook]
Fanfiction-; VKook Fanfiction Menjadi seorang papa single parent membuat Jungkook lelah. Namun, itu bukan menjadi sebuah alasan bahwa Jungkook harus menyerah. Sampai suatu saat, kebahagiaan menghampirinya.