Rasa Sakit (4)

406 49 30
                                    

___

Jangan lupa ngaji dan shalawat Nabi 🤍
Tetap jaga iman dan ilmu🤍

Happy Reading!

***

Raga baru saja selesai mengajar, ia langsung tertuju ke area parkir. Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang, selaras dengan kekosongan pikiran Raga. Di perjalanan, pikirannya kembali terseret ke hari kemarin—hari di mana Amelia, sosok dari masa lalu, tiba-tiba hadir lagi dalam hidupnya. Genggaman tangan Raga mengeras di kemudi. Napasnya memburu, dan dada terasa sesak seperti dihimpit batu yang tidak kasat mata. Kenangan buruk itu menghantamnya tanpa ampun.

"Amelia bangsat ..." gumam Raga, diiringi tarikan napas berat.

Tiba-tiba, ia membanting setir ke kiri. Mobil berguncang sedikit, tapi untunglah jalanan sepi. Emosi Raga memuncak. Tangan yang bebas mencengkeram rambutnya sendiri, dan tanpa sadar, air matanya jatuh membasahi pipi.

"Amelia Bajingan!" Suara Raga terdengar parau, nyaris bergetar.

"Kenapa harus datang lagi, Sialan? Belum puas buat gue hancur?"

Raga tertawa getir di tengah isakannya, seperti seseorang yang mulai kehilangan kendali. Ia teringat jika pernah mengejek Naya yang menangis karena patah hati. Kini, ia harus menelan ejekannya sendiri. Raga tidak ada bedanya dengan Naya—sama-sama terluka, sama-sama menangis karena patah hati. Bedanya, luka ini lebih dalam, karena cinta itu pernah ia peluk dengan segenap jiwa.

"Kenapa lo ngelakuin hal ini ke gue, Amelia?" desisnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Gue udah nyerahin segalanya, tapi apa yang gue dapatin? Pengkhianatan!"

Raga menepuk dadanya yang terasa nyeri, seperti ada pisau yang tertancap dan tak bisa dicabut.

"Mama ... sakit, ma," bisiknya lirih, nyaris seperti rintihan.

"Raga salah, Ma. Maafkan Raga ... Maafkan Raga yang menikah tanpa ngasih tahu mama. Mungkin, ini peringatan supaya Raga belajar meminta restu Mama dulu." Suaranya pecah saat menyebut nama ibunya.

"Raga mau peluk Mama. Raga mau menangis di pundak Mama, tapi ... tapi Raga terlalu gengsi."

Raga merunduk, wajahnya kini tertutup kedua tangannya yang lemah. Kepala lelaki itu bersandar pada kemudi. Tangis itu tak terbendung lagi. Ia begitu rapuh, begitu ingin berteriak pada dunia, tapi yang keluar hanya bisikan yang terdengar memelas.

"Ma... Raga hancur. Hancur banget."

Di tengah isakannya, ia tahu satu hal yang pasti: Raga butuh pelukan. Ia butuh penguat, tapi Raga terlalu takut untuk mengungkapkan segalanya. Raga tidak mampu berkata jujur. Semua luka itu ia pendam sendiri, seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.

***

Di sebuah minimarket kecil dekat rumah Naya, gadis itu melangkah ringan di samping Adipati. Adipati baru saja selesai membantu Ardan belajar dan memutuskan menemani Naya belanja.

"Boleh pakai troli gak?" tanya Naya dengan nada penuh semangat.

Adipati tersenyum kecil. "Boleh banget dong!"

"Terus kalau gue mau duduk di dalam troli dan lo dorong, boleh juga, kan?"

"Yaudah, boleh."

"Asyik!" seru Naya, langsung masuk ke dalam troli dengan bantuan Adipati. Tingkahnya yang kekanak-kanakan membuat Adipati gemas sekaligus geli.

"Adi, senyum yang lebar ke gue," pinta Naya tiba-tiba.

Adipati menuruti tanpa banyak tanya. Naya menatapnya dengan senyum puas, lalu menyentuh lesung pipi Adipati dengan ujung jarinya.

"Lo manis banget!"

Adipati tersipu, menggaruk kepala yang tidak gatal. "Eh, beneran, Nay?"

"Iya, beneran!" seru Naya antusias.

Adipati mengacak-acak hijab instan Naya dengan gemas. "Lo juga manis banget, Nay bahkan lebih manis dari gula."

Mereka berdua tertawa, menikmati momen kecil yang hangat. Meski sederhana, interaksi itu cukup untuk membuat keduanya merasa dunia ini tidak terlalu berat dijalani.

***

"Revan, kenapa belum mandi, Sayang?" tanya Sary kesal, tatapan matanya seperti petir menyambar putra bungsunya yang tengah asyik bermalas-malasan.

"Ayo cepat mandi, Revan! Dari tadi petugas kebersihan bolak-balik lihat kamu. Nanti dikira kamu sampah karena bau," tambah Sary, nadanya semakin tajam, membuat wajah Revan sontak berubah masam.

"Ma ...." rengek Revan dengan nada setengah protes.

"Apa?"

"Please, deh, Ma. Dilihatin petugas kebersihan tuh Revan santai aja, nggak baper kok."

"Malah, petugasnya tadi senyum-senyum terus bilang, 'Mas Revan, nggak mandi juga tetap ganteng, ya!' Kan terbukti, Ma, ketampanan Revan diakui semua kalangan."

"Revan, mandi sekarang!" bentak Sary sambil menjewer telinga anaknya.

"Iya, iya, Ma. Revan mandi, deh. Tapi malu diliatin botol sampo, tau," jawab Revan dengan bibir cemberut, seolah mencari alasan baru.

"Astagfirullah, banyak banget alasan kamu, ya. Sekarang mandi!" Sary menyeret Revan ke kamar mandi tanpa ampun.

Di sudut ruangan, Raga hanya memandang adegan itu dengan raut datar. Baginya, drama seperti ini sudah seperti acara televisi yang tayang setiap hari di rumah mereka. Tanpa terganggu, ia kembali fokus pada tab-nya, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.

"Raga."

Panggilan Sary tiba-tiba membuyarkan konsentrasi. Ia menoleh, mendapati Sang Mama sudah duduk di sampingnya sambil mengusap dahi Raga yang berkerut.

"Kamu itu jangan kebanyakan mikir, deh. Nanti kelihatan lebih tua dari mama, baru tahu rasa."

"Namanya manusia, Ma, pasti mikir," jawab Raga tanpa mengalihkan pandangan dari tab.

"Tapi, kamu itu kayaknya melebihi kapasitas manusia biasa pas mikir, Ga." balas Sary dengan nada mengomel. Raga hanya tersenyum tipis.

"Ma, Raga boleh peluk Mama?"

Sary menaikkan alis, heran. "Tumben banget kamu nanya begitu. Biasanya, mama yang maksa dulu biar kamu mau peluk mama."

"Ya udah, gak jadi." Raga kembali memusatkan perhatian ke tab.

"Eh, kok gak jadi? Mama nggak suka dighosting, ya. Sini peluk mama!" seru Sary sambil merentangkan tangannya.

Raga memeluk tubuh Sary dengan erat, menyembunyikan wajahnya di pundak sang ibu. Sary mengusap punggung putranya lembut.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Sary lembut, merasakan ada sesuatu yang berbeda.

"Raga baik-baik aja, Ma. Cuma kangen peluk Mama aja," jawab Raga pelan, meski tidak mampu menahan air mata yang perlahan menetes, membasahi pundak Sary. Perempuan itu tersentak kaget.

"Kamu nangis? Ada apa, Raga?" tanya Sary, menatap wajah putranya dengan khawatir. Tapi Raga hanya menggeleng, tersenyum kecil.

"Gak nangis kok, Ma. Cuma air matanya keluar dikit aja ini."

Sary mencubit pipi Raga dengan gemas. "Air mata keluar sedikit atau banyak tetap namanya nangis, Raga. Kalau ada masalah, cerita sama Mama, ya. Jangan dipendam sendiri. Jadiin, mama ini tempat curhat kamu."

"Iya, Ma," jawab Raga singkat.

"Jangan iya-iya aja, lho. Mama serius!"

Raga hanya tertawa kecil, mencium tangan Sang Mama dengan penuh kasih. Dalam hati, ia merasa beruntung memiliki ibu seperti Sary, yang selalu hadir untuknya, meski terkadang terlalu cerewet.

***

Rahasia Hati Braga (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang