"Nafisah?"
"Hadir."
"Raden Atmaja."
"Hadir."
"Siti Julia?"
"Hadir."
Aza melirik meja Rayen yang kosong, laki-laki itu nampak tak datang ke sekolah hari itu, bahkan nama kekasihnya itu tidak di sebutkan oleh bu Ani yang baru saja mengabsen.
"Rayen kemana Za?" Aulia bertanya dengan suara berbisik.
Aza menggeleng. "Gak tahu. Malah gue juga bingung, kenapa nama Rayen dilewat."
"Cie, perhatian."
"Ish, Lia!"
***
Desta meraih satu batang rokok di dalam saku celana miliknya, tidak lupa dengan korek untuk menyalakan si tembakau.
Wussh...
"Padahal gue kemarin gak sempet nonton, tapi bisa-bisanya gue juga ikut keseret." Laki-laki itu meraih minuman di dalam cup lalu meminumnya singkat.
"Kita juga salah, ngapain kita dateng ke tempat trek kayak gitu?" Vero mendesakkan pertanyaan.
Desta mengernyit. "Serius loe tanya gitu Ver? Kan udah keputusan bersama. Kalau salah satu temen kita ada yang ikut tanding. Tanding apa ajalah, basket, MMA, balap liar atau apalah. Kita harus dateng dan tetep suport mereka."
"Ck, ya masalahnya beda, Des!" Vero menghela nafas. "Sekarang, apa kita bisa di katakan mendukung Agus meninggal kemarin? Jelas-jelas kita juga salah, mendukung sesuatu yang tidak baik. Hingga hasilnya pun tidak baik."
"Terserah loe aja, Ver. Gue capek debat opini sama calon ustadz."
***
Aza duduk di salah satu kursi di dalam perpustakaan, membuka lembar demi lembar, membaca setiap bait kata yang mengandung makna.
"Eh, ada ketua osis disini." Suara seseorang mampu membuat gadis itu bangun dari lamunannya. "Hendri boleh duduk disini?"
"Hendri? Oh, boleh-boleh. Silakan."
Laki-laki berkacamata itu tersenyum dan segera duduk di depan Aza, tatapan mata Hendri tak lepas menatap raut wajah yang cantik, polos itu.
"Tumben sendiri? Gak jajan ke kantin?"
Lagi-lagi ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Hendri, karena saat ini otaknya selalu berpikir jauh tentang sesuatu. "Eh, gue sering kok ke perpustakaan sendiri. Lagian ya, gue males antri kalau jajan di kantin, penuh."
Hendri sedikit terkekeh. "Haha, lucu juga ya. Cuma gara-gara males ngantri jadi lupain perut laper."
"Apaan sih, Hen? Gak lucu tahu!"
"Lucu kok,"
"Ish, Hendri!" Aza memukul perlahan lengan Hendri di depannya.
***
Setelah dari perpustakaan tadi Aza berinisiatif menuju warung belakang sekolah. Harap-harap ada Rayen di sana, walau ia tahu laki-laki itu tak sekolah hari ini. Entah kemana laki-laki itu perginya, bahkan tak ada kabar yang disampaikan. Bodohnya juga ia dan Rayen sama sekali belum pernah bertukar nomor telepon atau nomor rumah sekalipun.
"Maaf, bu." Aza memutuskan untuk bertanya pada seorang wanita paruh baya yang tengah menyajikan pesanan pelanggannya.
"Iya, non? Nona, mau pesan apa?" dengan penuh senyum.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Milik 'Ku [On Going]
Teen Fiction📍New Cover Kita dibuat untuk menjalani takdir dan mencintai takdir. Terutama menghargai setiap momen dalam perjalanan hidup. Banyak typo! WARNING ⚠️ ▪️CERITA INI TIDAK DI TULIS ATAU BERADA PADA APLIKASI NOVEL ATAU BACAAN LAIN. INGAT! ▪️CERITA I...