"Permisi!! Permisi!!" Teriak seorang yang tengah mencari jalan di tengah lautan manusia.Musik disco dan nuansa lampu remang-remang membuat beberapa orang menari dengan gila, tanpa mempedulikan hal sekitar.
Duakk!!
"Kau buta hah?!" Teriak seorang pria tidak senang karena seseorang menabrak bahu nya.
"Heh?! Kau aja yang joget tidak lihat-lihat! Aku sedari tadi sudah bilang permisi ya!"
Tidak senang karena omongan nya di balas, Pria itu menatap marah kepada orang di depan nya. Meneliti sosok yang berdiri dihadapan nya dari atas kebawah.
Rambut cepak yang acak-acakan, Hoodie kebesaran, serta celana robek di lutut. Tidak lupa wajah marah dengan mata yang melotot. Aneh nya wajah itu kelihatan.. Em, imut?
Pria itu buru-buru menggelengkan kepalanya. Mencoba sadar kembali, mungkin dia terlalu mabuk, sampai seorang laki-laki terlihat imut di mata nya.
Laki-laki yang diperhatikan itu menyadari ada yang salah dengan orang di depan nya. Tidak ambil pusing, dia langsung melenggang pergi begitu saja. Jadi saat pria itu sadar kembali. Laki-laki itu sudah menghilang dari hadapan nya.
Dengan Usaha yang keras menerobos lautan manusia yang hilang akal, Laki-laki itu akhirnya sampai di Bartender dengan beberapa orang yang duduk disana.
Mungkin karena malam yang makin larut, Orang-orang memilih untuk pergi ke lantai dansa atau justru bermain di pojokan dengan pasangan nya. Yah, siapa yang tau? Laki-laki itu bahkan tidak ambil pusing dengan masalah ini dan segera duduk di salah satu kursi kosong.
Tanpa menunggu lama, Seorang barista cantik menghampirinya. "Halo, Apa yang kamu butuhkan?" Katanya sambil tersenyum manis.
Laki-laki itu balas tersenyum "Kau tau? Aku sedang mencari teman ku, ah tidak, adik ku. Dia bilang dia disini dan aku harus menjemput nya" Setelah jeda beberapa saat, laki-laki itu kembali berbicara "Em, Mabuk, Kau tau hehehe" Akhir kalimat nya diselingi tawa canggung.
Barista itu tidak segera menjawab, Justru matanya menatap penuh minat pada laki-laki di depan nya.
Laki-laki itu bergerak tidak nyaman di kursinya, entah kenapa dia merasa canggung ditatap pihak lain.
"Apa kamu yakin kamu cukup umur buat masuk tempat ini?" Bukan nya membalas pertanyaan laki-laki itu, barista tersebut malah balik bertanya. Yah, itu tidak salah, karena laki-laki didepan nya terlihat sangat muda, mungkin seorang remaja. Apalagi saat bergerak tidak nyaman di kursinya, ia bahkan terlihat sangat imut.
"A-Apa maksudmu?!" Laki-laki itu terbata "jika aku dibawah umur, terus aku masuk nya gimana hah?! Masa bisa aku nipu bodyguard yang badanya segede gajah itu?!!" Teriaknya marah. Namun dimata barista itu justru malah menambah keimutan diwajah nya yang tampak gelisah.
"Yaaa.. Siapa yang tau?" Barista itu mengedikkan bahunya, sebelum laki-laki didepan nya menjawab, barista itu kembali berbicara. "Kau sedang mencari orang mabuk, kan? Kau tau, banyak orang mabuk disini, jadi bisa beri tau ciri-ciri nya? Mungkin aku pernah melihatnya"
"Dia lebih tinggi 5cm dari ku, rambutnya warna pirang, mukanya menyebalkan dan mulutnya juga sama menyebalkan" Ucap si lelaki dengan penuh keseriusan.
Barista itu tersenyum canggung. "Bisa lebih spesifik?"
"Spesifik?"
"Ini sepertinya jenis kelamin, baju yang di pakai, atau sesuatu yang khas darinya"
"Yaaa.. " Laki-laki itu menggaruk bagian belakang kepalanya, tidak tau harus berkata apa.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Baby's Daddy
FanficRATE MATURE!!! Tidak disaran kan di bawah jembatan apalagi umur ok?! crita agak aneh, tapi moga kalian suka!! SEMUA RESIKO DITANGGUNG PEMBACA, YAKALI DIBAGI SAMA AUTHOR! KALO VOTE NYA BISA LAH DI BAGI! **************** Yang Jennie ingat hanya waj...