Bab 14: Vegas Dan Macau

549 44 6
                                    

Malam telah tiba.

Para aristokrat yang berasal dari kerajaan seberang sudah berdatangan ke istana seperti kawanan semut. Tidak diketahui jumlahnya berapa orang, namun yang jelas jumlah mereka banyak.

Mereka semua berpakaian sangat rapih dan eye catching, termasuk para perempuan. Bahkan satu, dua, atau lebih, para pekerja istana melirik mereka dengan mata yang berbinar.

Para pangeran sudah siap sejak awal dengan jas kehormatan mereka, begitu juga dengan penjaga-penjaganya yang sudah berdiri tegap disamping.

Beberapa menit berlalu, Tankhun sudah mengeluh disamping saudaranya, Kim, "Sudah beberapa lama kita menunggu?! Cepatlah aku sudah tidak tahan dengan pakaian ini!!" Kim hanya menghela nafas mendengar ocehannya.

Walaupun dilubuk hatinya, ia merasakan hal yang sama dengannya, "Bersabarlah, acaranya akan mulai nanti. Tunggu saja" mendengar akan hal itu, Tankhun pun menggerutu.

---

Disatu sisi, Porsche sedang berjalan-jalan sendirian ditaman indoor milik kerajaan guna menghibur dirinya dari kebosanan. Pangeran Kinn harus meninggalkannya karena sedang mengurus para pelayanan sementara.

Ia menghela nafas, berusaha untuk menahan emosinya, "Lama sekali Kinn mengurus mereka.." batinnya, "Memangnya apa saja, sih, urusannya?"

Namun baru saja menit berlalu, tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki berumur belasan tahun seperti Porschay sedang melempar batu ke air mancur.

Rambut hitamnya dipomade sehingga terlihat mengkilau dibawah sinar rembulan. Ia memakai baju yang agak mirip seperti pangeran kerajaan ini, dengan warna jasnya hijau lumut dan pedangnya terikat di ikat pinggangnya.

"Sepertinya dia aristokrat. Aku coba ajak ngobrol, ah"

Ia berjalan menuju laki-laki itu dan berdiri disampingnya. Anak itu sepertinya tidak peduli dengan kehadirannya dan tetap saja bermain.

Sangat disayangkan.

"Ergh, halo?" sapa Porsche walaupun dia sedikit akward. "Hmm?" itulah yang jawab anak itu, tanpa menunjukan eye contact kepadanya. Porsche sedikit geram dengan kelakuannya, tapi ia harus bersabar.

Sambil menunjukkan senyumnya, ia bertanya kepada anak itu dengan ramah, "Namamu siapa, dek?" Anak itu memutarkan matanya. Ia sudah kalah dengannya, "Macau" jawabnya singkat, padat, dan jelas.

Porsche mengganguk pelan, "Lucu, yah namanya, seperti nama spesies burung" batinnya sambil senyum.

Setelag itu, pandangannya berbalik lagi kepadanya, "Oh, ya ngomong-ngomong. Mengapa kamu sendirian disini?"

Sambil memain dan melemparkan batu, Macau menjawab.

Kali ini, matanya melirik kepada Porsche, "Untuk apa aku bergabung dengan acara pelantikan si Kinn, membosankan"

Porsche menyeritkan dahi. Api didalan dirinya semakin berkoar-koar, "Berani-beraninya kau berkata tidak sopan dengannya!

Kau tahu dia ini pangeran yang akan menjadi raja, bukan?! Seharusnya kau menghormatinya dengan menunjukan batang hidungmu diacaranya!"

Macau melipatkan kedua lengannya kedada, "Cih, kau tidak berhak mengaturku, pengawal!" katanya dengan nada tinggi.

Karena amarahnya sudah mengebu-gebu, pengawal kesayangan sang pangeran itu langsung menghajarnya hingga ia menangis.

Porsche tidak menunjukan rasa bersalah setelah itu, "Dasar kau tidak tahu rasa hormat! Kau ini aristokrat sama seperti Pangeran tapi kau tidak menghormati sesamamu!"

Air mata Macau terus mengalir kepipinya seperti sungai. Ia berteriak kepada Porsche dan menghentakan satu kakinya ketanah, "JAHAT KAU, AKAN KUADUKAN PERILAKUMU KE AYAHKU!!" kemudian dengan cepat ia pergi berlari keluar ke taman.

Melihat akan hal itu, Porsche langsung mengejarnya dengan amarah yang masih melunjak, meninggalkan Kinn, "Anak brengsek..." batinnya

---

Para tamu sedang menunggu acara mulai dengan mengisi waktu mereka sambil minum-minum dan bergaul sana-sini.

Sang raja beserta pangeran juga melakukan hal yang sama, termasuk Kinn.

Sayang, pangeran itu harus terjerat diantara orang banyak yang terus menghampirinya untuk berbincang-bincang walaupun urusannya sudah selesai.

Kinn harus memerapkan apa yang ayahnya katakan sebelumnya, "Kinn, hormati orang-orang yang sudah datang jauh-jauh kesini. Ajak mereka mengobrol dan jangan pergi!" mengingat hal itu, Kinn hanya bisa menghela nafas.

Tidak ada pilihan lain selain menghormati para tamu dan wanita-wanita yang terobsesi dengannya, "Tetap senyum dan bersikap manis, Kinn. Bertahanlah" batinnya.

Tiba-tiba ketika sedang berbincang semampunya, pikirannya terdistract dengan Porsche yang sudah menunggunya untuk datang.

Rasa kasihan kepadanya datang kedalam dirinya, "Jika mereka tidak mencariku, aku sudah berlari kepadamu, Porsche.." batinnya.

Namun ketika sedang merenung, salah satu pria menyapanya dari belakang, "How's your life, cousin?" Kinn reflek membalikkan badannya, dan betapa kagetnya bahwa sepupunya, Vegas, datang, "Oh, halo, Vegas" sapanya dengan tersenyum, "Hari-hariku cukup hectic hari ini." Vegas mengganguk, "Sudah kuduga"

Sebenarnya Kinn tidak suka dengan kehadiran keluarga Gun disini, mengingat mereka pernah berkonflik dulu.

Namun apa dayanya ia? "Ngomong-ngomong, aku mengucapkan selamat kepadamu karena kau akan menjadi seorang raja

nantinya." Vegas mengucapkan selamat kepadanya. Kinn yang k-geriknya agak berbeda dari sebelumnya memjadi terkejut. Karena Vegas adalah orang yang tidak pernah sama sekali melakukan hal ini kepadanya setelah mereka berkonflik.

Disisi lainnya, ia tidak tahu apakah Vegas dan keluarganya masih mempunyai ambisi untuk memonopoli kerajaan Teerapanyakun. Ia melirik kepada ayahnya yang juga sedang berbincang kepada saudaranya itu. Terlihat mereka baik-baik saja dengan tawa dan senyum kepada satu sama lain. Namun ia masih menaruh curiga kepada keluarga tersebut. Untuk saat ini, tidak ada bukti konkret yang mendukung kecurigaannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 30, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Carry your Throne (KINNPORSCHE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang