Jam lima sore, sedangkan Aza masih saja sibuk berkutat dengan lembar-lembar kertas hvs dan layar laptop miliknya. Ia harus segera mengajukan proposal untuk event yang akan diadakan nanti, entah kapan event itu terlaksana. Tetapi gadis itu harus tetap menyelesaikan proposal-untuk ia ajukan pada kepala sekolah.
Kedua maniknya terasa panas, kering, perih. Karena sejak sepulang sekolah tadi ia langsung memasuki ruang penuh tugasnya sebagai ketua osis. Andai dulu saat ia pindah sekolah tidak menerima jabatan ketua osis, mungkin saja hidupnya akan tenang seperti temannya yang lain. Menjadi anggota osis itu melelahkan, apalagi sebagai ketua osis. Sebenarnya dulu sebelum ia pindah sekolah-ke sekolah ini, ia juga seorang ketua osis. Alasan sekolah barunya menjadikan dia ketua osis katanya untuk menggantikan ketua osis yang kala itu mengundurkan diri.
Gila banget! Ngundurin diri gak tuh? Sepertinya ketua osis yang lama sudah kelelahan dengan tugas kelasnya yang ditambah lagi tugas sebagai ketua osis, seperti saat ini yang ia rasakan.
Aza menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya melalui mulutnya perlahan. Ia menyatukan seluruh jari-jari tangan dan mendorongnya hingga rasa pegal itu sedikit berangsur. Maniknya sesekali menatap jam dinding yang tergeletak di samping kursi. Katanya sekolah elit, tapi sebuah paku untuk menggantungkan jam dinding saja susah, bagai ruangan yang tak terawat.
"Aza, udah sore. Gak ada niatan buat pulang? Udah jam lima lebih." Laki-laki berkacamata itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, sontak membuat gadis di dalamnya terkejut.
"Eh, loh kok? Loe gak pulang Hen? Gue kira loe udah pulang duluan tadi." Wajahnya tak bisa berbohong, ia benar-benar tidak tahu jika Hendri juga masih berada di sekolah.
"Oh, gue tadi ada something sama anak-anak kelas. Jadi, gak langsung pulang."
Aza hanya mengangguk dan ber'oh saja. "Terus, kenapa malah ke ruang osis bukannya pulang? Udah selesaikan, masalahnya?"
"Udah, cuma penasaran aja sama pintu ruangan yang gak terlalu rapat. Gue kira ada orang masuk selain anggota osis, atau bahkan kelupaan ngunci. Loe tau sendirikan, ada banyak dokumen, sayang kalau hilang atau sengaja di ambil tanpa tanggung jawab." Hendri menyempatkan untuk tersenyum. "Tapi ternyata malah ketua osis yang ada di dalem."
Aza sedikit terkekeh, namun kagum dengan sikap tanggung jawab yang dipegang teguh oleh Hendri. "Soalnya lagi lembur nih."
Hendri menyatukan kedua alisnya. "Lembur?"
"Buat proposal pengajuan event, udah ditagih terus." Matanya sendu menatap Hendri.
"Oh, sekarang udah sore. Mending loe pulang, kemaleman gak baik. Gue anter pulang sekalian ya."
"Eh, gak usah makasih banyak Hen. Soalnya gue lagi ada urusan lain setelah dari sekolah. Urgent, jadi lebih baik loe pulang aja duluan, gue gak papa kok. Lagian aman." Aza tersenyum berupaya memberi rasa percaya kepada Hendri.
***
Setelah cukup untuk berbincang dengan Hendri tadi di sekolah, Aza memutuskan untuk segera pulang setelah Hendri juga pulang. Gadis itu tak langsung pulang melainkan memesan ojek online dengan alamat rumah Rayen yang di tuju.
Pekarangan rumah yang kini ia tatap, hanya kosong sejauh matanya memandang hingga pintu di balik pagar. Ada rasa keraguan baginya untuk datang kembali ke rumah Rayen, langit sudah nyaris menenggelamkan senja, tapi dirinya tetap kukuh berdiri memandang pintu dari balik pagar.
Mungkin orang bilang, berdinya dia di balik pagar itu cara orang bodoh yang hanya buang-buang waktu untuk hal yang tak berguna sama sekali. Nyaris lima belas menit ia terpaku, berdiri, menatap dalam hening tanpa beralih dari pintu rumah berwarna putih itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Milik 'Ku [On Going]
Teenfikce📍New Cover Kita dibuat untuk menjalani takdir dan mencintai takdir. Terutama menghargai setiap momen dalam perjalanan hidup. Banyak typo! WARNING ⚠️ ▪️CERITA INI TIDAK DI TULIS ATAU BERADA PADA APLIKASI NOVEL ATAU BACAAN LAIN. INGAT! ▪️CERITA I...