___
Jangan lupa ngaji dan shalawat Nabi🤍
Tetap jaga iman dan imun 🤍Happy Reading!
***
Selesai menghabiskan batagor. Adhisty tertidur di pangkuan Raga membuat lelaki itu semakin gemas dengan keponakannya tersebut. Naya juga turut tersenyum ketika melihat wajah damai Adhisty ketika tertidur."Adhisty mirip banget sama Rafa. Ternyata, memang bener, ya, Ga kalau gen ayah kuat banget buat anak ceweknya. Istilahnya, Adhisty cuma numpang rahim doang sama Khafa."
Naya berdecak sebal ketika Raga tidak menanggapi ucapannya. Lelaki berusia 27 tahun itu masih asyik mengelus rambut Adhisty yang berwarna kecokelatan.
"Raga."
"Raga!"
"Apasih?" tanya Raga sambil menoleh ke arah Naya.
"Gue ngomong tuh minimal didengerin kek."
"Suara kamu jelek," ucap Raga enteng.
"Mulut lo belum pernah kena knalpot supra Pak Yayan kan, Ga?"
"Saya tidak kenal dengan Pak Yayan. Sudah pasti jawabannya kalau mulut saya belum pernah kena knalpot supra dia," sahut Raga datar.
"Astagfirullah."
Seketika Naya mengusap dada dengan penuh kesabaran karena mendengar sahutan Raga. Raga kembali menatap ke arah Adhisty seraya tersenyum tipis.
"Raga," panggil Naya.
"Kamu itu kenapa sih hobi banget manggil saya? Nge-fans atau gimana sih?"
Raga bertanya tanpa melihat ke arah Naya. Bagi Raga, lebih enak memandang wajah Adhisty yang tertidur daripada wajah Naya yang terlihat menyebalkan di matanya.
"Gue cuma mau nanya Rafa kok lama baliknya, ya?"
"Ngapain kamu nanya kayak gitu?" tanya Raga dengan nada tak suka.
"Ya, nanya aja. Masa nggak boleh sih?"
"Enggak. Kan kamu bukan istri Rafa."
Mendengar jawaban dari Raga sukses membuat Naya melongo. Masa bertanya tentang kepulangan Rafa harus menjadi istri dari Rafa dulu sih, itulah yang terlintas di pikiran Naya saat ini.
"Gausah nanya soal Rafa. Lagian Rafa baru sebulan KKN. Seharusnya, otak kamu bisa mikir kalau KKN itu bisa sampai dua bulan."
Raga menjawab dengan nada ketus sekali membuat Naya berdecak sebal. Ia sangat kesal dengan Raga karena kalau bicara selalu menyakiti hati.
"Dia kalau ngomong selalu nggak santai, tapi gue kok nggak kapok sih," ucap Naya di dalam hati.
"Ra---,"
Ucapan Naya terpotong karena Raga kembali berucap dilengkapi lirikan sinis.
"Kalau masih mau tahu kapan Rafa pulang. Lebih baik kamu pergi ke psikiater sana."
"Ck! Gue itu mau manggil lo bukan mau nanya soal Rafa. Makanya jangan langsung potong dong! Baru ngomong Ra, udah main potong ucapan orang aja."
"Oiya satu lagi. Lo itu hobi banget sih nyuruh gue ke psikiater. Gue itu sehat walaafiat keleus!" sambung Naya dengan dongkol.
"Oh, saya pikir jiwa kamu butuh diobati."
"Boleh nggak sih gue tendang lo sampai Amazon?"
Naya sudah geram sekali dengan Raga. Namun, Raga malah memasang wajah santai seolah tak terjadi apapun.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Hati Braga (END)
Roman d'amourBraga Pratama Athaya tenggelam dalam jurang patah hati setelah hubungannya dengan Amelia Syakira kandas. Perasaan yang hancur membuatnya mengidap gangguan kecemasan. Di tengah kekelaman itu, hadir sosok Naya Ayura Ningtyas, seorang wanita yang memb...