-- 27

124 12 3
                                    

Reksa belakangan ini jadi agak sedikit sensitif apalagi kalau orang lain bawa-bawa Aruna. Salah sedikit, senggol sampai masuk jurang.

Barangkali kamu mau coba sensasi tatapan membunuh tanpa rasa sakit, kamu bisa ganggu Aruna atau Reksa secara langsung. Lalu setelahnya yang kamu lihat adalah pemandangan kamu yang berdarah-darah karena tatapan tajamnya Reksa.

Nggak, bercanda, nggak sesadis itu kok anakku.

Reksa sedikit sensitifnya itu betulan. Apalagi belakangan ini tiba-tiba ada cowo yang bisa dibilang dalam proses pendekatan ke Aruna. Ya Reksa bisa apa sih? Kan kena tetanggazone?

Kerjaannya cuma misuh di depan Damar sama Adnan, nyambat di twitter, bikin story galau yang dibikin jedag jedug (templatenya dapet dari Riki, si bocil smp satu yayasan)

Kejadiannya sekarang bisa dilihat sendiri di kantin SMA Belift. Di pojok kantin yang ramai, ada Reksa, Adnan dan Damar yang sudah jadi penghuni kantin selama kurang lebih 10 menit.

"Lo kalo gak suka tuh bilang lah ke orangnya, cupu amat. Badan doang gede, nyalinya ciut kaya ketumbar." Kata Damar sengit.

Nusuk sih, sedikit, tapi mental lagi, "ketumbar kecil-kecil juga kepake tuh buat hidup lo. Lo tanya aja mama lo, butuh ketumbar nggak?" Jawab Reksa tak kalah sengit.

Setelahnya, yang bikin Reksa dan Adnan bingung setengah mati adalah Damar yang bener-bener keluarin hpnya dan telfon sang mama. Lebih anehnya lagi, telfon tersebut langsung diterima oleh sang mama.

"Ma, ditanyain Reksa. Mama butuh ketumbar nggak buat masak?"

Adnan geleng-geleng kepala sambil bicara tanpa suara, "bodoh"

"Nggak sih, mama nggak lagi butuh ketumbar buat masak. Kenapa? Reksa sekarang jualan ketumbar? Nitip dong besok mama mau buat sayur sop."

"Tante, matiin aja telfonnya. Ini si Damar ngelantur tante. Emang suka gitu anaknya kalo di sekolah. Daripada tante ga fokus kerjanya, kita udahin aja ya. Dadah Tante." Lalu telfon dimatikan oleh Reksa. Handphone yang tadi digenggam oleh Damar kini berpindah tangan ke Reksa.

"Gak jelas lo."

"Kan lo tadi nanya ya, bekantan."

"Ya ga ditanyain beneran lah, pensil inul."

"Apaan pensil inul?"

"Pensil goyang." Kali ini yang jawab Damar itu adalah Adnan. Lelah sih tapi ya gimana ya, temen Adnan cuma mereka berdua.

"Pensilnya bisa goyang?"

"Bisa, lo tanya aja sama mas Adam." Kesal. Tiba-tiba bahas pensil inul. Emang sih Reksa yang mulai, tiba-tiba sebut pensil inul. Tapi kan Reksa gak tahu kalo Damar beneran se-nggak tahu itu tentang jenis pensil yang sempet populer dulu itu.

"Udah gila lo berdua. Tuhan sekali nurunin kesulitan buat gue, bentuknya malah kaya lo berdua." Kata Adnan sembari menyeruput sisa es tehnya. Ada benarnya juga, bisa jadi kedatangan dua manusia aneh di hadapan Adnan ini adalah cara Tuhan untuk menguji kesabaran dan ketabahan Adnan dalam menghadapi ujian.

Ujiannya ya Damar dan Reksa.


"SA, SA, SA! ITU SI JAMET KEMAYORAN DATENG LAGI SA KE MEJA ARUNA SA!" Damar heboh setengah mampus, Reksa jadi kaget sendiri. Tapi ia harus tetap siaga, pakai tenaga super, dia balik badan dan cari ke arah dimana Aruna dan temen sekelasnya biasa duduk.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 24, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

REKSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang