Tidak ada yang menyangka kalau Gara akan sadar secepat ini. Mereka berada di dalam mobil dan baru saja meninggalkan area cafe, ingin menuju rumah sakit dan netra yang semula tertutup rapat itu kini sudah terbuka kembali. Meskipun masih nampak sayu.
"Tuan muda Gara, anda sudah sadar?" Ajun langsung bertanya, kaget saat menengok ke kursi belakang tempat Gara berbaring, ternyata netra tuan muda nya itu sudah terbuka.
"Tahan ya tuan muda, sekarang kita sedang di perjalanan ke rumah sakit!" Ujar Ajun kemudian.
"Pulang.." kata Gara pelan.
"Ya, tuan muda? Anda bicara apa?" Suara Gara tidak terdengar jelas di telinga Ajun.
"Pulang aja." Kata Gara lagi dengan lirih. Ia sudah merasa lebih baik. Sepertinya alat pacu jantung nya baru bekerja sekarang. Mungkin tadi sempat konslet sebentar. Pikirnya.
"Anda yakin tuan muda? Emang nya Anda sudah baik-baik aja?"
"Iya.. Tolong ambilin.. obat gue aja.. di tas."
Gara berbaring di kursi tengah. Sebenarnya tas itu ada di bawah kursi tepat di kaki nya. Tapi ia tidak kuat bangun. Kepalanya pusing dan tubuh nya terasa lelah karena habis mendapat serangan tadi.
"Din, berhenti sebentar. Pinggirin dulu mobilnya!" Ujar Ajun pada Dino yang sedang menyetir.
Mobil mereka berhenti di pinggir jalan. Ajun keluar dari mobil, melangkah lalu membuka pintu tengah, tempat tuan mudanya berbaring. Meraih tas yang berisi keperluan medis Gara seperti obat-obatan dan oksigen portabel kaleng.
"Yang mana obatnya tuan muda?" Ajun mengeluarkan kotak obat harian yang sudah dibuka nya dan terlihat beberapa butir obat di dalam sana. Lalu ia tunjukkan pada Gara.
"Bukan yang itu.. tapi yang di tabung kecil." Ujar Gara. Suaranya terdengar lemah.
"Ini?" Ajun menunjukkan tabung obat yang dimaksud Gara.
"Iya." Gara menengakkan tubuh nya sedikit, di bantu oleh Ajun. Supaya mudah meneguk obat nya. Setelah obat itu berhasil ditelan, Gara lantas merebahkan tubuhnya lagi.
Ajun kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi tempat ia duduk tadi di sebelah kursi kemudi.
"Pulang ya, bang.. Jangan ke rumah sakit." Ujar Gara lagi.
"Iya, tuan muda!"
"Gue mau tidur.. nanti bangunin kalo udah sampai mansion."
Setelah menjawab tuan mudanya, Ajun beralih pada ponsel nya yang bergetar di atas dashboard mobil.
"Tuan muda Shino nelpon!" Kata Ajun .
"Jangan diangkat.." mendengar suara lirih dari Gara, Ajun lantas mengurungkan niat nya untuk menekan ikon hijau di ponselnya itu.
"Tapi--"
"Jangan di angkat, bang!" Ujar Gara lagi. Sedikit memaksakan suara nya agar terdengar nyaring.
"Baik!" Ajun kembali meletakkan ponselnya di atas dashboard mobil, membiarkan panggilin Shino tidak terjawab. Ternyata panggilan telepon dari tuan mudanya itu sudah tidak terjawab sebanyak 11 kali dan ini yang ke 12 kalinya. Ia tidak tahu dan tidak mendengar karena ponselnya sedang mode silent. Ditambah karena tadi fokusnya hanya pada Gara yang sempat tidak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian ponsel nya kembali bergetar dan kali ini bukan Shino yang menelepon melainkan tuan besarnya- Adryan. Tadi saat Gara pingsan ia sempat menghubungi tuan besarnya itu, memberitahukan perihal tuan mudanya yang tumbang dan akan mereka bawa ke rumah sakit. Ia belum menelepon Adryan lagi untuk memberi kabar kalau Gara sudah sadar dan tidak mau di bawa ke rumah sakit. Sebelum menerima panggilan telepon itu, Ajun menolehkan kepalanya ke kursi tempat Gara berbaring. Netra tuan muda nya itu sudah kembali terpejam. Sepertinya Gara sudah tertidur karena efek obat. Ajun lantas menggeser ikon hijau di layar ponsel nya untuk menerima panggilan telepon dari tuan besar nya itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
About Gara
General FictionTentang Gara menghadapi kekurangan dan kelemahan nya. 📢 Warning! - Ini cuma cerita fiksi ya! Jadi jangan terlalu dianggap serius! Buat hiburan aja! Ambil sisi baik nya, buang sisi buruk nya, okey! 💙😽