Sofia membiarkan pesan yang barusan masuk. Ia kemudian menulis pesan ke ibunya mengabarkan kalau dirinya dalam perjalanan pulang.
Hati-hati ya. Pesannya segera terbalas. Sofia kemudian menyimpan kembali handphone-nya dan melihat pemandangan di luar. Persawahan yang dilalui sepanjang perjalanan tidak menarik perhatian Sofia. Entah kenapa pikirannya malah tertuju kepada lelaki yang telah mengisi hatinya beberapa waktu yang lalu. Sofia berusaha untuk melupakannya. Namun, semakin ia ingin melupakan, bayangan lelaki itu seolah semakin lekat dalam pikirannya.
***
Abim, lelaki dengan postur tubuh tinggi dan berkulit sawo matang itu mampu mencuri perhatiannya sejak ia bertemu. Tatapan matanya yang teduh saat memberi breefing, ketika ia baru pertama kali masuk kerja seolah magnet bagi Sofia.
Masih lekat dalam ingatannya saat ia mengirimkan lamaran di PT Intan Perkasa Tour kurang lebih tiga tahun yang lalu.
Dulu, Sofia nekat mengadu nasib ke ibu kota untuk menghindari hal yang tidak ia inginkan. Berbekal alamat tetangganya yang sudah terlebih dahulu merantau di Jakarta ia memberanikan diri menginjakkan kaki di kota besar yang terkenal kejam tapi mampu memberikan impian indah usai lulus SMA.
Saat itu baru pertama kalinya Sofia bepergian jauh sendirian. Keinginannya untuk mempunyai kehidupan sendiri jauh dari bayang-bayang kelam ibunya membuat ia memberanikan diri untuk pergi.
Sofia mempunyai tabungan yang ia kumpulkan saat membantu di kebun keluarga temannya semasa SMA. Seandainya ibunya tidak mngizinkan ia pergi dan tidak memberi uang saku, ia sudah punya biarpun tidak banayk.
"Buat apa kamu merantau ke Jakarta, Sofi? Sudah tinggal nurut saja sama ibu seperti Mbakmu itu, sekarang sudah enak jadi foto model bayarannya besar hidup senang bisa pergi kemana yang ia suka," kata Utari kala Sofia mengutarakan keinginannya pergi ke Jakarta.
"Bu, saya ingin menentukan jalan hidup saya sendiri."
"Nanti kamu kerja apa di sana?"
"Kata Lek Sarni, ada kerjaan jadi penjaga toko, Bu."
"Jadi penjaga toko berapa gajinya Sofi? Paling cuma cukup buat makan."
"Enggak apa-apa, Bu. Siapa tahu nanti ada pekerjaan lagi yang lebih baik."
Akhirnya, dengan berat hati Utari mengizinkan Sofia pergi. Dalam hati sebenarnya ia tidak tega melepas kepergian anak bungsunya itu.
Dengan menumpang bis antar kota, Sofia berangkat ke Jakarta sesuai petunjuk Lek Sarni.
"Sendirian, Sof?" tanya Lek Sarni yang menjemput di pool bis yang ia tumpangi dari Salatiga.
"Iya, Lek." Sofia mengangsurkan tangan kanannya untuk menyalami Lek Sarni, tetangga di kampung yang sudah ia anggap saudara.
"Sini biar tasnya Lek bawa, parkir motornya di sebelah sana."
"Ndak usak Lek, biar saya saja yang bawa."
Mereka berdua berjalan menuju parkir motor. Lik Sarni menyerahkan helm ke Sofia.
"Sudah siap?" tanya Lik Sarni sebelum akhirnya ia menjalankan kendaraannya.
Jakarta mulai bergeliat di awal hari. Mereka menyusuri jalan yang mulai ramai oleh kendaraan. Setelah menyusuri jalan raya sekitar tiga puluh menit, Lek Sarni membelokkan motornya ke jalanan yang lebih kecil. Kemudian ia masuk gang yang hanya cukup untuk berpapasan kendaraan roda dua. Mereka berhenti di sebuah kontrakan berderet lima dengan cat hijau yang mulai memudar. Ada pohon mangga yang cukup besar berada di halaman kontrakan yang tidak begitu luas.
"Ayo masuk," ajak Lek Sarni sambil membuka pintu.
Sofia masuk sambil membawa bawaannya. "Lek, ini titipan dari ibu." Sofia menyerahkan tas plastik hitam berisis makanan kecil yang ia bawa dari rumah.
"Wah makasih ya, pakai bawa oleh-oleh segala, duduk dulu, sebentar Lek buatkan teh hangat."
Sofia duduk di lantai beralaskan karpet plastik. Pandangannya diedarkan ke ruangan yang tak begitu luas itu. Ada foto anak perempuan TK mengenakan baju wisuda tergantung di dinding sebelah kanan. Di sebelahnya ada foto keluarga Lek Sarni.
"Ini tehnya diminum dulu." Lek Sarni datang membawa dua gelas teh hangat dan piring berisi gorengan.
"Terima kasih Lek, maaf jadi merepotkan."
"Tidak apa-apa, dulu pertama kali Lek ke Jakarta juga sama seperti kamu."
Lek Sarni sudah lama tinggal di Jakarta, kurang lebih sepuluh tahun.
"Nanti saya antar ke Pak Hadi. Ia buka toko alat tulis dan foto copy di dekat sekolah. Kebetulan kemarin waktu kamu telepon cari kerja bapaknya dipesenin suruh cariin orang untuk bantu di tokonya. Kamu bisa tinggal di sini, tapi ya keadaannya seperti ini tidak sebagus rumah di kampung."
Sekitar pukul sepuluh Lek Sarni mengantar Sofia ke tempat Pak Hadi. Toko alat tulis itu tidak terlalu jauh dari kontrakan Lek Sarni. Di seberang jalan toko itu ada sekolah SMA swasta yang cukup besar.
"Ini Sofia, Pak Hadi, tetangga kampung saya yang cari kerja."
"Sudah pernah kerja sebelumnya?" tanya Pak Hadi.
"Belum Pak, saya baru lulus SMA," jawab Sofia.
"Ya sudah besok mulai kerja ya, besok jam delapan sudah sampai sini."
"Baik, Pak."
Dirasa cukup bertemu dengan Pak Hadi Lek Sarni dan Sofia berpamitan.
"Dihafalin jalannya ya biar besok bisa berangkat sendiri," kata Lek Sarni sambil mengendarai motornya.
Sepanjang jalan Sofia mengamati beberapa tempat yang bisa jadi patokan saat ia menuju toko besok pagi.
"Besok pagi Lek antar dulu, sekalian Lek berangkat kerja."
Keesokan harinya, sebelum subuh Sofia sudah bangun. Ia segera membantu Lek Sarni membersihkan rumah dan memasak sebelum berangkat kerja. Lek Sarni mengantarkan Sofia sekalian berangkat kerja.
"Nanti pulangnya saya bisa sendiri Lek," kata Sofia setelah sampai toko.
"Berani sendiri?"
"Berani Lek jalan kaki juga tidak terlalu jauh."
"Ya sudah Lek berangat dulu ya."
"Terima kasih Lek."
Sofia sampai toko sebelum pukul delapan, sehingga toko belum buka. Setelah menunggu beberapa saat Pak Hadi datang dengan mengendarai sepeda motor.
"Sudah dari tadi?"
"Belum Pak, tadi bareng Lek Sarni yang mau berangkat kerja."
Sofia membantu Pak Hadi membuka toko yang tidak begitu besar. Selain toko Pak Hadi, di sebelahnya berjajar beberapa toko lain yang sebagian sudah buka.
*bersambung*

KAMU SEDANG MEMBACA
Menepis Nista, Meraih Asa
RomanceSofia, seorang wanita karier yang sedang berada di puncak kariernya harus kandas kisah cintanya karena orang ketiga yang menghalanginya. Siapa sangka gadis yang meniti kariernya dari bawah dan mengadu nasib di Jakarta usai SMA ini dulunya akan "diju...