02

255 50 6
                                    

Dita POV

WHAT?! Apa ini? Kenapa aku begitu ceroboh! Ciuman pertamaku yang harusnya aku persembahkan pada kekasihku nanti, malah terenggut begitu saja karena kebodohanku?! Dan yang aku cium itu... dan dia... dia itu adalah....

"KAMU?!" teriaknya lantang dan terdengar menyeramkan. Dia... dia adalah lelaki yang baru saja menghinaku di depan tuan Bang! Apakah dia....

"LANCANG SEKALI KAU MENCIUM BIBIRKU, WANITA MISKIN?!" bentaknya seram dan membuatku semakin kikuk. Aku menunduk dalam.

"Ma-maaf, maafkan saya...."

"Aaaa... Su-sudahlah. Itu hanyalah kecelakaan, kau harus memakluminya! Selamat pagi, Jisung. Dia Dita Karang, Sekertaris baru-"

"Aku sudah tahu!" sergah lelaki itu dengan angkuhnya. Membuat tuan Bang sedikit tersentak karenanya.

"SURUH DIA MASUK!" bentaknya saat tubuhnya sudah berada di atas kursi kebesarannya. Aku terperanjat kaget saat mendengarnya. What the fuck, kenapa ini?! Kenapa aku harus menjadi sekertaris lelaki bajingan yang angkuh sedingin balok es ini?! Bisa-bisa... aku akan gila jika setiap hari aku bertemu dengannya dan dengan tunangannya yang sok itu!

"A-ah, selamat pagi tuan Han... pe-perkenalkan, saya-"

"Aku tidak ingin mengenalmu!" sergah lelaki itu. Argh! Melihat wajahnya saja sudah membuatku muak.

"...hanya mengetahui nama dan informasimu dari proposal ini, sudah cukup bagiku. Lagi pula... apakah ada, sekertaris yang sudah berani kurang ajar dan LANCANG terhadap CEO-nya yang juga atasannya, di hari pertamanya bekerja?" Shit! Aku tidak bisa menjawab apa-apa dan hanya dapat mematung di hadapannya. Tuan Bang hanya memandangku dari duduknya, tapi aku? Aku hanya dapat menundukkan kepalaku dalam-dalam karena takut.

"Ma-maaf... maafkan saya tuan. Sa-saya... saya benar-benar tidak tahu jika itu anda, dan... saya tidak bisa mengontrol emosi saya. Maaf...." Ya, hanya itu yang bisa aku bisa ucapkan pada CEO angkuhku itu.

"Maaf ya? Jadi, hanya maaf?"

"Ya?" Aku menengadahkan kepalaku saat mendengar pertanyaannya. Argh! Rasanya kepalaku benar-benar pusing di hari pertamaku bekerja ini.

"La-lalu? Saya harus berbuat apa, tuan?" tanyaku bingung. Dan shit! Kegugupan yang melandaku ini tak bisa aku hilangkan. Degupan jantungku selalu membuat aku tak nyaman.

"Kau, harus patuh dengan semua ucapanku. Baik di kantor, ataupun di luar kantor. Mengerti?" Apa!? Apa katanya? Aku harus mematuhi semua ucapannya meski di luar kantor? Hah, yang benar saja! Jika perintahnya itu yang macam-macam bagaimana?

"DITA KARANG, apa kau tuli?!"

"Ah, sa-saya...." Sial. Aku tersentak dari lamunanku saat lelaki itu mulai membentakku. Hah, oke Dita Karang... kau mulai takut sekarang.

"Ba-baiklah," ucapku lirih dengan susah payah. Lidahku bahkan kelu untuk menyetujui peraturan itu, agar ia bisa memaafkanku.

"Ok, sekarang kau harus mempersiapkan beberapa dokumen yang ada di map ini. Siang ini kita akan mengadakan meeting dengan client, tapi bukan di kantor ini. Melainkan di sebuah restaurant. Jadi, aku minta agar kau, tidak mengacaukan meeting hari ini. Mengerti?" Pertanyaan yang terlontar dari mulutnya itu dengan setiap penekanan yang ia tegaskan itu seperti mengintimidasiku lebih dalam. Aku hanya dapat membungkukkan tubuhku tanda mengerti.

Baru saja aku membereskan berkas-berkas yang akan di pakai untuk meeting nanti, seorang wanita memasuki ruangan CEO dengan langkah angkuh tanpa permisi. Ku lirik tuan Bang yang hanya dapat menggelengkan kepalanya, jengah. Wanita itu melirik sinis ke arahku. Apa maksudnya? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa padanya.

My Bad Boss is My Husband • HAN x DitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang