Bab 14 Kencan Pertama

9 1 3
                                    

Tak terasa satu tahun sudah Sofia bergabung di perusahaan travel milik Pak Pramono. Kini ia menduduki jabatan Senior Marketing di tim lima yang baru saja dibentuk oleh Abim karena makin meluasnya target marketing.

Berkat kepiawaian Sofia dalam berdiplomasi membuat timnya selalu melebihi target setiap bulannya. Ia pun pandai bekerja sama dengan timnya hingga terbentuk tim yang solid.

Selain karier yang menanjak, kehidupannya pun mulai membaik. Ia sudah pindah indekos di daerah Cempaka Putih agar lebih dekat dengan tempat kerja. Tempat indekosnya juga terbilang layak dengan fasilitas pendingin ruangan dan kamar mandi di dalam.

Perawatan wajah tak lupa ia lakukan, pemakaian rutin skin care yang cocok dengan kuli wajahnya membuat kecantikannya terlihat. Didukung pula dengan pakain berkualitas yang mendukung penampilannya.

Sebagai Senior Marketing bertemu dan rapat dengan pimpinan perusahaan menjadi agenda rutin. Diam-diam Abim sering memperhatikan kecantikan dan penampilan Sofia. Lambat laun rasa tertarik itu muncul di hati Abim. Namun, ia belum berani mengutarakannya ke Sofia.

Hingga suatu saat ketika ulang tahun perusahaan Abim menyempatkan diri menemui Sofia dan mengajaknya berbincang saat dinner. Ia memilih meja makan di sudut ruangan. Sudut ruangan yang tidak terlalu remang dengan meja makan yang dihiasi rangkaian bunga segar dominan putih itu tidak nampak mencolok dari pandangan tamu undangan yang berada di tengah ballroom

"Maaf, Pak Abim, saya tidak enak makan semeja dengan Bapak," ucapnya ketika mereka sudah menempati kursi dan meja makan.

Seorang pelayan datang membawakan dua gelas cocktail dingin serta beberapa jenis kue dengan potongan kecil.

"Tidak apa, toh mereka juga asyik dengan hiburan dan hidangan yang tersedia."

Sebuah lagu yang dibawakan seorang penyanyi seolah mewakili susana hati Abim saat itu. Dalam hati Abim ingin mengatakan ke Sofia, lagu ini khusus untukmu. Lagu lawas berjudul Cantik yang dipopulerkan kelompok musik Kahitna.

Sofia terlihat canggung berduaan dengan Abim. Ia lebih sering menundukkan wajah atau mempermainkan gelas cocktailnya. Biasanya Sofia cepat akrab, tetapi kali ini ia benar-benar bingung untuk memilih topik pembicaraan. Hingga akhirnya Abim yang lebih sering memulai pembicaraan.

"Sofia, nanati saya antar pulang ya."

"Maaf Pak Abim, saya bawa motor."

"Okelah." Nampak raut kekecewaan di wajah Abim.

Malam itu, Abim hanya bisa mengantarkan Sofia sampai tempat parkir motornya.

"Hati-hati, Sofia."

"Terima kasih, Pak Abim." Sofia tidak bisa menyembunyikan rasa malu dengan perhatian atasannya itu. Pipinya terasa menghangat.

Semilir angin malam yang menerpa wajahnya tak mampu merendam debar dalam dada Sofia atas perhatian lebih yang diberikan lelaki yang sesekali mampir dalam angannya.

Beberapa hari setelah acara ulang tahun perusahaan, Abim memberanikan diri mengajak kencan Sofia.

[Aku jemput di kosmu ya jam tujuh] Begitulah pesan singkat yang terkirim di handphone Sofia sore itu di hari Sabtu. Sofia yang sedang menikmati sore dengan secangkir teh dan novel kesayangannya merasa ragu untuk mnejawab, antara menerima atau menolak karena malu.

Sebenarnya hal seperti ini beberapa kali pernah terbayang di angan Sofia. Namun, ia menyadari posisi dan keadaan dirinya. Secara diam ia juga mengagumi Abim. Terkadang ia mencuri pandang menikmati wajah tampannya saat rapat.

Akhirnya dengan berbagai macam rasa berkecamuk antar malu dan ingin, Sofia membalas pesan Abim. [Baik Pak]

Usai membalas pesan, Sofia beranjak dari tempat duduknya. Ia menuju lemari pakaian untuk memilih baju apa yang akan dikenakan.

"Pakai baju apa ya, baju santai atau dress, eh tapi buat apa Pak Abim ngajakin aku pergi, apa urusan pekerjaan?" batinnya bermonolog.

Sofia memilah-milah baju yan digantung, tetapi tidak ada yang cocok, kemudian ia beralih ke baju yang ditumpuk.

"Pakai yang mana ya?" ulangnya pada diri sendiri. Ia masih bingung menentukan baju apa yang akan dipakai.

Setelah berdiri cukup lama di depan lemari, ia memutuskan mengenakan rok span berbahan denim sebatas lutut dipadukan dengan kaos merah tua berkerah. Untuk alas kaki ia akan mengenakan sneakers putih dengan variasi garis merah di bagian sisinya.

Azan maghrib berkumandang dari masjid yang terletak tidak begitu jauh dari tempat indekosnya. Ia segera berwudu dan melaksanakan kewajibannya. Usai salat, sambil menunggu waktu ia membaca kembali novel yang tadi sempat terhenti. Akan tetapi, pikirannya tidak bisa fokus. Ia masih mengira-ira maksud ajakan Pak Abim.

Tapi, Pak Abim tahu tidak ya tempat kosku, tadi kok enggak tanya ke aku ya? batinnya. Ia ingin menanyakan tapi malu.

Sofia mulai bersiap diri ketika jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Ia merias wajahnya tipis sehingga terkesan natural. Rambut sebahunya dikuncir kuda menyisakan anak rambut di kening dan tengkuk.

Tak lama kemudian sebuah panggilan dari Abim masuk ke handphone-nya.

"Sofi, sudah siap, saya sudah di depan kos."

"Eh ... iya, Pak, saya keluar." Sofia gugup menerima telepon dari Abim. Ia merasakan irama detak jantungnya lebih cepat dari biasanya.

Keluar dari gerbang indekos, Sofia melihat mobil Abim terparkir di pinggir jalan di samping pintu gerbang. Abim keluar dari mobil menyambut Sofia. Sofia terkejut ketika melihat penampilan Abim. Laki-laki berlesung pipit itu mengenakan celana panjang berbahan denim dan kaos merah tua berkerah dengan gradasi warna hampir sama dengan yang Sofia kenakan.

"Hai, masuk yuk," ajak Abim ketika melihat Sofia terdiam di tempatnya. Sofia masih merasakan heran dengan kostum serasi yang mereka kenakan tanpa sengaja.

Abim membukakan pintu mobil buat Sofia di bagian depan, dirinya kemudian memutar untuk masuk ke mobil di belakang kemudi.

"Kita kok sehati ya, pakai baju yang samaan," ucap Abim mengurai kesunyian di antara mereka.

Sofia merasa kikuk semobil dengan atasannya. Walaupun hal seperti ini pernah ia inginkan dan bayangkan. Sofia tersenyum menanggapi ucapan Abim.

"Kamu kenapa Sofi? Sakit? Kok diam saja."

"Eng ... tidak Pak. Sebenarnya ada perlu apa Bapak mengajak saya ya?"

"Jangan panggil saya Bapak, kan kita tidak di kantor, dan lagi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan." Abim menoleh sejenak ke arah Sofia.

Sedari tadi Sofia hanya memandang lurus ke depan, ia benar-benar merasa canggung. Apalagi Abim memintanya untuk tidak memanggil bapak.

Abim membelokkan mobilnya ke sebuah mal ternama di Jakarta. Setelah menyerahkan mobilnya ke petugas Valet Parking, ia mengajak Sofia masuk ke mal.

"Mau makan malam di mana?" Tangannya meraih tangan Sofia bermaksud ingin menggandengnya. Spontan Sofia menolak dengan menarik tangannya sendiri. Ia merasa kaget dengan perlakuan Abim.

"Maaf," ucap Abim.

*bersambung*

Menepis Nista, Meraih AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang