"Kalo saya tidur, jangan langsung di bawa ke ruang operasi ya, dok. Kasih saya waktu dulu buat mempersiapkan diri," pesan Gara pada dokter Brian yang akan menyuntikkan obat melalui infus.
Dokter Brian lantas menoleh ke arah pasiennya yang berbicara itu, sembari terkekeh, "iya, tapi gak bisa lama. dokter kasih waktu paling lambat sampai besok lusa," Balasnya.
"Ishh.." masker oksigen yang semula menutupi mulut dan hidung nya, sudah di ganti dengan nasal kanula. Jadi wajah Gara yang nampak cemberut itu terlihat jelas oleh mereka yang juga berada disana.
"Kok ish? Ooh, kamu mau lebih lama lagi di rumah sakit, ya? Tumben," Tanya dokter Brian setelah selesai menyuntikkan obat. Lalu berniat menggoda pasiennya itu.
Gara merotasikan bola mata nya malas.
Kalo aja sekarang gue bisa bangun dari ranjang, gue bakal kabur dari sini sekarang juga. Tapi sayangnya gak bisa. Duduk aja gak sanggup. Kepala pusing, dada juga sakit.Tidak mendapat sahutan dari pasien nya itu, dokter Brian pun hanya bisa tersenyum kemudian mengusak surai Gara. Lalu pamit undur diri.
Adryan mendekat ke samping ranjang sembari tersenyum senang. Ia bisa bernapas lega sekarang. Ia tidak perlu membujuk Gara. Putra nya itu bersedia dengan sendirinya untuk di operasi, hanya saja butuh waktu.
"Tidur, ya. Papa disini jagain sama Abang. Gak akan biarin kamu di bawa ke ruang operasi, sampai kamu udah bener-bener siap." Ujar Adryan sembari mengusap kepala Gara dengan lembut.
Mata yang nampak sayu itu menatap ke arah Adryan. Tidak perlu disuruh, Gara memang akan tertidur dengan sendirinya. Sebenarnya ia tidak mau tidur. Tapi efek obat membuatnya mengantuk dan kepalanya yang pusing membuat matanya semakin terasa berat. Tidak butuh waktu lama, netranya pun perlahan terpejam.
Di ruang rawat hanya tersisa Adryan dan Thaka saja yang menemani. Oma sudah pulang ke mansion selepas maghrib tadi, begitu juga dengan Shino. Awalnya Oma dan Shino ingin menginap di rumah sakit juga. Tapi Adryan melarang. Karena Gara pasti tidak akan mau jika terlalu banyak orang yang menjaganya. Dengan terpaksa Oma dan Shino pun menyetujui. Sebagai ganti nya mereka berdua akan datang lagi besok bersama anggota keluarganya yang lain.
Adryan menyuruh Shino untuk pulang ke mansion saja, tidak perlu menginap di apartemen Dani lagi. Karena Gara 'kan sedang dirawat di rumah sakit. Jadi Shino aman di mansion.
◾◾◾◾
Seperti sebelum-sebelumnya, Gara tidak pernah bisa tidur nyenyak saat berada di rumah sakit. Ia hanya bisa tidur setelah diberi injeksi obat. Itupun tidak lama, mungkin sekitar 3 jam saja ia tertidur tadi. Sekarang ia sudah terbangun kembali tapi matanya masih dibiarkan terpejam.Seperti dejavu, Gara merasakan hawa yang tidak nyaman di ruang rawatnya. Ia tidak tahu sekarang jam berapa, yang pasti masih tengah malam. Suasana ruang rawatnya itu terasa sunyi. Ia sama sekali tidak mendengar suara papa dan abangnya. Sepertinya mereka berdua sudah tidur. Harusnya salah satu dari mereka berjaga. Kalau sendirian terbangun seperti ini Gara harus bagaimana?
Gara yakin saat membuka mata nanti pasti langsung disambut dengan pemandangan yang tidak mengenakkan. Setiap menginap di rumah sakit ia selalu di ganggu oleh berbagai macam makhluk ghaib. Gara tidak takut, hanya saja ia tidak suka melihat mereka.
Mungkin jika di mansion Gara sudah mulai terbiasa dengan hantu yang berkeliaran di sekitar mansion. Tapi tidak untuk hantu di rumah sakit. Terlebih lagi hantu di ruang rawatnya yang selalu berganti-ganti. Mereka tidak menetap di ruangan itu, seperti sekedar lewat saja secara bergantian. Jadi sekarang ia tidak tahu hantu apa yang kini sedang berada di ruang rawat nya.

KAMU SEDANG MEMBACA
About Gara
General FictionTentang Gara menghadapi kekurangan dan kelemahan nya. 📢 Warning! - Ini cuma cerita fiksi ya! Jadi jangan terlalu dianggap serius! Buat hiburan aja! Ambil sisi baik nya, buang sisi buruk nya, okey! 💙😽