"Setiap orang terlahir jenius, tetapi proses hidup membuat mereka tidak jenius.
- Richard Buckminster Fuller -
××××××××
Hujan baru saja sedikit mereda, membuat Rael memutuskan untuk menuju ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku yang ingin ia baca. Ditengah perjalanan, Rael melihat sekelompok siswa laki-laki yang tengah bermain skateboard. Padahal, air hujan masih menetes walau tak sederas sebelumnya.
"Hei! Kau sedang memperhatikan siapa?"
Suara bisik tepat ditelingan Rael membuat Rael terkejut dan sontak berbalik.
"Oh maaf mengagetkan mu. Tapi tak sepantasnya siswi dari kelas peringkat mengamati kami cukup serius seperti itu."
Terlihat ramah terhadap Rael, suaranya juga terdengar lembut. Akan tetapi dari pembawaannya yang lembut itu, seolah ia sedang mengintimidasi Rael dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang yang Rael temui.
"Kata siapa aku sedang mengamati kalian? Aku hanya tak sengaja mampir karena melihat keseruan kalian. Sepertinya kalian cukup sensitif. Padahal aku tak melakukan apapun."gumam Rael
"Ah! Hahaha, maaf maaf. Lalu kau sebenarnya mau kemana?"
"Bukan urusanmu."cetus Rael lalu perlahan berlalu dari sana. Namun saat tak sengaja melihat Loyd, langkah Rael terhenti sejenak.
"Dia tak suka diamati seperti itu loh. Dia juga sangat menakutkan."
"Benarkah? Sepertinya tidak juga."jawab Rael dengan santai
"Ahahaah, kau ini memang menarik. Kau orang pertama yang mengatakan itu loh. Bagaimana jika kau melakukan sesuatu yang membuatku mengizinkanmu pergi dari sini? Aku benci seorang pembohong, dan seharusnya kau tau. Berkeliaran tanpa rekan-rekanmu disekitar sekolah cabang sangatlah berbahaya. Ini bukan wilayah yang dengan mudahnya kalian datangi sesuka kalian. Kalian ini tamu bagi kami."
Jelas jika mereka memang merasa tak nyaman akan kedatangan Rael dan yang lain dari kelas peringkat. Walau begitu, dengan tenang Rael menghadapi siswa laki-laki yang sedari tadi mengikutinya.
"Apa yang harus aku lakukan?"tanya Rael
"Kau lihat siswa laki-laki disana?"sembari menunjuk Loyd.
"Cobalah alihkan perhatiannya padamu. Jika berhasil, kau boleh pergi."sambungnya
"Hmmm! Jelas dia sedang mengetes keberanian ku. Ini aku Rael, dia pikir aku akan takut hanya karena seseorang itu menatap orang lain dengan tajam? Setiap hari juga aku melihat ekspresi wajah yang sama."pikir Rael sembari membayangkan wajah Azriel dan Farhan.
"Baiklah, setelah ini biarkan aku pergi."jawab Rael
"Tentu."
Rael kemudian berjalan mendekat sedikit, kemudian ia menatap ke sekeliling. Tak berselang lama, Rael mengambil sebuah kayu yang tergeletak tak jauh darinya. Melihat itu, siswa laki-laki tadi mengernyitkan dahinya.
"Apa yang anak itu sedang pikirkan?"
Siswa laki-laki itu terkejut saat Rael melempar kayu tersebut ke arah Loyd. Menyadari bahaya datang, Loyd langsung memiringkan kepalanya dengan santai. Sehingga berhasil menghindari kayu tersebut.
"Hah?"
"???"
"Apa yang terjadi?"
"Siapa yang melakukannya?"
"Anak itu? Apa dia yang melakukannya?"
Semua siswa laki-laki tersebut menatap Rael, termasuk Loyd. Merasa terancam, Rael segera menunjuk siswa laki-laki yang menantangnya tadi. Siswa laki-laki itu tersenyum lalu mengganggukkan kepalanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Blind And Bad Rivalry (END)
Mystery / Thriller[High School Of The Elit] Blind & Bad Rivalry, berfokus pada Azriel yang berpikir untuk membalas ayahnya, yang merupakan ketua gangster, sekaligus pewaris sebuah organisasi Namibian. Namun Azriel tak menyangka jika ada sebuah rahasia besar yang ters...