Bab 22 Penemuan Mengejutkan

2 0 0
                                    

Operasi utari berjalan dengan lancar, Tumor sebesar kurang lebih kepalan orang dewasa berhasil dikeluarkan.

"Nanti tumornya akan diperiksa di bagian patologi anatomi untuk memastikan adanya keganasan atau tidak," jelas dokter saat visit satu hari setelah Utari di operasi.

Pemulihan kondisi Utari usai operasi berjalan dengan baik. Empat hari kemudian Utari diperbolehkan pulang dan dipesan untuk kontrol sesuai jadwal.

Selama berada di rumah sakit, Sofia memantau bisnisnya lewat telepon. Peningkatan jumlah pelanggan yang signifikan membuat Sofia mantap untuk melebarkan sayap bisnisn. Ia sudah merencanakan memulai bisnis tur setelah Utari keluar dari rumah sakit.

Sofia menyewa sebuah ruko dua lantai di pusat kota Salatiga. Ia memperkerjakan dua karyawan. Satu orang di bagian administrasi dan satu lagi bagian marketing bersama dengan dirinya.

Agen bus pariwisata sudah ia ajak kerja sama. Beberapa penginapan di berbagai kota wisata juga sudah ia survey yang untuk selanjtnya diajak kerja sama. Paket wisata yang ingin ditawarkan sudah dibuat. Mulai dari paket sekoah hingga paket karyawan.

Menjelang libur sekolah Sofia mendatangi sekolah SMA-nya dulu bermaksud menawarkan paket wisata. Sekolahnya kini mengalami banyak perubahan. Menjejakkan kaki di sekolah dulu membuat beberapa kenangan saat menjadi siswa berkelebat dalam angannya.

Sofia bertemu dengan Bu Ani, wali kelasnya saat kelas tiga. "Saya Sofia, Bu," kata Sofia sambil mengajak Bu Ani bersalaman.

"Sofia ...." Bu Ani berusaha mengingatnya. Sofia menybutkan tahun angkatannya.

"Oh ya, ya, yang dulu ikut lomba MIPA ya. Duh cantiknya sekarang."

Setelah beramahtamah sebentar Sofia mengutarakan maksud dan tujuannya. Ia dipertemukan dengan kepala sekolah.

"Ini memang baru tempat pertama yang saya kunjungi untuk menawarkan jasa tur saya, tapi insayallah tidak mengecewakan, waktu di Jakarta saya bekerja di perusahan tur juga,Pak," kata Sofia meyakinkan selesai memaparkan paket wisatanya.

"Baiklah, nanti saya hubungi lagi setelah ada kesepakatan dari kami."

Setelah dari SMA-nya, Sofia melanjutkan ketempat lain sesuai dengan daftar yang sudah ia buat. Awal memulai usaha adalah perjuangan yang berat. Sama seperti saat ia membuka usaha agen dahulu. Bebrapa penolakan ia terima. Bisa jadi karena usahanya masih baru, hingga ada yang belum percaya. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Ia terus melakukan penawaran sekaligus membuat iklan lewat media cetak maupun media sosial.

Sementara itu diam-diam Sania memeriksakan diri untuk memperjelas dugaan penyakit sesuai dengan hasil pemeriksaan saat persiapan donor darah. Ia periksa ke dokter umum dan mendapat rujukan ke dokter spesialis penyakit dalam. Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan Sania dinyatakan positif mengidap HIV.

"Tapi saya tidak merasakan apa-apa, Dokter," kata Sania saat memeriksakan diri.

"Memang kalau HIV tidak langsung memberikan tanda dan gejala setelah tertular, gejalanya akan timbul sekitar sepuluh tahun virus masuk ke tubuh."

"Bisa di sembuhkan tidak, Dokter?"

"Sejauh ini pengobatan HIV hanya menekan jumlah virus yang beredar di dalam tubuh, jadi nanti anda minum obat ARV untuk menekan jumlah virus seumur hidup anda."

Sania syok mendengar penjelasan dokter. Kebahagiaan semu dalam kehidupan yang ia jalani selama ini memberikan hasil yang menghancurkan dirinya seumur hidup.

"Ini resep untuk pengambilan obatnya, bisa diambil untuk satu bulan, nanti bisa beli lagi menggunakan copy resep. Setiap enam bulan sekali anda harus cek kadar virusnya kembali."

"Baik dokter, terima kasih."

Sania keluar dari ruang praktek dokter dengan lunglai. Gumpalan air mata di kelopak mata seolah mendesak ingin keluar. Ia memutuskan untuk ke kantin sebentar sekedar menenangkan diri sebelum ke apotek.

Bayangan kesenangan hidup yang ia jalani berkelebat dalam pikirannya.

Waktu itu setelah lulus SMA, Sania merasa senang mendapatkan hadiah beberapa baju bermerk, sepatu, tas dan perhiasan mahal dari Om Hermawan salah satu pelanggan ibunya. Ia diajak ke Bali selama dua minggu. Ia sangat menikmati kebersamaannya dengan Om Hermawan walaupun ia harus menggadaikan tubuhnya.

Selain berwisata, selama di Bali Sania dikenalkan dengan dunia foto model dewasa. Ia mendapat bimbingan khusus dari fotografer yang merupakan mitra kerja Om Hermawan sebagai pengorbit calon foto model.

Bermodal wajah cantik serta tubuh yang indah Sania mendapat berbagai penawaran pemotretan setelah selesai mengikuti kursus kilat sebagai model. Untuk sementara Om Hermawan menjadi manager Sania. Kehidupan sebagai foto model dewasa tak jauh dari kehidupan gemerlap dan pergaulan bebas.

Sekitar enam bulan Om Hermawan menjadi manajer Sania. Setelah mendapatkan calon foto model baru, Om Hermawan menyerahkan ke Ferdy menjadi manajer Sania sekaligus fotografer.

Selaku manajer, selain hal-hal yang berhubungan dengan foto model, Ferdy juga memberikan side job untuk melayani lelaki hidung belang. Hal ini membuat pundi-pundi Sania makin cepat bertambah. Kehidupan mewah ia jalani bersamam manajernya.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Kini Sania tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain menerima kedaan dirinya yang dihinggapi virus. Usai menghabiskan es jeruknya, Sania menuju apotek yang berada di bagian depan rumah sakit.

Sesampainya di rumah Sania menyimpan obat di tempat yang tersembunyi. Ia tidak ingin ibu dan adiknya mengetahui keadaan dirinya. Hari-hari selanjutnya ia jalani seperti biasa walaupun kini ada rutinitas baru yaitu minum obat setiap hari.

Sementara Sofia sibuk dengan bisnisnya, Sania menemani dan merawat Utari. Beralasan ingin merawat ibu yang sakit Sania berpamitan ke Ferdy dan tidak akan kembali ke dunia foto model.

Makin hari kondisi kesehatan Uatri makin membaik. Kini, tubuhnya sudah terlihat segar walaupun wajahnya masih terlihat tirus. Kedua bisnis milik Sofia juga makin berkembang.

"Mbak Sania mau pegang agen bis tidak, usaha tur makin lama makin menyita banyak waktu," kata Sofia di suatu malam ketika mereka bertiga menikmati makan malam.

"Nanti ibu dengan siapa?" Sania melihat ke arah Utari yang sedang menyuapkan nasi terakhirnya.

"Ibu tidak apa-apa sendiri, nanati bisa di temani Yu Rahmi," jelas Utari setelah menelan nasi dalam mulutnya. Ia meraih gelas berisi air putih yang berada disebelah piring makannya. Separuh gelas ia habiskan.

"Ibu vitaminnya jangan lupa," kata Sofia sambil mengambil sebutir vitamin yang masih rutin dikonsumsi Utari.

"Baiklah kalau Ibu tidak keberatan. Aku juga tidak kerja lagi ke Semarang biar kita bisa berkumpul kembali seperti dulu."

Masa-masa bahagia saat mereka kecil masih terkenang di benak Sania maupun Sofia. Utari lega dan merasa senang mereka akan berkumpul kembali.

"Mulai besok kita ke agen ya. Nanti aku ajari manajemennya." Sania menagngguk mengiyakan.

Keesokan harinya Sofia ke kamar Sania bermaksud meminjam sisir. Ia membuka laci meja rias. Sofia terkejut melihat banyak obat dalam kantung plastik bertuliskan nama sebuah rumah sakit.

"Mbak Sania sakit apa ya," batinnya heran.

*bersambung*

Menepis Nista, Meraih AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang