11 | Shirokawa-senpai

71 3 0
                                    

Esoknya, sepulang sekolah, aku berjalan menuju rumah Hibiki sendirian. Chiiharu sudah pulang lebih dulu dengan teman-temannya untuk melakukan kerja kelompok. Lagipula, aku masih ada tugas piket.

Sesampainya di rumah Hibiki, aku disambut oleh Bibi Kurosawa. Aku berjalan melewati ruang tengah, di mana hanya terdapat tas-tas yang tergeletak, dan buku-buku yang terbuka di coffee table yang berwarna krem itu. Aku teringat, dulu aku dan Hibiki mengerjakan tugas biologi di situ juga. Tapi, ke mana Chiiharu? Mungkin ke kamar mandi, atau ke kamar Hibiki. Tapi teman-temannya? Entahlah. Aku menaiki tangga, menuju kamar Hibiki. Setelah sampai di depan kamar Hibiki, sebelum aku mengetuk pintu, aku mendengar suara ribut-ribut dari dalam. Tidak terlalu keras, tapi masih terdengar jelas di telingaku.

"Chii-chan, kok tidak bilang kalau kakakmu sakit?"

"Iya tuh! Aku kan ingin menjenguk Kurosawa-senpai."

"Ya mau bagaimana lagi, Nii-chan kan biasanya gitu. Sok misterius. Kemarin saja Riku-senpai sempat ke sini."

"Hoi! Apa maksudmu Chii-chan?! Sok misterius apa?! Awas kamu yaaa!"

"Aduh! Masa aku dilempar bantal sih? Mau perang bantal?"

"Wah mau perang bantal? Kami ikutan ya? Boleh ya, Chii-chan? Kurosawa-senpai?"

"Ya jangan dong! Nanti kalau kena tangan kananku bagaimana? Bisa kena marah Ayah."

"Oh iya Kurosawa-senpai, katanya, Riku-senpai mau ke sini ya nanti?"

"Eh? Riku-senpai?"

"Riku-senpai?"

"Iya, Riku. Mungkin kalian hanya tahu nama keluarganya saja? Shirokawa Riku."

"Hee ... Shirokawa-senpai yang mana?"

"Itu, yang kapten tim basket putri. Sekelas sama Kurosawa-senpai kok."

"Wah, kok aku tidak tahu ya?"

"Padahal dia populer loh, ya kan Chii-chan?"

"Iya, Riku-senpai populer kok! Kalian saja yang tidak pernah sadar."

"Oh begitu ya?"

Sejenak, aku tertawa perlahan di depan kamar Hibiki sambil berjongkok. Teman-temannya Chiiharu benar-benar deh. Hahaha... Aku jadi ingin tahu bagaimana reaksi mereka kalau aku mengetuk pintu kamar yang ada di depanku ini. Aku kembali berdiri, merapikan baju, dan siap-siap menahan tawa. Lalu, dengan perlahan, aku mengetuk pintu sebanyak tiga kali.

"Siapa?"

"Ibu?" Aku mengenal suaranya. Ini pasti Chiiharu.

"Masuk saja, Bibi!" Kata seorang yang lain. Aku nyengir.

"Bukan, ini Riku. Shirokawa Riku."

"Hah? Shirokawa-senpai?"

"Tidak salah nih?"

"Riku?" Kali ini suara Hibiki.

"Wah, bagaimana ini? Jangan-jangan Shirokawa-senpai mendengar apa yang kita bicarakan tadi?!"

"Memangnya Shirokawa-senpai yang mana sih? Aku ingin lihat."

"Waduh! Bagaimana ini? Geser, geser! Jangan terlalu dekat dengan kasur Kurosawa-senpai! Nanti dikira kita ngapain lagi." Astaga, anak-anak ini ...

"Hah? Hahahaha!!!" Kali ini Hibiki tertawa. Aku ikut tertawa, tapi pelan, sepelan mungkin.

"Dasar kalian!"

"Sssst! Diam, diam semua!"

"Chii-chan, kasihan tuh Riku nungguin di luar. Buka pintunya sana."

"Iya, iya. Ini juga mau berdiri." Mendengar itu, aku berusaha menahan tawa dan berekspresi datar. Kemudian pintu dibuka. Kepala Chii-chan melongok keluar.

Slamdunk My HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang