Prenuptial agreement sebenarnya apa pentingnya dari perjanjian pranikah ini? mungkin bagi banyak orang hal ini cukup dikatakan saja, tidak perlu mengunjungi notaris dan bertanda tangan dibawah sebuah surat perjanjian.
Bagi Ellouisse ini adalah hal...
Pagi itu suhu tubuh Eden sudah menurun, tapi belum begitu pulih. Ellouisse berencana membawa Eden ke toko bunganya, sembari merawat gadis kecil itu ia bisa menyelesaikan pesanan hari ini. Karena jika sedang tidak sehat Eden akan terus menolak dibawa ke daycare.
"Kael, apa kita akan bertemu dengan Ka Mi?" Mendengar pertanyaan adiknya, Ellouisse memutar otaknya. Siapakah gerangan Miel yang disebut adiknya tersebut. "Mi? Siapa?" Tanya Ellouisse pada adik 3 tahunnya tersebut.
Eden terdiam, entahlah mungkin ia sedang memilih bahasa yang tepat. "Yang membawa sup malam.." Mikhael, benak ellouisse berkata yang dimaksud Eden adalah Mikhael.
"Mikhael?" Tanya Ellouisse sekali lagi. "No, Kael is you and Ka Mi is him." Oke I understand, anak kecil berumur 3 tahun ini menyukai Mikhael rupanya. Hingga pagi pagi begini ia mencari keberadaan Mikhael, yang jelas Ellouisse sendiri tidak peduli.
Tidak ingin pembicaraan ini berputar pada Mikhael terus menerus, Ellouisse mengalihkan pembicaraan mereka tentang kegiatan Eden di daycare nya. "Miss di daycare ajarin Eden apa aja?" Ucapnya. "We read alphabet, singing and eating." Jawab Eden sambil menunjuk nunjuk jarinya layaknya menghitung kegiatan kesehariannya di daycare.
"Jadi Eden sudah bisa baca?" Eden terdiam mendengar pertanyaan Ellouisse kali ini, "ya, hanya saja Eden bisa membaca A, B, C.."
Mendengar penuturan adiknya tersebut Ellouisse sangat gemas. Adiknya yang berusia 3 tahun ini sangat bisa menghiburnya. "Nanti kita belajar membaca bersama ya.." Eden terlihat bersemangat. "With Ka Mi too?" Gadis berusia 24 tahun itu mwnghembuskan nafas dengan berat. "No Ka Mi, just me." Eden pun terlihat sedih dengan jawaban kakaknya yang menurut nya tidak asik.
°°°°°°°
"Ka Mi.. This is Eden. Ka Mi, can you pick me up here, Kael is so busy with the flowers. She said she wanna teach me alphabet but she just busy with flowers."
"....."
"Okay Ka Mi, i'm waiting for you..."
Pip!
°°°°°°
"Elyséen.. Kael found the book. Ayo belajar alphabet." Ucap Ellouisse yang telah menyelesaikan pesanan bunga hari itu dan bersiap akan mengajarkan. "Eden think Kael will very busy with the flowers." Ellouisse mengelus surai adik 3 tahunnya itu dengan lembut. "Kael tidak sesibuk itu Elyséen."
Buku alphabet terbuka dan sebagai seorang kakak Ellouisse mengajarkan adik nya yang masih belia membaca huruf huruf alphabet tersebut. Membaca satu persatu beserta contohnya. "D for Dinosaurs." Ucap Eden sang adik ketika melihat gambar dinosaurus pada buku alphabet nya. "Kael, dinosaurs are a real creatures isn't it?"
Belum sempat Ellouisse menjawab, lonceng pada pintu tokonya berbunyi pertanda ada pelanggan yang datang. Ia memberikan isyarat pada Eden agar tetap diam disana dan menunggu. Namun, betapa terkejutnya Ellouisse ketika yang ia lihat adalah Mikhael bersama adiknya Jeremy, berada di tokonya entah untuk apa. Aah mungkin mereka akan memesan bouquet bunga.. Entahlah.
"Ka Mi! You come!" Mendengar ucapan adiknya membuat Ellouisse menaruh curiga besar pada adik 3 tahunnya tersebut. "Élyséen.." Ellouisse meninggikan suaranya memanggil sang adik, berharap mendapatkan kejelasan. "No Kael, I just called Ka Mi for pick me up cause you are busy wih the flowers." Jawab Eden dengan polosnya. "Kak Mikhael maaf merepotkan mu.. Tapi tidak usah kak, Eden tidak terlantar kok tadi, cuma sedikit kesepian aja dia." Jawab ellouisse.
Jeremy yang berada di tengah tengah perbincangan meledak tawanya. Bagaimana bisa dua orang ini berbicara dengan sangat formal? Seharusnya mereka menjadi dekat, ini malah canggungnya terasa sampai sumsum tulang belakang. "Kenapa lo ketawa?" Mikhael yang merasa ada keanehan dari adiknya itu menanyakannya.
Jeremy berusaha menghentikan tawanya "both of you such a funny things. Kalian formal banget, canggung banget. Santai aja ngapa dah." Ucapan Jeremy tadi membuat baik Mikhael dan ellouisse berpikir, tapi tidak perlu banyak berpikir karena begitu ellouisse mendapat persetujuan untuk berbicara informal, maka Mikhael juga melakukannya.
"Jadi gimana, Eden boleh gue jemput?" Kalimat informal pertama yang diucapkan Mikhael. "Aduuh kak Mikhael, lo gausah repot repot sebenernya sampe kesini. Élyséen emang agak lebay aja tadi. Lo berdua pasti sibuk juga kan?" Ellouisse menolak dengan halus, ia tidak enak jika Eden merepotkan keduanya.
"Kael.. Can I go with them? Ka Mi and uncle Jemy?" Mendengar dirinya disebut dengan sebutan uncle, Jeremy sedikit tersentak dan sebal. "Dude.. am I look that old?" Tanya nya pada sang abang. "Eden, you can call him by Kak Jeremy, can you?" Eden mengerjap berusaha mengerti. "Yes, I can." Jawabnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Eden menatap kakaknya memohon, "Kael, let me go with them please..." Ellouisse kalah, tatapan memohon adiknya ini sangat meracuni otaknya. Ia tak sanggup mengatakan tidak. "Ini tidak akan merepotkan kami, El. Eden juga anak yang penurut bukan."
Sepertinya Ellouisse benar benar harus mengizinkan Eden bermain sebentar. "You win Élyséen." Final Ellouisse.
Ellouisse menggendong kan tas yang berisikan baju ganti Eden pada bahu anak berusia 3 tahun tersebut. "Be a good girl Élyséen." Ucapnya yang mendapat anggukan.
"Kak Mikha, Jer, maaf banget ngerepotin kalian. Gue titip Élyséen sama kalian ya." Mendengar hal itu Jeremy dan Mikhael tersenyum ramah.