"Kita ini sama-sama bobrok, Lo." Ujarmu sambil mencium tengkukku. Aku cuma terkekeh. Mengiyakan omonganmu yang mulai ngelantur itu. Buru-buru aku menarik tubuhmu dalam pangkuanku dan mengecup lembut bibirmu. Kupikir kau sedang nge-fly. Mencuri start pesta yang sudah kita rancang malam ini. Tapi kulihat morfin plus jarum suntik itu masih terbungkus rapi di atas meja.
Tiba-tiba aku teringat pertengkaran kita tiga hari yang lalu. Kamu bilang kita tidak bisa membangun sebuah cinta. Bah! Omong kosong. Bilang saja kamu sudah menemukan orang yang lebih kaya di luar sana. Hipokrit. Uang selalu jadi pemenang. Memuakkan.
Kamu juga mengungkit-ungkit soal Tuhan. "Kita ini bukan makhluk beragama, Ve." Bantahku waktu itu. "Tuhan tidak berhak menghukum dan mengadili kenistaan kita. Kita juga bukan tamu Tuhan yang gemar mengunjungi masjid, gereja, atau vihara. Jadi tak perlu menerapkan ilmu theologimu di sini."
"Kamu tahu, apa impian setiap wanita di dunia?" Matamu sangat berbinar waktu kamu mengatakan itu. Membuat kemarahanku ini menguap. Dan berubah jadi senyum yang tidak ingin kehilanganmu. "Pernikahan, Lo. Kamu mau? Kamu akan menikahiku, bukan?" Aku mengangguk pelan kemudian memelukmu dengan penuh gairah.
Tapi tahukah kamu, apa yang ada dalam pikiranku waktu itu? Menikah itu mahal. Menikah itu cuma buang-buang waktu. Menikah itu tradisi konyol orang-orang konservatif. Menguras seluruh tabunganku, hanya untuk jadi manekin hidup yang dipertontonkan di depan tamu undangan. Yaitu para penjilat yang mengaku kerabat dan kolega ayahmu yang makan uang haram itu.
Selain itu, ibumu pasti tidak sabar menantikan iblis kecil yang akan mengganggu waktu tidur kita. Aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak tertarik untuk memiliki keturunan. Aku hanya mau menghabiskan waktu berdua saja denganmu. Menyenangkan bukan?
Tidak peduli itu pagi, siang, atau malam kamu selalu bertanya, "Apakah kamu mencintaiku, Lo?" Aku cuma tersenyum simpul menanggapi kalimatmu yang terkesan haus validasi itu. Sejujurnya, aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak paham apa itu cinta. Bagiku, cinta itu sepenggal kata yang digaungkan orang-orang egois untuk memenjarakan pasangannya. Cinta itu reaksi kimia, kan? Jelas, cinta itu cuma mitos.
Yang pasti aku tidak bisa hidup tanpa bercumbu denganmu. Dan tentu saja obat-obat itu. Aku ingat saat kamu lupa membelinya dari temanmu yang berprofesi sebagai dokter spesialis jantung. Aku sakau. Katamu aku sesak napas, kejang, dan berujung pingsan. Dalam pandanganku yang kian kabur, kulihat kamu menangis tersedu-sedu.
Saat siuman, kamu tidak henti-hentinya menciumiku. Ya, akulah pria beruntung itu. Karena masih hidup dalam dekapan wanita secantik bidadari sepertimu. Kamu bilang, kamu berdoa pada Tuhan dan meminta Dia meminjam salah satu nyawa dari kucing tetanggamu. Aku tahu kamu membuat lelucon itu untuk mengalihkan perhatianku dari wajah sembab dan mata yang sayu milikmu yang mirip orang tidak tidur seminggu.
Sebenarnya aku bosan hidup seperti ini, Ve. Tapi aku terlanjur masuk dalam kubangan dosa yang menggiurkan itu. Aku sudah ditakdirkan jadi alas kaki setan di neraka kelak. Kalaupun suatu saat aku mati, pasti perlu puluhan orang yang menggotong mayat manusia dengan dosa segunung ini.
Tiba-tiba aku sempoyongan. Huh! Bukannya aku hanya menghabiskan satu botol kecil saja di bar tadi? Ternyata memang ada guncangan hebat. Kulihat kamu terlempar ke sudut kamar, lalu mengaduh kesakitan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sialan. Bangunan ini roboh. Mengubur dalam-dalam cinta kita. Ah, lebih tepatnya nafsu kita.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love and Shit
RomanceCinta tak selamanya indah. Tak selalu berakhir happy ending. Kadang-kadang, cinta itu cuma omong kosong dan membuat kita jadi bodoh. Jadi, sebodoh apa kamu saat jatuh cinta?