24. Manipulatif?

1.3K 257 30
                                    

"Apa yang coba kau lakukan?"

Jisoo merasakan jantungnya hampir terlepas. Entah kebodohan apa yang hampir dia lakukan tadi. Jisoo seakan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Matanya tidak berani melihat kearah Jennie, pikiranya berputar cepat untuk mencari alasan. Sayangnya, Alasan apapun yang Jisoo pikiran tidak cukup bagus untuk membenarkan tindakan nya.

"A..Aku–"

"Hm? Apa yang kalian lakukan berdiam diri disini?"

Ucapan Jisoo dipotong oleh perkataan Rose membuat nya tanpa sadar menghela napas secara batin. Kemunculan Rose yang tiba-tiba bagai penyelamat, agar dia tidak perlu mencari alasan untuk menjelaskan tindakan nya tadi. Pada akhirnya, Jisoo hanya bisa menunduk. Namun, dia bisa merasakan tatapan Jennie yang seakan menembus tubuhnya.

Melihat tidak ada yang menghiraukan perkataan nya. Dahi Rose seketika terlipat saat menyadari suasana di dalam bilik itu. Unnie nya sedang melihat Jisoo dengan tatapan Dingin, sedangkan Jisoo seperti anak ayam yang gemetar ketakutan berharap untuk di selamatkan.

"Kalian kenapa sih?!" Rose berkata dengan tidak sabar saat kedua orang di depan nya masih saling berdiam diri. "Oppa! Kemari! Untuk apa kau berdiri di sana!"

Rose segera menarik Jisoo keluar dari bilik toilet setelah mengatakan itu dan menyeretnya ke belakang tubuhnya menghalangi pandangan dingin mata Jennie. "Jangan kira karena kau bisa masuk ke toilet wanita. Kau mau macam-macam dengan Unnie ku?!" Lanjut Rose sambil memelototi Jisoo di Belakangnya

"A-Apa?! A-Aku tidak!" Bantah Jisoo dengan gugup karena Rose hampir menebak dengan benar.

Rose menatap Jisoo meyelidik sebelum mengalihkan perhatian nya kearah Jennie. "Dan Unnie. Berhenti menatap Jisoo Oppa seperti itu. Apa kau tidak liat dia ketakutan?"

Jennie hanya diam sambil mempertahankan wajah dingin nya. "Aku membawakan mu air. Minum ini agar kau lebih baik. Unnie." Rose berkata sambil menutupi Jisoo dari pandangan Jennie. "Tapi, karena Unnie sudah bisa memelototi orang seperti itu, berarti Unnie sudah mendingan."

Rose lalu mengulurkan botol air kearah Jennie. Melihat Jennie yang tidak berniat mengambil botol yang ada di tangan nya. Rose akhirnya menarik tangan Jennie dan dengan paksa memberikan Botol air langsung ke tangan Unnie nya.

Rose mengangguk puas saat Jennie menggenggam botol air pemberian nya. "Karena sudah selesai. Ayo kita keluar. Aku lapar!"

Rose berlalu pergi begitu saja sambil menyeret Jisoo keluar bersamanya.

"Maaf... " Ucapan Lirih Jisoo sebelum keluar berhasil di dengar oleh Jennie. Jennie bisa melihat Jisoo yang di seret keluar. Tetapi, Dia tidak bergerak, tetap berdiam diri di dalam bilik. Dia menunduk memperhatikan botol air di tangan nya.

Setelah kepergian kedua orang itu, Jennie bersandar kembali pada dinding di belakangnya. Tanganya meremas kuat botol air mineral. Perlahan, Jennie menutup mata nya mencoba menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdegup dengan kencang.

"Apa yang coba kau lakukan, Jen...?" Tanyanya lirih pada diri sendiri.

Lima menit kemudian, Jisoo akhirnya melihat Jennie yang berjalan kearah meja mereka. Jisoo sebenarnya takut untuk melihat Jennie. Tapi, rasa takutnya dikalahkan oleh rasa kekhawatiran. Untuk itu, Jisoo terus melihat Jennie sampai dia duduk di sebelah Unnie nya.

Meja tempat mereka sama seperti kebanyakan foodcourt pada umum nya. Dengan dua meja yang berdempetan dan empat buah kursi yang ditata saling berhadapan.

Dimana Jisoo duduk di depan Unnienya. Sedangkan Jennie duduk di depan Rose.

"Sudah lebih baik?" Tanya Irene sesaat setelah Jennie duduk di sampingnya. Jennie hanya memberikan anggukan Ringan sebagai jawaban. "Jika tidak nyaman. Apa kau mau pindah ke restoran tempat kita makan biasanya, Jen?" Tanya Irene lagi. Tidak ada yang protes dengan perkataan Irene walaupun sudah ada makanan yang tertata rapi di meja mereka.

My Baby's Daddy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang