Prenuptial agreement sebenarnya apa pentingnya dari perjanjian pranikah ini? mungkin bagi banyak orang hal ini cukup dikatakan saja, tidak perlu mengunjungi notaris dan bertanda tangan dibawah sebuah surat perjanjian.
Bagi Ellouisse ini adalah hal...
"Morning bunda.." Ucap Mikhael yang sudah menempati kursinya di meja makan. Tapi, ia merasa seperti ada yang kurang. Ellouisse, Ellouisse tidak ada di tempatnya.
"Ellouisse tadi pagi terburu buru, ia bilang ada banyak pesanan yang belum terselesaikan. Nanti, kamu antar eden ke tempat latihan ballet nya ya Mikha.."
Mikha hanya mengangguk, menyanggupi perkataan bundanya. "Oh ya Mikha, tentang Eden yang tinggal sama bunda aja.. Sudah kamu diskusikan dengan Ellouisse?" Mikhael terdiam mendengar pertanyaan bundanya. Aah apa lebih baik bundanya saja yang mendiskusikannya dengan Ellouisse?
"Bun, kayanya lebih baik bunda aja deh yang diskusiin sama Ellouisse.. Mikhael ga yakin Ellouisse izinin Eden pisah sama dia."
Yemimah mengerti, apa yang anak sulungnya ucapkan tidak salah sepenuhnya. Mereka melanjutkan sarapan nya dengan tenang, terkecuali Mikhael. Ia benar benar harus berbicara dengan Ellouisse.
°°°°°°
Selepas mengantar Eden ke tempat latihan Ballet nya, Mikhael tidak langsung pergi ke studionya. Ia justru pergi mengunjungi toko bunga Ellouisse. Namun, ia hanya menemui beberapa staff yang sedang berjaga disana. "Bu Ellouisse nya sedang pergi membeli bunga yang lain. Biasanya akan kembali lagi setelah makan siang. Ada yang mau dipesan pak?"
Tidak, Mikhael tidak ada niat mau memesan apapun. Ia datang untuk berbicara dengan Ellouisse. Jadi, ia memutuskan untuk pergi dari toko tersebut dan menuju studionya.
Aah sepertinya Mikhael tidak akan fokus pada pembuatan lagunya saat ini. Ellouisse benar benar mampu mengacaukan pikirannya sedari semalam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jelas, ellouisse dengan jelas melihat postingan dari Jeremy tersebut. Ekspresi yang menunjukkan bahwa seseorang di foto tersebut tidak dalam mood yang bagus. 'Pasti karena kemarin ambil libur dan sekarang kerjaannya menumpuk' batin Ellouisse berkata itulah hal yang kini Mikhael rasakan.
Sebenarnya Ellouisse tidak benar benar mencari bunga seperti yang Mikhael dengar dari staff nya disana. Ia mencari bunga, tetapi sekaligus menenangkan pikirannya. Ia pergi bersama brielle karena tak mungkin baginya untuk mengajak Jayden atau Benjamin. Itupun ia mengatakan pada brielle untuk tidak memposting apapun di akun burung birunya. Brielle hanya bisa setuju.
"Lo udah coba denger penjelasan Mikhael belum el. Gue tau, nyokap lo itu gabakal ngasi alasan, gue juga paham el nyokap lo gapernah memberi lo kesempatan untuk memilih. Tapi, ini Mikhael. Dia pasti belum tau apapun di hidup lo. Kalo lo mau dengerin penjelasan dia, mungkin lo bakal dikasi kesempatan untuk nolak keputusan bundanya itu." Brielle berusaha menenangkan sahabatnya, berusaha memberikan sedikit masukan pada teman baiknya ini.
"Tapi Bri, lo tau kan.. Gue nikah sama Mikhael pun tanpa persetujuan gue. Dan Mikhael pun sepertinya tidak setuju, tapi karena itu sudah direncanakan bundanya dan Mama gue. Dia mau tidak mau setuju. Tentang pertunangan saja awalnya gue kaget banget loh... Baru dikenalin tiba tiba tunangan. Mikha.. Pasti ngalamin hal yang sama..."
Mendengar spekulasi dari sahabatnya mengenai keluarga baru sahabat nya tersebut membuat brielle tersenyum dan memeluk si wanita 24 tahun tersebut. Menenangkannya agar tak berpikiran sangat jauh.
"Lo tenangin diri lo dulu el, setelah semua energi negatif hilang, baru lo bisa ngobrol sama Mikhael atau sama bundanya langsung deh. Kalo lagi gini, lo malah nyeret mereka ke masa kecil lo. I know.. Yang saat ini meraung raung bukan lo, tapi Inner child lo yang ngga pernah di denger sama nyokap lo.. Gue paham banget."
Mata Ellouisse terbuka, perkataan brielle barusan ada benarnya. Tak biasanya ia seperti ini. Memang, sepertinya Ellouisse sudah terlalu lelah dengan mamanya. Apalagi saat ini mama nya itu pergi entah kemana. Meninggalkan nya dan Eden.
Yah memang harusnya sudah terbiasa jika ia ditinggal mamanya tanpa tahu kemana. Tapi, kali ini sangat menyakitkan karena Ellouisse yang sudah terlalu lelah. Brielle benar, ia harus mencari tempat untuk menenangkan diri.
Tempat yang mereka kunjungi saat itu memanglah tempat yang tepat. Perbukitan dengan hamparan hijau dan taman bunga yang membentang. "Maaf ya, kayanya gue cuma bisa nemenin lo sampe sebelum makan siang. Suami gue rewel banget makan siang kudu bedua." Ucap brielle setelahnya dan meninggalkan Ellouisse disana sendirian.
Banyak hal yang Ellouisse pikirkan saat itu, namun dampak ucapan brielle lah yang membuatnya berpikir jika ia memang harus berbicara dengan Mikhael.
Setelah ia rasa ia cukup kuat. Ellouisse beranjak dari tempat tersebut, ia berjanji akan menjemput Eden dan mengantarnya mengambil kostum untuknya tampil.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°°°°°° Seharusnya Mikhael mengecek ponselnya sebelum ia datang kembali ke toko bunga milik Ellouisse. Atau setidaknya ia menghubungi si pemilik toko. Karena yang ia dapatkan adalah toko bunga Ellouisse yang sudah tutup. Tak ada staff atau siapapun di dalamnya. Padahal si staff tadi mengatakan Ellouisse akan kembali setelah makan siang. Namun yang ia dapati justru tak ada orang disana.
"Lo kenapa dah bang? Lagi bertengkar sama el?" Tanya Jeremy. Jeremy mengatakannya karena ini seperti hal tidak biasa. Bagaimana mungkin Mikhael tidak tahu jika istrinya menutup tokonya lebih cepat dari biasanya? "Balik aja bang yuk, mungkin karena bunganya susah dicari jadi el tutup lebih cepat. Atau dia mengerahkan semua staffnya buat nyari bunga itu."
"Kalian berdua kenapa disini?" Sebuah suara membangunkan keduanya dari lamunan. Disana ada Ellouisse yang sedang berusaha membuka tokonya kembali. Dengan beberapa kantong bunga di tangannya.
"Lo nggak tutup el?" Jeremy malah menjadi bingung. "Kaga.. Tadi staff gue lagi ada masalah makanya gue suru tutup dulu soalnya gue lagi cari bunga sekalian jemput Eden tadi." Jawab Ellouisse. Wanita 24 tahun itu mendapat tatapan yang sangat intens dari suaminya membuatnya heran dan bertanya "lo kenapa dah kak?" Sembari mempersilahkan tamunya untuk memasuki tokonya.
"Kamu tuh yang kenapa?" Begitulah sahutan dari Mikhael, membuat Ellouisse mengerutkan keningnya tanda ia berpikir keras. "Gue... Nunggu di luar aja kali ya.." Ucap Jeremy yang akan keluar dari pintu tersebut tapi ditahan oleh Ellouisse. "Bahaya, lo public figure." Ucap Ellouisse kemudian.
'Oke... Gue jadi penengah keributan aja deh' batin Jeremy.
"Lo yang kenapa kak..." Belum selesai kalimat yang akan dikeluarkan oleh Ellouisse, Mikhael memotongnya.
"Kamu!"
"Gue?!"
"Aku!"
Ellouisse sudah tidak ingin menanggapi ucapan Mikhael sama sekali, ia akan meninggalkan Mikhael ke belakang untuk mengambil beberapa pesanan. Namun, Mikhael justru menahannya. Pergelangannya di genggam erat hingga ia tak bisa pergi.
"Lepas kak.." Pinta Ellouisse. Mikhael tak bergeming ia masih menatap istrinya tersebut dengan intens. "Sakit kak!" Sedikit meninggi nada yang Ellouisse gunakan karena genggaman pada pergelangan tangannya itu menguat.
"Bang! Istri lo kesakitan!" Mendengar ucapan Jeremy, Mikhael mencari kesadarannya. "We need to talk!" Ucapnya kemudian.