Hal Kecil

106 12 2
                                    

Mata Oliver membelalak, ekspresinya tiba-tiba berubah, bukan lagi seperti pria yang dulu kutahu. Aura yang memancar dari dirinya seolah berubah menjadi sesuatu yang gelap, berbahaya, seperti iblis yang siap menyambar mangsanya. Aku menahan napas, mencoba mengendalikan ketegangan yang merayapi tubuhku. Sebelum ia membuka mulut, mataku secara otomatis melirik ke kiri dan kanan, berusaha mencari jalan keluar, berusaha menemukan kata-kata yang bisa menenangkan amarahnya yang mulai menyala.

"Oliver, tenanglah," aku berusaha berbicara dengan nada yang tenang, meskipun hatiku berdebar kencang. "Ini masih sebuah ide. Aku bisa membatalkannya kapan saja. Lagipula, kita berdua tahu, kita tak saling mencintai." Aku menatapnya, berharap ia bisa mengerti. "Apa yang kuusulkan ini bukan untuk keuntungan pribadi, ini demi menyelamatkan kerajaan kita. Aku ingin menjadikanmu putra mahkota, dan aku memiliki banyak rencana besar yang harus aku jalankan. Jika kau tak setuju, itu bukan masalah besar bagiku."

Aku berdiri dengan niat untuk meninggalkannya, tak ingin berlama-lama dalam ketegangan ini. Tetapi, sebelum aku melangkah lebih jauh, suara Oliver kembali menghentikan langkahku. "Lidya," suaranya serak, penuh kebingungan dan kekecewaan, "Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?"

Tanpa menjawab, aku melangkah keluar dari kedai, disambut oleh gerimis yang baru saja mulai turun. Langkahku tergesa-gesa, namun dalam hati aku merasa kosong, seolah ada sesuatu yang hilang. Saat itu, Helena muncul dari balik keramaian, membawa payung di tangannya. Aku tahu dia pasti membeli payung itu dengan uangnya sendiri. Ada sesuatu dalam diri Helena yang selalu membuatku merasa diterima, seperti dia adalah bagian dari keluarga yang kutemui setelah begitu lama mencari tempatku di dunia ini.

"Tuan Putri, jangan menangis. Jika Anda menangis, saya juga akan ikut menangis," kata Helena dengan suara lembut, menyeka air mataku dengan tangannya yang penuh kasih.

Aku tersenyum, meskipun hatiku masih terasa sesak. "Terima kasih, Helena," kataku, sambil menggelengkan kepala. "Jangan menangis, aku tak ingin membuatmu sedih."

Helena membalas dengan senyum yang menenangkan, meskipun aku bisa merasakan bahwa dalam dirinya, ada perasaan yang jauh lebih dalam. Kami berdua berjalan keliling pasar, menikmati kebersamaan yang terasa seperti hadiah dari langit. Kami membeli beberapa barang unik, dan aku pun memilih pakaian indah di sebuah butik terkenal. Harganya mungkin tak seberapa bagi seorang putri, namun jika aku masih menjadi Dalilah, aku harus menabung selama setahun untuk bisa membeli sesuatu seindah itu.

"Aku ingin kau memakai ini," kataku, menyodorkan gaun berwarna hijau dengan manik-manik berbentuk bunga dari permata ukiran yang indah. Gaun itu bukan hanya sebuah pakaian, melainkan simbol dari rasa hormatku padanya.

Helena menatapnya dengan mata terbuka lebar. "Nona, saya tidak bisa menerima sesuatu yang begitu mahal," ucapnya dengan ragu, namun aku bisa melihat betapa ia menyukainya.

"Tapi aku tak ingin mendengar penolakan," jawabku, tersenyum. "Aku ingin kau merasa dihargai, Helena."

Usai berbelanja, kami menuju tempat untuk melakukan perawatan wajah dan tubuh. Begitu kami memasuki tempat itu, semua mata tertuju pada kami. Tempat ini adalah milik bangsawan, dan kami bukan hanya menjadi tamu, tetapi juga pusat perhatian. Pemilik tempat itu segera menghampiri kami dengan senyuman ramah.

"Selamat datang, Nona. Kami memiliki berbagai perawatan yang dapat memanjakan Anda," kata pemilik tempat itu dengan suara lembut, mencoba menjelaskan berbagai layanan yang mereka tawarkan.

Aku menatapnya sekilas. "Pelayan saya juga akan ikut, saya membayar untuk dua orang," kataku, tak ingin ada perbedaan perlakuan. Wanita itu terkejut sejenak, tetapi segera menyambut kami dengan senyum yang lebih tulus, mempersilakan kami masuk.

Di dalam, para pekerja dengan penuh keahlian menangani kami, dari perawatan wajah hingga pijat tubuh. Beberapa dari mereka bertanya tentang kehidupan bangsawan, dan aku menjawab dengan hati-hati, tidak terlalu membocorkan apa pun yang bisa menimbulkan kecurigaan. Namun, salah satu pekerja mengungkapkan kalimat yang membuatku sedikit terkejut.

"Nona, saya jarang sekali melihat bangsawan datang kemari bersama pelayannya untuk melakukan perawatan bersama," katanya dengan rasa ingin tahu yang menggelitik.

Aku menatapnya tajam, sedikit kesal. "Dia bukan hanya pelayanku," jawabku tegas. "Helena adalah sahabatku, dan kau harus menghormatinya." Ucapan itu keluar tanpa berpikir panjang, karena aku merasa tidak ada yang lebih penting selain menghargai orang yang selalu ada di sisiku.

Setelah selesai dengan perawatan, kami menuju salon untuk menata rambut. Aku hampir tak percaya bagaimana penampilan Helena berubah. Dengan gaun hijau yang indah dan rambut yang disisir rapi, dia tampak anggun, seperti seorang bangsawan sejati. Aku tahu, jika orang-orang melihatnya sekarang, mereka pasti akan mengira dia adalah salah satu dari kami.

Setelah puas dengan segala perawatan, kami kembali menuju kediaman Raja Galileo. Di perjalanan, Helena mengucapkan kata-kata yang membuat hatiku terhenti.

"Nona, apakah semua ini untuk merayakan hari ulang tahun saya? Setiap tahun, di hari kelahiran saya, Anda selalu membuat saya bersenang-senang. Saya benar-benar terharu, terima kasih telah mengingat hal kecil seperti ini," kata Helena, suaranya penuh dengan rasa syukur.

Aku terdiam sejenak. Aku bahkan tak sadar bahwa hari itu adalah ulang tahunnya. Ternyata, apa yang kulakukan selama ini bukan hanya kebiasaan, tetapi sebuah cara untuk menunjukkan betapa pentingnya orang-orang seperti Helena dalam hidupku. Kenangan milik Lidya pun kembali muncul, mengingatkan aku akan betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang kita cintai.

"Aku hanya ingin sahabatku bahagia," jawabku dengan senyum yang tulus, lalu memeluknya erat. "Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku, Helena."

Saat itu, aku menyadari bahwa kebahagiaan tak hanya datang dari takhta atau kehormatan, tapi dari orang-orang yang ada di sisimu, orang-orang yang membuat hidup ini layak dijalani, tak peduli seberapa rumit dunia ini berputar.

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang