1 minggu kemudian..Hidup berjalan seperti biasa bagi Pete saat ini, hanya saja sedikit menegangkan namun menyenangkan.
Bagaimana tidak, perhatian dan kepercayaan orang tua sudah ada dalam genggaman tangannya, jatah uang jajan selalu diberikan berapapun nominal yang diinginkannya, tidak seperti dulu yang selalu dibatasi saat masih ada adiknya. Tidak lagi di banding-bandingkan dalam hal apapun dengan adiknya. Sekarang ia merasa lebih dianggap manusia daripada sebelumnya.
Bagian menegangkannya? banyak. Pete harus selalu bermain kucing-kucingan dengan orang tua nya dalam segala hal. Seminggu 3 kali ia akan meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi ke 'acara sosial' saat malam hari, yang sebenarnya ia akan pergi ke bar bersama kawannya. Harus selalu terpaksa menelan makanan yang tidak ia sukai setiap makan malam bersama. Kadang pun ia tergagap saat ditanyai oleh kolega ayahnya atau keluarga besar lainnya tentang kegiatan dan impian masa depan.
Tapi Pete dapat mengatasi hal tersebut dengan mudah.
Yang ia tidak tahan hanya harus terus pergi ke rumah sakit karena alerginya kambuh setiap memakan kepiting, yang mana makanan kesukaan Biu. Ingin menyalahkan orang tuanya pun tak bisa sebab ia sedang bermain peran.
-di daerah pegunungan Chiang Rai-
Biu terbangun dari tidurnya dengan keadaan gemetar sekujur tubuh, yang bisa ia lakukan hanya memeluk dirinya sendiri yang tidak memakai atasan apapun.
Ini masih siang hari tapi suhu mencapai 19°C. Orang waras mana yang tidak kedinginan apalagi saat orang tersebut hanya memakai celana pendek, rasanya orang gila pun akan berteriak saking dinginnya.
Mengedarkan pandangan ke segala arah, Biu melihat ada lelaki agak bule yang tidak ia ingat-tidak tau malah-namanya, sedang membaca koran.
Niatnya ingin meminta selimut atau apapun yang bisa membantunya menghangatkan tubuh.
Namun ia ragu, takutnya dikira lancang meminta sesuatu ke orang yang jelas sedang menyekapnya.
"Duh Biu ga selimutan bisa mati kedinginan, mau minta pun taruhannya nyawa.." gumam Biu dengan bibir mulai membiru. Perth yang mendengar suara samar-samar akhirnya berbalik badan menghadap Biu. Yang ditatap reflek kaget menutup mulut dengan tangan dan meringsut mundur.
"Kenapa lo?"
Pertanyaannya dijawab dengan gelengan kepala dan gerakan mundur yang lebih cepat.
Perth melihat Biu seperti itu keheranan tapi kemudian ia mengerti, segera ia berdiri dan berjalan ke ruangan lain.
Biu panik, pikirnya ini akhir hidupnya betulan. Segera ia menangkupkan kedua tangan sembari memejamkan mata dan memohon maaf dalam hati kepada segala hal di hidupnya.
Sepuluh menit berlalu, Biu masih dengan posisi yang sama tapi kali ini ia sambil terisak. Sudah tidak memperdulikan kuku jari yang berubah jadi warna ungu serta tangan yang mulai mati rasa.
Sepuluh menit terlama dan paling menegangkan dalam hidupnya.
"Mama, papa, Biu minta maaf hiks kalau belum jadi anak yang.. baik hiks Biu belum bisa banggain k-kkalian, maafin Biu hiks.."
"Phi Tong maaf Biu hiks Biu belum bisa nepatin j-janji hiks buat traveling bareng hiks.. hiks B-biu juga belum potong rambut lagi di salon Phi"
"Kak P-pete, Biu kangen hiks maafin Biu yang nyebelin ini ya kak.. hiks semoga kakak bahagia ya di-dirumah hiks"
Bible sudah muncul di pintu sejak Biu menyebut kata "nepatin janji". Ia terdiam sejenak mendengarkan sampai habis kalimat terakhir anak sekapannya itu
Ada yang mengganjal baginya. Ingin bertanya namun yang keluar dari mulutnya hanya "Hmm?"
--
i update to cheer beyourluve today hehe
tp au deh ada yg baca apa nggatp pls siapapun yg baca, kasih komen atau feedback apa gt biar aku tau ceritaku ini layak dibaca atau ngga cz i feel ini cerita gajelas n gada feelny:(
kalau emg gjls n gada feel aku mau hapus ceritanya aja mumpung blm banyak jg gt lho

KAMU SEDANG MEMBACA
STOCKHOLM SYNDROME || biblebuild
Teen FictionTerlahir dengan marga Saengtham tidak membuat kedua anak laki-laki itu merasa bangga dan bahagia. Yang terjadi justru tidak seindah yang orang awam kira. Sampai sebuah kejadian yang sengaja direncanakan mengubah hidup salah satu putra dari Saengtham...