29. Kacau!

1.2K 258 40
                                    

"KAU INGIN MENGUGURKAN BAYINYA?!?!" Suara nyaring bergema di seluruh Ruang Kerja Jennie.

Setelah Jennie mengambil keputusan. Dia segera memanggil Para Unnie nya untuk berkumpul di kantor nya. Karena menurut Jennie. Para Unnie nya harus tau keputusan yang dia ambil.

Dan sesibuk apapun Irene serta Wendy. Mereka tetap menyempatkan waktu untuk pergi ke kantor Jennie. Apalagi saat Jennie mengatakan akan menyampaikan sesuatu yang penting kepada mereka.

Dan saat ini, Sore hari, saat jam pulang kantor. Semua orang berkumpul di ruangan Jennie. Irene yang duduk di sofa dengan tenang. Wendy yang bersandar di pintu masuk. Dan Seulgi yang berdiri di tengah ruangan dengan tampang tidak percaya menatap Jennie yang masih duduk di kursi kebesaran nya.

Dan dari semua Unnie nya. Seperti Biasa, Seulgi lah yang paling tidak sabaran dan teriakan tadi jelas berasal dari Seulgi saat Jennie selesai memberitahu tentang keputusan nya.

Jennie hanya menggangguk pelan sebagian jawaban dari teriakan nya. Melihat itu seulgi semakin marah. Dia mengusap rambut nya kasar. Masih tidak percaya pada keputusan Jennie.

"Kau gila? APA KAU SUDAH GILA, JENNIE?!" Seulgi kembali berteriak dengan kalut. Jennie di depanya hanya bisa menutup mata. Takut dengan kemarahan Seulgi.

"Hei Seul, tenanglah. Untuk apa kau berteriak" Tegur Wendy karena melihat wajah tidak nyaman dari Jennie.

Seulgi mengalihkan pandangannya ke belakang menghadap Wendy yang bersandar di pintu. "Kau ingin aku tenang? KAU INGIN AKU TENANG SAAT DIA MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG GILA?!"

Wendy mengernyitkan dahi nya. Dia jelas tidak suka dengan seulgi yang berteriak pada nya. Tapi, Wendy mencoba menahan diri. Pada situasi yang seperti ini akan semakin kacau jika dia ikut terbawa emosi.

"Tenang kawan. Apa berteriak bisa menyelesaikan masalah? Yang ada tenggorokan mu malah sakit. Mari berpikir dengan kepala dingin. Jennie mungkin memiliki alasan untuk ini" Ucap Wendy dengan tenang.

"Heh! Kau masih ingin alasan darinya?!" Seulgi kemudian menghadap kembali kearah Jennie. "Baik! Mari kita dengarkan alasan nya! Jadi Jennie, Apa alasanmu?"

Jennie tidak berani melihat kearah Seulgi. Tidak, Saat Seulgi menatapnya dengan mata merah karena menahan amarah.

"Aku... Memutuskan untuk mempertahankan pertunangan ku"

"Apa?!"

"Aku kira... Pertunangan ku dengan Taehyung Oppa akan meminimalisir masalah ke depannya. Lalu, Paman Seunghyun mungkin tidak akan menyakitiku mengingat Daddy adalah teman nya" Jelas Jennie dengan takut-takut.

"Hahahahah" Seulgi tertawa dengan gila setelah Jennie selesai berbicara. "Lihat Wen. Lihat dia. Sudah ku bilang dia pasti sudah gila"

Wendy hanya diam. Kerutan di dahinya tidak pernah menghilang. Dia jelas tidak mengerti dengan perubahan situasi yang tiba-tiba.

Seulgi kembali mengusap rambut nya "siapa yang mengancamu, Jen?" Tanya Seulgi menekan nada suaranya.

"Tidak ada Unnie" Jawab Jennie pelan masih terlalu takut melihat wajah Seulgi.

"Apa Ini Taehyung? Apa bajingan itu mengancam mu?"

Jennie menggeleng pelan. "Ini keputusan yang aku ambil sendiri"

"IRENE!" Teriak Seulgi lagi. Kali ini melihat kearah Irene yang duduk dengan tenang di sofa.

"Apa?" Tanya Irene dengan datar. Dia jelas tidak suka dengan cara Seulgi memanggilnya.

"'Apa', kau Bilang?" Suara Seulgi terkesan dingin. "Dia ingin membunuh keponakan mu dan kau masih bisa duduk dengan tenang di sofa?!"

"Lalu. aku harus apa, Seul?" Tanya Irene lagi. Dia dengan berani menatap kembali mata Seulgi yang memerah.

My Baby's Daddy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang