Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang, oh bukan! Dia bukan orang, melainkan siluman! Tapi, siluman itu termasuk sejenis orang atau bukan yah?
Sudahlah, lupakan soal itu!
Pokoknya, dahulu (saat Taehyung masih kecil) kakeknya yang sangat kolot itu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Taehyung bukannya tidur, dia hanya mencoba untuk memejamkan sepasang matanya yang sebenarnya sudah lelah tapi masalahnya sepasang matanya itu seolah memberontak dan ingin terus berjaga hingga dia harus kembali membuka sepasang matanya lagi dan lagi.
Taehyung duduk bangun, menghela nafasnya lelah kemudian melempar buku yang sudah dia baca dan selesaikan sekitar satu jam yang lalu itu ke sembarang arah. Masa bodo buku itu akan rusak, kesal pada Taehyung karena sudah dibuang atau buku itu hilang ditelan udara, terserah saja! Toh buku itu sudah Taehyung selesai baca dalam dua jam sambil berharap rasa kantuk akan timbul setelah dia membaca itu tapi anehnya bukannya mengantuk tapi matanya itu semakin tegar saja.
Apa yang salah pada dirinya?
Apa yang salah pada sepasang matanya itu? Apa Taehyung sedang mendapatkan hukuman dari alam karena sering sekali menatap tajam atau bahkan menatap remeh orang lain makanya matanya itu sekarang seolah tidak bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri?
CTARRRR...
CTARRRR...
CTARRRR...
Taehyung menoleh, menatap jendela kamarnya yang sebenarnya sudah ditutup rapat dengan tirai. Bunyi petir terlalu kencang ditambah sambaran kilat yang tetap telihat oleh matanya, menerobos masuk dari celah-celah tirai mahalnya yang tebal itu. Hujan malam ini turun kembali deras, seperti tidak ada hentinya sejak tiga jam yang lalu. Iya benar! Sejak tiga jam setelah pertengkaran yang lagi-lagi kembali terjadi di antara Taehyung dengan Sooyoung. Mungkin jika hujannya masih tidak berhenti hingga satu jam kemudian dengan intensitas seperti sekarang ini, maka kota ini bisa saja terendam banjir.
CTTTARRRRRR...
Taehyung menggidikan kedua bahunya, terkejut akan suara petir yang terdengar lebih kencang dari yang sebelum-sebelumnya. Wajah dingin Taehyung bahkan terlihat seperti ketakutan saat ini. Dia kembali menaikan tubuhnya ke atas ranjang, menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya seperti berlindung dan seolah selimut itu bisa memberikan perlindungan untuknya. Yang benar saja, memang dia itu anak kecil yang takut kalau ada petir? Ckkckckc...
"Kenapa hujannya tidak berhenti dan kenapa petirnya banyak sekali sih? Menyebalkan!"
Taehyung memejamkan sepasang matanya, mencoba untuk tidur lagi dan lagi tapi bukannya tidur justru bayang-bayang akan Sooyoung, akan wajahnya juga akan tatapannya saat menatapnya tadi terlintas begitu saja seolah membekas hingga tidak terlupakan.
"Taehyung, aku menyukaimu! Tapi kenapa kau selalu kesal padaku? Apa kau tidak menyukaiku? Apa karena aku bukanlah manusia makanya kau selalu kesal dan tidak menyukaiku? Apa karena kita berbeda?" Tatapan mata Sooyoung berkaca-kaca dan mungkin kalau Sooyoung berkedip sedikit saja maka air mata akan tumpah meruah lalu mengalir ke pipinya yang mulus itu.
Dan karena Sooyoung tidak ingin menangis jadi dia menarik nafasnya dalam-dalam, mengatur emosinya sekuat tenaga agar tidak menangis. Suaranya ketara sekali menahan tangis saat dia menambahkan. "Memangnya kenapa kalau aku berbeda? Dan lagi, kenapa kalau menjadi berbeda itu terkesan selalu salah? Apa salahnya menjadi berbeda memangnya?" Sooyoung menundukan kepalanya, tersenyum (masih sambil menahan tangisnya) kemudian dia melanjutkan dengan bibir yang bergetar. "Aku juga tidak ingin menjadi berbeda dan selalu disalahkan!" Setelahnya, Sooyoung berbalik, berjalan menuju kamarnya tanpa mau memperpanjang percakapannya itu dengan Taehyung.