____
Jangan lupa bahagia!
Tetap jaga iman dan imun🤍Happy Reading!
***
Enam bulan sudah berlalu dan Naya masih berada di ruang ICU. Seharusnya, Farah sudah mengambil langkah untuk meminta dokter melepaskan alat penunjang hidup Naya. Namun, di dalam lubuk hatinya terdalam Farah masih belum sepenuhnya ikhlas untuk kepergian Naya selama-lamanya.Maka, Farah masih menunggu putrinya sadar dalam komanya. Tentu saja, biaya Naya di rumah sakit ini berasal dari keluarganya, para sahabat dan rekan kerjanya yang membantu untuk meringankan biaya pengobatan Naya.
"Tante bingung, Ga. Sudah enam bulan berlalu, tapi kondisi Naya masih belum ada perkembangan. Sedangkan Adipati sudah keluar dari rumah sakit meskipun dia harus mengalami kelumpuhan sementara."
Farah bersama Raga berada di rumah sakit. Rasanya, rumah sakit sudah menjadi rumah kedua bagi Farah maupun Raga sejak Naya masuk ke dalam rumah sakit ini.
"Raga paham sama perasaan Tante karena Raga juga merasakan hal yang sama, Tan. Rasanya, sakit sekali melihat Naya yang masih bertahan di dalam sana."
Farah mengembuskan napas berulang kali mendengar penuturan dari Raga. Berat sekali hari-harinya selama Naya masih berada di rumah sakit.
"Gimana perasaan kamu ke Naya, Ga?"
Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari bibir Farah. Melihat Raga yang selalu menyempatkan diri dengan segala kesibukannya, lelaki itu sering ke rumah sakit selain Khafa tentunya.
"Saya sayang sama Naya, Tan."
"Kalau cinta?" tanya Farah dengan senyuman tipis.
"Saya nggak tahu, Tan. Intinya, saya nggak mau kehilangan Naya," ucap Raga disertai helaan napas panjang.
"Tante tahu kamu laki-laki yang baik, Raga. Jika nantinya, Naya sudah kembali sembuh dan sehat. Tante ikhlas kalau kamu mau menikahi Naya."
"Makasih, Tante sudah memberikan saya izin untuk menikahi Naya. Namun, saya juga minta maaf ke Tante Farah."
"Kenapa kamu mau minta maaf ke tante, Ga?" tanya Farah dengan alis terangkat satu.
Raga menatap Farah dengan sorot merasa bersalah. "Maafkan saya yang sudah lancang menyayangi putri Tante," tutur Raga dengan sungguh-sungguh.
Farah tersenyum mendengar penuturan dari Raga.
"Kamu nggak perlu merasa bersalah sama tante, Ga. Rasa sayang itu bukan suatu kesalahan. Tante malah heran kenapa kamu malah bisa sayang sama Naya? Padahal, tante tahu sendiri kalian selalu berdebat dan sikap kamu dengan Naya berbanding terbalik," kata Farah terkekeh.
Melihat Raga yang salah tingkah membuat Farah terkekeh geli. Tidak mau menambah beban pikiran Raga. Akhirnya, Farah kembali melanjutkan ucapannya.
"Kamu nggak perlu jawab, Ga karena menyayangi seseorang itu nggak perlu alasan kok."
Raga bernapas lega ketika Farah tidak benar-benar menanyakan alasannya mengapa bisa menyayangi Naya karena jujur Raga juga tidak tahu, sejak kapan rasa sayang kepada Naya itu hadir.
***
Raga baru saja selesai mengajar. Lelaki itu merenggangkan tubuhnya terasa pegal. Setelahnya, lelaki itu mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja, pertanda pesan masuk.Tante Farah :
[Raga, Naya sudah sadar.]Ketika membaca sederet pesan dari Farah membuat Raga berulang kali mengucek matanya untuk memastikan jika pesan itu sungguhan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Hati Braga (END)
RomanceBraga Pratama Athaya tenggelam dalam jurang patah hati setelah hubungannya dengan Amelia Syakira kandas. Perasaan yang hancur membuatnya mengidap gangguan kecemasan. Di tengah kekelaman itu, hadir sosok Naya Ayura Ningtyas, seorang wanita yang memb...