Genre : Fiksi remaja, drama, romantis, angst.
***
Mika percaya bahwa sesuatu yang ada di dunia ini tidak kekal. Termasuk kebahagiaan dan kesedihan. Maka dari itu, Mika selalu yakin kesedihannya pasti berlalu, dan tergantikan oleh kebahagiaan.
Namun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
alicesky Lo bilang mau ketemu, kan? Ayo kita ketemu.
blackmanta69 Lo serius?
alicesky Gue pengen tahu lo siapa. Gue gak yakin bisa liat lo di lain waktu.
blackmanta69 Lo juga serius tentang itu?
alicesky Iya gue serius. Ayo kita ketemu.
blackmanta69 Lo gak curiga gue seorang penjahat?
alicesky Gue gak takut.
blackmanta69 Oke. Ayo kita ketemu.
alicesky Besok Kafe Renjana Jam tiga sore Pakai topi putih sebagai tanda untuk saling mengenal.
Seorang lelaki yang berada dalam ruangan 6×6 meter kubik itu merendahkan punggungnya pada sandaran kursi belajarnya. Layar berukuran kurang lebih 14 inc di depannya masih menyala dengan halaman yang dibiarkan terlihat begitu saja.
Helaan napas teratur membuat dadanya mengempis secara perlahan. Kini atensinya masih tertuju pada satu bumble terakhir yang dikirim oleh teman anonymous-nya. Dilihat dari sudut mana pun, isi pesan itu tak ada keanehan sama sekali.
Namun, ada yang mengganjal di pikiran lelaki itu. Temannya anonymous-nya yang mati-matian tidak ingin bertemu, kini meminta pertemuan lebih dulu. Begitu pun juga, ia masih menantikan pertemuan itu penuh harap. Rasa ingin tahu seperti apa wujud yang menjadi temannya selama ini begitu besar.
Lelaki itu mengambil ponselnya. Kini pandangannya beralih pada layar yang lebih kecil dari layar itu. Sebelum menyetujui pertemuan itu, ia harus lebih dulu memastikan bahwa jadwalnya besok sore benar-benar kosong. Setelah itu, ia kembali mengetik satu pesan untuk membalas.
blackmanta69 Oke Sampai jumpa besok sore.
Beberapa saat menunggu, tak ada lagi balasan dari temannya itu. Kepalanya bergulir untuk melihat jam dinding. Sudah sangat larut. Mungkin saja temannya itu sudah tertidur dan tak memiliki kesabaran untuk menunggu balasan pesan darinya.
"Arkaaa!"
Lelaki itu menoleh ke belakang, bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka. Sosok sang Bunda menyembulkan kepalanya di ambang pintu. "Bunda pergi dulu ke rumah Nenek dan Kakek, ya?"
Lelaki yang ternyata adalah Arka itu mengangguk patuh seraya menjawab, "Iya, Bun. Hati-hati."
"Oke, sayang. Jaga rumah baik-baik." Setelah melambaikan tangannya, Leyla menutup kembali pintu kamar putera sulungnya.
Arka kembali membiarkan tubuh pada posisi semula. Sambil menunggu balasan pesannya dari teman anonymousnya itu, Arka menggoyang-goyangkan kursi belajarnya dengan ringan.