*Chapter 44*

1.7K 180 9
                                    

Setelah Adryan mendengar suara yang mirip dengan suara putra bungsunya itu. Tengah malam Gara mengalami demam tinggi. Dadanya naik turun dengan cepat. Dalam pejamnya Gara nampak gelisah. Saat coba dibangunkan Gara masih tetap tidak merespon. Suara bedside monitor yang berbunyi nyaring membuat Adryan dan Thaka semakin panik. Namun Dokter Brian berkata bahwa Gara baik-baik saja, hanya mengalami demam biasa. Dokter Brian sudah memberi obat penurun demam dan Gara pun perlahan kembali tenang.

Adryan dan Thaka percaya kalau Gara akan baik-baik saja. Karena paginya demam Gara sudah turun. Mereka bisa bernapas lega. Tapi ternyata, malam berikutnya Gara kembali mengalami demam tinggi dan itu terus berulang setiap malam atau dini hari. Sampai sekarang dihari ke sepuluh Gara di rumah sakit, Gara masih mengalaminya. Sudah terhitung seminggu Gara mengalami itu. Adryan tentu merasa aneh. Pasalnya Gara demam hanya di waktu malam saja dan tidak berlangsung lama. Bahkan dua hari kemarin dokter Brian tidak memberi obat, tapi demam Gara bisa turun dengan sendirinya.

Dokter Brian sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Gara. Karena khawatir apa yang Gara alami itu mungkin saja merupakan gejala komplikasi pasca operasi miektomi. Namun dari hasil pemeriksaan, tidak menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan tubuh Gara. Semuanya terlihat baik-baik saja. Dokter Brian juga bingung kenapa pasiennya itu bisa mengalami demam setiap malam.

"Tha, papa sudah nelpon ustadz Hamzah. Beliau bisa nemuin Gara dan papa yang akan jemput beliau kesana. Mungkin besok sore papa balik. Ingat ya, selama papa pergi, jangan biarin Gara sendirian meskipun cuma sebentar. Papa sudah kasih tau Oma juga. Nanti Oma sama Tante kamu kesini seperti biasa. Jadi kalian bisa gantian jaga Gara. Untuk nanti malam papa sudah minta Jerry nginap disini, nemanin kamu. Urusan kantor biar om kamu aja yang handle dulu," ujar Adryan yang baru memasuki ruang rawat Gara, melangkah mendekat dan berdiri di sebelah si sulung yang sedang duduk di kursi samping ranjang.

Thaka mendongak menatap Adryan,
"Iya pa, tenang aja. Thaka bakal jagain Gara dan gak akan biarin Gara sendirian. Papa gak perlu khawatir," ujarnya.

Adryan tersenyum dan mengangguk.

Adryan memang berencana membawa Gara menemui ustadz Hamzah, tapi ia tidak menduga kalau mereka membutuhkan bantuan ustadz Hamzah secepat ini. Sehingga malah ustadz Hamzah yang justru akan menemui Gara. Karena tidak mungkin jika Gara yang dalam keadaan koma itu di bawa ketempat ustadz Hamzah.

Dari segi medis Gara sudah baik-baik saja dan harusnya Gara sudah bisa sadar dari komanya. Adryan merasa ada sesuatu yang mengganggu dan mungkin juga menghalangi Gara untuk kembali, sehingga membuat putra bungsunya itu belum sadar sampai sekarang. Ditambah sudah hampir seminggu Gara mengalami demam, walaupun dalam waktu sebentar-sebentar. Adryan tetap saja khawatir. Ia tidak bisa membiarkan Gara terus mengalami itu. Ia membutuhkan bantuan dari ustadz Hamzah secepatnya.

Adryan dan Thaka kini sama-sama terdiam sembari menatap ke arah si bungsu yang masih memejamkan mata. Saat hari masih terang begini Gara terlihat tenang, karena Gara mengalami demam ketika hari sudah gelap saja.

Beberapa hari ini pikiran mereka benar-benar kacau. Memikirkan kondisi si bungsu, ditambah juga memikirkan Shino yang hingga kini belum diketahui keberadaannya dimana. Adryan sudah mentitah para bodyguardnya untuk mencari Shino. Tapi sampai sekarang Shino masih belum ketemu juga. Adryan sungguh tidak habis pikir dengan Shino. Bagaimana bisa putranya itu pergi entah kemana, disaat kondisi adiknya disini masih dalam keadaan belum sadar dari komanya.

◾◾◾◾

Adryan sudah berangkat dari siang, membawa serta dua orang bodyguard untuk ikut bersamanya, menjemput ustadz Hamzah yang tempat tinggalnya terletak di luar provinsi. Jadi memerlukan jarak tempuh yang lumayan jauh.

About GaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang