"Ah! Dasar! Masa Cuma mampir ke warnet sebentar sebelum pulang ke rumah sampe di hukum bersihin kamar mandi begini?" gerutu Keita.
"Kamu yang tinggal bareng ketua osis kok bisa tidak berbuat apa-apa ya?" heran Keita.
"Maaf, Keita. Jadi melibatkanmu begini" sesal Zhang Hao.
"Yah aku sih tidak masalah lagipula kita juga pergi bersama kemarin"
Zhang Hao menghela napas gusar karena kepalanya masih teringat denga kata-kata Hanbin tadi malam.
"Aku sama sekali tidak tertarik padamu"
"Karena menciummu adalah cara terbaik untuk membuatmu diam"
"Brengsek! Kamu brengsek!"
"Aku tahu"
"Terus maksudnya apa coba tatapan sedih itu lagi tadi malam? Justru harusnya aku yang merasa tersakiti disini sialan!!" geram Zhang Hao sambil terus menyogok-nyogok lubang toilet dengan brutal.
"Zhang Hao! Tenanglah! Nanti lubang toiletnya rusak!" Keita berusaha menenangkan.
"Ingin sekali aku membencinya..."
***
"Belakangan ini para siswa menjadi lebih liar dari biasanya!" seru anggota OSIS bernama Phanbin saat melihat meja yang berantakan dan buku-buku yang di tinggal di dalam laci. Beberapa anggota OSIS dan Ketua OSIS sedang melakukan pengecekan ketertiban di kelas-kelas.
"Semua ini karena siswa pindahan berambut coklat itu" geram Phanbin.
"Phanbin. Hari ini kita sudahi saja dulu" ujar Hanbin saat Phanbin baru akan menggeledah isi tas milik Zhang Hao, "Sisanya biar aku saja yang urus. Kamu bisa pulang sekarang.
"Tapi ketua-"
"Phanbin!"
"B-Baiklah"
Setelah Phanbin pergi dari sana Hanbin mulai menggeledah isi tas milik Zhang Hao dan menemukan komik BL yang Zhang Hao baca kemarin. Hanbin segera membawa komik itu ke ruangannya dan meninggalkan sebuah catatan di bawah tas Zhang Hao.
***
"Huah...Akhirnya selesai juga" lega Keita lalu bersandar pada kursi di kelasnya.
"Habis ini mau kemana dulu? Mixue boleh juga tuh" tawar Keita.
"Kamu ini tidak ada kapoknya ya, Keita"
"Habisnya setelah mandi keringat begini enaknya memang makan yang dingin-dingin begitu biar segar"
Zhang Hao sadar dengan kertas yang diselipkan di bawah tasnya, Zhang Hao membuka dan membacanya.
Datanglah ke ruanganku – Hanbin.
"Maaf, Keita. Aku baru ingat ada urusan setelah ini, kamu pulang duluan saja" ujarnya lalu berlari keluar dengan semangat menuju ruangan yang Hanbin maksud. Zhang Hao senang karena ini pertama kalinya Hanbin menyuruhnya untuk menemuinya seperti ini.
"Hei! Kamu! Jangan berlari di lorong!" tegur Phanbin saat melihat Zhang Hao berlari di lorong.
"Dia kan? Zhang Hao?"
"Hanbin!" seru Zhang Hao begitu membuka pintu ruangan milik Hanbin itu.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?"
"A-anu. Maafkan aku sudah berkata kasar padamu tadi malam. Soalnya tiba-tiba aku terbawa emosi dengan ucapanmu"
"Aku memanggilmu kemari bukan untuk menerima maaf darimu" ucap Hanbin.
"Lalu?"
"Aku menemukan buku ini di dalam tasmu saat pengecekan barang tadi" tuturnya sambil menunjukkan buku bersampulkan dua pria saling berpelukan mesra.
Zhang Hao mendelik tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, kapan OSIS melakukannya? Wajahnya seketika memerah merona karena malu. Bodoh sekali Zhang Hao tidak mengeluarkan komik itu dari dalam tasnya.
"Aku tidak tahu apa niatanmu dengan membaca buku seperti ini. Tapi kira-kira bagaimana tanggapan Ibu jika dia melihat ini?"
"A-aku..."
"Padahal kita baru saja menjadi saudara. Karena aku yang hanya melihat ini supaya tidak ada gosip buruk yang menyebar segera buang-"
BRUGH!!
Zhang Hao mendorong Hanbin membuat Hanbin berbaring di atas meja dan Zhang Hao menahan pundak Hanbin. Zhang Hao langsung mencium Hanbin. Mereka berdua sempat beradu lidah hingga akhirnya Zhang Hao melepaskan ciuman itu lebih dulu.
"Kamu! Ini di sekolah! Apa yang sedang kamu lakukan?!"
Sebuah tetesan air mata dari menjatuhi pipi Hanbin. Bisa Hanbin lihat dari bawah kalau Zhang Hao menangis.
"Ini semua gara-gara kamu menciumku duluan, tahu! Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi begini"
Memang tanpa Zhang Hao sadari sejak saat itu yang ada dipikiran Zhang Hao adalah Hanbin seorang, tidak ada yang lain. Zhang Hao selalu memikirkan apa yang sedang Hanbin lakukan, apa yang bisa Zhang Hao lakukan agar mereka bisa lebih akrab.
Zhang Hao bangun dan menjauh dari Hanbin lalu tersenyum dan menyeka air matanya.
"Maaf Aku tidak bisa menjadi Kakak yang baik untukmu" ucapnya lalu pergi meninggalkan Hanbin seorang diri di ruangannya.
Hanbin masih terus terpaku dengan tatapan teduh menatap tas yang Zhang Hao tinggalkan disana.
"A-apa yang sudah mereka lakukan?" gumam Phanbin tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
***
Zhang Hao tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi ke rumah Keita. Zhang Hao masih tidak sanggup jika harus pulang dan bertemu dengan Hanbin.
"Kalau seperti ini perasaanku jelas ketahuan olehnya dong! Ahkgh!! Dia pasti sekarang jijik denganku!" geram Zhang Hao.
"Maaf Aku tidak bisa menjadi Kakak yang baik untukmu"
"Itu juga kenapa aku harus bilang begitu sih! Malu banget!!" geramnya pada dirinya sendiri.
"Yang tenang Zhang Hao. Kau bisa meruntuhkan ranjangku" ujar Keita sebab Zhang Hao sejak tadi terus bergerak resah tidak karuan.
"Keita. Izinkan aku menginap disini malam ini ya?"
Keita terkadang gemas dengan sahabatnya ini terkadang juga kasihan karena hubungan keluarga barunya yang sulit.
Keita tersenyum lalu mengusak lembut surai coklat Zhang Hao, "Sudah, tenang. Kamu jangan lupa mengabari Ibumu ya?" ucapnya lembut.
"Terimakasih, Keita"
Dan malam itupun mereka berdua, Hanbin dan Zhang Hao terus memikirkan kejadian tadi sore di sekolah yang membuat mereka terjaga dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bingung memikirkan perasaan masing-masing yang melanda hati.
To Be Continued...
- 06.03.2023 -

KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] ATTENTION | BINHAO FT. HARIBOZ ♡
Fanfiction[18+] Zhang Hao harus pindah ke sekolah khusus laki-laki dengan peraturan yang amat ketat karena Ibunya menikah lagi dan harus pindah ke Kota baru untuk melanjutkan hidupnya. Sebagai orang yang cukup mudah bergaul dan bebas di sekolah sebelumnya Zha...