15

2.7K 224 1
                                    

Setelah terus berkeliling akhirnya Zhang Hao bisa menemukan Hanbin. Zhang Hao sudah hampir menangis rasanya padahal Hanbin sendiri juga sudah dewasa dan pastinya akan baik-baik saja jika di tempat seperti ini. Tapi rasanya Zhang Hao sangat khawatir karena Hanbin ikut menghilang seperti Ricky tadi.

"Maaf, Hanbin. Ricky jadi merepotkanmu"

"Tidak apa-apa"

Tak lama Zhang Hao mendapat panggilan dari Ricky. Ia mengatakan kalau dirinya sudah pulang duluan dan menyuruh Zhang Hao dan Hanbin pulang saja.

"Wah. Turun salju" ujar Zhang Hao begitu mereka keluar dari gedung mall.

"Pantas sejak tadi terasa makin dingin" sahut Hanbin.

"Dasar si Ricky itu. Harusnya bilang dari awal kan ya kalau dia sudah pulang duluan. Yah sifatnya dia memang sedikit kekanakan sejak dulu"

"Kamu sangat memedulikannya, ya?" tanya Hanbin.

"Bagaimana ya? Aku pertama kali bertemu dengan Ricky saat di pindah rumah tepat di sebelah rumahku. Kami sama-sama anak tunggal, karena itu kami bisa jadi lebih dekat bahkan saling mengaggap seperti saudara sendiri. Seperti itu awalnya. Atau mungkin hanya aku yang merasa seperti itu? Aku jadi sok mengatur dia jadi dia merasa sebal, mungkin"

Mereka mengobrol sepanjang perjalanan menuju stasiun hingga akhirnya mereka menyadari kalau kereta malam ini tidak bisa beroprasi karena tebalnya salju yang menghalangi jalur kereta. Mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu di halte bis untuk pulang ke rumah meskipun udara malam itu cukup dingin.

"Apa Ricky baik-baik saja sendirian? Dia pulang lebih dulu karena aku ikut denganmu" sesalnya.

"Tidak kok. Tidak apa-apa, dia pulang bukan karena kamu ikut jadi tenang saja"

"Malah sebenarnya Ricky pergi lebih dulu karena aku. Dia mengajakku untuk bermain berdua saja tapi aku malah mengajak Hanbin dan tidak bisa fokus dengan Ricky. Aku harus segera berbaikan dengannya"

"Maaf" ujar Hanbin.

"Eh?" Zhang Hao tersadar dari lamunannya.

"Saat kamu membuat wajah murung seperti itu aku malah makin merasa bersalah"

"Ti-tidak kok. Aku tidak bermaksud seperti itu..."

"Kenapa aku kikuk banget sih"

"Apa?" tanya Hanbin saat Zhang Hao terus menatapnya.

"A-Ah. Tidak apa-apa"

Bagaimana Hanbin bisa selalu terlihat setenang itu? Walaupun terlihat tenang tapi dia selalu melakukan hal-hal gila yang tidak terduga sebelumnya. Dingin tapi berani, itu Hanbin.

"Ha-Hanbin"

"Hm?"

"Karena dingin...Bi-bisakah kita bergandengan tangan? Itu hal normal diantara saudara kan?"

Hanbin mengangguk lalu meraih tangan kiri Zhang Hao lebih dulu dan menggenggamnya erat. Dalam gejolak hati Zhang Hao rasanya sangat bahagia saat Hanbin mau melakukannya lebih dulu. Hanbin lalu mendekat pada Zhang Hao sampai bahu mereka masing-masing bersentuhan. Debaran di dada Zhang Hao hampir tidak tertahankan rasanya.

"Kamu selalu hangat seperti biasanya" ucap Hanbin.

"Eoh?"

"Saat pertama kali kita tidur di kasur yang sama rasanya sangat panas dan tidak nyaman. Tapi cocok untuk musim dingin"

"I-iya tubuhku sejak dulu memang punya suhu yang tinggi katanya"

"Aku selalu mengharapkan kehangatan dari orang lain, mungkin aku sudah tidak waras"

[✓] ATTENTION | BINHAO FT. HARIBOZ ♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang