Dua hari kemudian Riley menemui Nyx Ivona. Kini keadaan tubuh pria itu sudah lebih baik. Dia ingin berbicara hal penting dengan wanita tersebut. Riley berniat membantu Nyx Ivona kabur dari rumah pamannya ini. Dia tak tega menyaksikan penderitaan wanita itu setiap hari. "Ada yang ingin aku bicarakan padamu, Ivona."
"Mau bicara apa lagi? Apa yang masih bisa dibicarakan di antara kita?" sungut Nyx Ivona kesal. Dia sudah tidak memiliki minat untuk bersikap baik kepada Riley. Karena lelaki itu salah satu dari kaki tangan Jaden.
"Dengarkan aku dulu, Ivona." Riley tidak mau menyerah. Dia mendekatinya perlahan.
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" Nyx Ivona menyambar ucapan Riley.
"Ivona, please …."
"Stop! Jangan mendekat lagi!" seru Nyx Ivona kesal saat melihat Riley mendekat. "Apa yang kau inginkan dariku? Kau sudah menghancurkan kepercayaanku. Kau tidak menolongku disaat aku dalam kesulitan. Kau tidak berprikemanusiaan. Kau jahat!"
"Maafkan kepengecutanku, Ivona. Aku …."
"Pasti kau yang dia suruh untuk menenggelamkan anakku, kan?" Nyx Ivona menatap langsung Riley dengan kilatan kemarahan di matanya. Tubuhnya sudah gemetar sebab dikulum berang.
Riley menatap sendu sorot tajam mata Nyx Ivona yang dipenuhi kebencian. "Ivona, aku …."
"Kenapa kalian begitu jahat? Dia bayi. Hanya bayi merah yang tidak berdaya. Apa salahnya? Aku bahkan belum sempat memberikannya nama." Iris tajam Nyx Ivona berlinangan. Dia tak dapat mengendalikan diri bila itu menyangkut kebengisan mereka. Nyx Ivona kepayahan. Dia benci Riley pula Jaden.
"Dia masih hidup, Ivona."
"A–apa?" Nyx Ivona terpegan–terdiam karena tercengang. Dia tidak mengerti kalimat ambigu yang disampaikan Riley. Siapa? Siapa yang masih hidup?
"Anakmu masih hidup."
Mata Nyx Ivona membulat sempurna dengan degup jantung yang seketika terpacu. Dia tergemap. Nyx Ivona langsung tak dapat berpikir. Namun, sepersekian detik kemudian otaknya dapat berfungsi kembali. "Bagaimana mung …. Kau? Kau yang menyelamatkannya?" Langsung rasa haru memenuhi dada dan tak percaya Nyx Ivona. Dia memerosot, teronggok di lantai, menangis meraung-raung. Rongga dada Nyx Ivona sesak oleh rasa bahagia dan lepas bisa mengendalikan segala emosi, dia pun menghapus jejak basah di wajah. "Di mana dia sekarang? Bersama siapa?"
"Di Indonesia. Dia aman bersama keluarga sahabatku."
Nyx Ivona tergugu, memeluk tubuhnya. "Terima kasih, Riley. Aku tak menyangka kau bisa menyelamatkannya. Terima kasih."
"Sama-sama, Ivona." Riley berjongkok, menepuk bahu Nyx Ivona, menariknya ke dalam pelukan. "Aku sangat mencintaimu, Ivona. Aku ingin melihatmu hidup bahagia. Aku ingin melakukan sekali saja kebaikan dalam hidupku."
"Maksudmu apa, Riley?" Nyx Ivona melepaskan pelukan Riley.
"Minggu depan pamanku ada pertemuan di Pulau Alicudi. Aku akan membocorkan pertemuan itu ke rivalnya. Lalu malam harinya aku akan membantumu melarikan diri, karena di saat genting begitu pengawasan di sini pasti longgar. Aku mau kau bersiap." Riley mengusap air mata Nyx Ivona.
"Lalu kau bagaimana? Jaden bukan orang bodoh, Riley. Dia pasti akan tahu."
"Aku akan baik-baik saja, Ivona. Dia pamanku. Dia tidak akan membunuhku." Sesungguhnya Jaden tidak pernah memandang siapa yang dia sakiti. Dia manusia yang tidak mempunyai hati dan sudah pasti sanggup menghabisi siapapun, termasuk Riley–keponakannya sendiri. Riley mengatakan seperti itu kepada Nyx Ivona, sebab tidak mau membuat gadis tersebut cemas. "Pergilah ke Indonesia, jemput anakmu, Ivona."
"Terima kasih, Riley. Kau ikutlah bersamaku. Kita lari bersama." Nyx Ivona memeluk erat tubuh Riley.
"Tidak, Ivona. Aku harus tetap di sini, memastikan pamanku tidak dapat melacak keberadaanmu."

KAMU SEDANG MEMBACA
Iblis Di Sampingku (Tamat)
Romanzi rosa / ChickLit(Sebagian bab telah dihapus untuk kepentingan penerbitan) Nyx Ivona-berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak serta freelance voice over artist-harus berhadapan dengan Jaden Benvalio-mafia kejam asal Italia-yang menuduhnya sebagai pembunuh. Namun, u...