CHAPTER 1: MIMPI NENEK

12 2 0
                                    


Arunika berhasil mengirimkan potret kilauan senja ke segala penjuru cakrawala. Kala itu Alenia hanya melamun di dalam kamarnya. Gadis itu tengah duduk di dekat jendela, memandangi suasana sehabis rintik semesta berderai membahasi bumi yang tandus. Mengisi kekeringan bumi sekaligus memutar segala memori dan kenangan tiap manusia yang tersimpan di ruang semesta.

Alenia Dinia Putri, namanya. Seorang gadis cantik dan menawan yang berasal dari keluarga yang sederhana. Putri kedua yang cantik dan ceria, juga ramah tamah, tetapi selalu diabaikan keberadaannya. Alenia selalu di nomor duakan, anak perempuan yang selalu salah di mata keluarganya.

Sudah hampir enam belas tahun, gadis itu hidup dan menumpang di rumah sanak saudara dari keluarga ayahnya. Alenia hanya bisa membuat keluarganya makin tidak terpandang di mata sanak saudara dan masyarakat banyak. Entah dosa apa yang dilakukan keluarga Alenia hingga membuat hidup gadis malang itu menjadi luntang lantung seperti ini. Ia yang terlalu dini untuk mengerti, hanya mampu mengikuti arus dan sesekali menangis meratapi hidupnya.

Selain ingin membahagiakan kedua orang tua di masa yang akan datang. Alenia memiliki impian yang begitu besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan dengan mengambil jurusan tataboga. Ia tertarik untuk menekuni hobi memasak untuk memuaskan kebiasaan suka makannya.  Walaupun masak air saja suka hangus, ia tetap bersikeras untuk mewujudkan keinginannya itu. Namun, jika mengingat ucapan ayah kalau Alenia harus mencari uang sendiri untuk membiayai apa pun yang ia inginkan, Alenia merasa tak mampu. Rasanya sangat tidak mungkin dengan keadaan gadis itu saat ini, apalagi ia terlihat seolah anak angkat yang dititipkan ke sana dan kemari. Namun ia selalu berharap kepada Tuhan, semoga saja suatu saat nanti cita-cita kecil itu bisa terwujud atas izin-Nya dan akan membuktikan bahwa ia terlahir untuk menjadi salah satu dari ribuan orang hebat di muka bumi ini. Karena Alenia yakin, tak akan ada kata 'mustahil' bagi manusia yang mau berusaha. Begitu pun dengan mimpinya ini. Dengan terus melangkah, Alenia pasti mendapatkan apa yang dia inginkan. Dengan begitu, Alenia tetap mampu berharap bahwa suatu saat nanti dirinya akan dipandang sebagai sosok hebat yang tak lelah berusaha.

Untukku di masa lalu, hari ini, atau pun hari esok, terima kasih, ya. Aku pasti bisa!

Alenia tersadar dari lamunannya begitu sebuah pertanyaan terlintas dalam benaknya. Apa aku mampu mewujudkan mimpiku? Apa aku bisa menggapai mimpi dan keinginan ku?

Alenia beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju kasur untuk sekadar merebahkan diri dan melepas penat terhadap candaan semesta yang begitu menyakitkan.

Ya Tuhan, apa aku mampu untuk mewujudkan mimpi-mimpiku? tanyanya  dalam hati sembari menatap langit-langit kamar. Alenia tertidur dengan pertanyaan yang belum ia temui jawabannya hingga kini. Dalam tidurnya Alenia bermimpi, ia bermimpi bertemu dengan neneknya. Iya, nenek yang selama ini ia rindukan kehadirannya.

Alenia berbaring dalam dekapan sang nenek, nenek yang dengan setianya membelai rambut sang cucu dengan lembut sembari berkata, “Kamu pasti bisa, Nak! Kamu kuat. Nenek yakin kamu bisa lewati cobaan ini. Kamu pasti bisa capai semua mimpi kamu, Nak. Nenek bangga sama kamu. Alenia si anak kuat, alenia anak hebat.”

Alenia sangat menikmati kebersamaan dengan sang nenek, entah kenapa hanya beliaulah kebahagiaan terbaik yang ia miliki satu-satunya. Bahkan netra miliknya terpatri mati menatap guratan yang terbentuk jelas di wajah menua sang nenek, meski hanya di dalam mimpi.
Alenia hanya mampu tersenyum tanpa dia sadari bulir bening jatuh membasahi pipi mulusnya.

Ia terbangun dari tidurnya dengan keadaan mata yang sembab, kemudian mencoba untuk duduk dan bersandar. Isakan demi isakan mulai terdengar, Alenia menangis mengingat mimpi yang dia alami. Mimpi itu terasa sangat nyata sekali.

“Nek, kenapa! Kenapa kau pergi begitu cepat, Nek? Hiks ... aku masih membutuhkanmu, Nek. Aku belum siap kehilanganmu. Kenapa kau tega meninggalkanku?” ucap Alenia seraya menangis sesegukan.

“Nek, bolehkah aku egois? Aku ingin kau kembali, Nek,” sambungnya seraya menarik ingusnya.

“Aku terlalu jahat, Nek. Bahkan saat terakhir kau menutup mata saja, aku tidak ada. Dan ketika ragamu ingin di semayamkan, aku pun tidak pergi untuk  mengantarkanmu. Nek, maafkan aku kalau aku yang tidak ada di saat terakhirmu. Maafkan aku ya, Nek,” ucapnya lagi tak kalah histeris.

Jika ada yang mendengar suara tangisan Alenia, mungkin saja mereka akan merasa iba dan perihatin. Isakannya begitu memilukan. Alenia kembali tertidur pulas, karena tak kuasa menahan serangan rasa kantuk—efek lelahnya mengeluarkan air mata. Alenia mencoba tidur kembali, berharap pertemuannya dengan sang nenek bisa kembali terjadi.

“Tuhan, kabar nenek di sana baik, ‘kan?



















RUMAH PULANG Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang