Iris Xiphium - 29

1.7K 309 30
                                    

Rael menatap keluar jendela mobil, menatap indahnya kota pada malam hari. Walau terlihat baik-baik saja, nyatanya ia sedang mencemaskan banyak hal.

''Sudah sampai! aku akan kembali ke kantor polisi, jika sudah selesai, segera hubungi aku.''ucap detektif Hana

''Terima kasih.''

Rael keluar dari dalam mobil, kemudian berjalan menuju ke tepi danau. Disana, sudah ada seseorang yang tengah menunggunya.

''Aurora?''

Seseorang itu berbalik, membuat Rael terkejut karena wajah seseorang itu berbeda.

''Oh, maaf! Aku sepertinya salah orang.''

''Tidak, kau tak salah. Ini aku, Rael.''

Rael membulatkan matanya setelah seseorang itu menggunakan bahasa isyarat, tak percaya jika seseorang itu memang Aurora.

''Kenapa, kenapa kau baru muncul sekarang? Kau! Apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?''

Aurora mencengkram pinggir bajunya, terlihat sulit untuk mengungkap dan menjawab pertanyaan Rael.

''Aurora?''

''Maafkan aku, ini semua salahku. Aku, semua yang terjadi karena keegoisanku. Aku awalnya tak berniat melakukannya, karena aku merasa nyaman dan baik-baik saja, setelah kau selalu ada disekitarku.''

''Apa maksudmu? Aku tau kau dendam dengan mereka, tapi aku juga yakin, kau tak akan melakukan semua ini kan?''

''Yah, tapi pada akhirnya semuanya tetap terjadi. Aku membenci mereka yang memperlakukan aku seperti sampah, hanya karena aku cacat dan terlahir miskin. Aku bekerja paru waktu hanya untuk membeli buku untuk bersaing dengan kalian. Aku tak bisa membayar guru private seperti kalian, tapi aku tetap berusaha. Namun, kenapa kalian tetap membenciku, apa aku begitu merugikan kalian? Aku hanya ingin bertahan disekolah itu, aku juga tak percaya jika aku bisa bersaing dengan kalian. Aku...''

Rael berjalan mendekati Aurora dan memeluknya erat, karena Aurora sudah menangis tersedu-sedu dihadapannya.

''Aku mengerti, tapi kau tak mengatakan apapun padaku. Apa kau tak menganggapku sebagai temanmu? Apa aku hanya orang asing bagimu?''

Aurora melepas pelukannya sembari menggelengkan kepalanya.

''Tidak, aku sangat senang berteman denganmu, tapi aku tak ingin kau terlibat dalam masalah.''

''Masalah?''

''Rael, saat kau menungguku diluar kafe malam itu, aku mendapat panggilan misterius dari seseorang. Aku langsung pulang tanpa menemuimu, karena panggilan itu berisi ancaman. Setibanya aku dirumah, rumah kami sudah terbuka, aku pikir itu ayahku. Malam itu juga, aku menyadari jika sama seperti Azriel yang masih tak percaya padaku, Rezef juga datang kerumah malam itu.''

''Apa?''

''Aku tak ingin Rezef terluka, jadi aku membuat kesepakatan dengan seseorang itu, yang tak lain adalah mantan anggota Namibian, yang saat itu datang untuk mencari ayahku. Mereka tau jika ayah bergabung dengan anggota Namibian untuk mendapatkan bukti. Aku meminta agar mereka tak akan melibatkan orang lain. Tapi mereka menolak.''

''Tapi bukankah Rezef telah mengundurkan diri seminggu sebelum malam itu? Itu berarti dia tau jika kau seorang pengedar sejak itu kan?''

''Benar, Rezef sudah tau sejak itu, dan aku juga telah menipunya sejak ia mencoba mencari tau tentangku. Aku dan ayahku bukan seorang pengedar, semua itu hanya kebohongan untuk menutupi rencana balas dendamku. Karena ayah bekerja sebagai pengedar, aku berencana membalaskan dendamku dengan merusak anak-anak yang terlibat dalam pembulianku. Tapi ayah sangat baik, dan kau juga sangat baik padaku. Sampai suatu hari aku bertemu dengan ibuku, kau tak tau betapa gilanya ibuku Rael.''

Blind And Bad Rivalry (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang