Bertemu dengan orang baru membuat kita mengetahui yang belum pernah diketahui sebelumnya. Tapi sayang, semuanya harus berawal dari nol.
© storywd.asa
Alma masih tetap mencurigai ucapan Nophel beberapa saat lalu. Akankah Nophel mengaku kalau dirinya adalah pemilik kedai atau mengelak sebab dia memang tidak ada urusan apapun dengan tempat tersebut.
"Kak, jujur ya! kamu yang punya kedai?,"
Nophel dan Meeya saling menatap heran, bagaimana bisa dirinya dituduh memiliki restoran sedangkan ia tak menggeluti bidang itu.
"Sejak kapan kakak tertarik sama bisnis itu? mending berkuda soalnya bisa mengurangi stres dan meringankan gangguan kecemasan, gimana mau gak?," Nophel tak berniat menggoyahkan keyakinan Alma, namun kenyataan mengatakan bahwa Nophel tidak terlibat apapun.
Kepala Alma mengangguk tapi mulutnya mengatakan tidak, kurang sinkron memang.
"Udah deh kalian berdua jangan berdebat dulu, mending kita beres-beres terus tidur, sana pulang Opet besok kita jumpa lagi," Meeya berusaha membubarkan mereka yang sudah terlalu larut untuk membicarakan hal serius.
Esok harinya, di pagi yang cerah dengan semilir angin menginterupsi kegiatan seseorang untuk menarik nafas dalam-dalam dengan maksud menikmati suasana yang mungkin saja tidak akan pernah terulang lagi dalam hidupnya.
"Sudah di chat sama Dira?,"
Alma yang terkaget mendengarkan suara Ghaftan yang selalu saja tiba-tiba.
"Demi apapun! gue kesel banget! minimal nyapa dulu atau sekedar kasih waktu buat gue lihat wujud lo secara utuh baru ngomong! kaget banget tau gak?,"
"Maaf, kelepasan."
Setelah dipikirkan lagi, mungkin saja Alma yang terlalu larut dalam suasana bukan Ghaftan yang tidak menyapanya.
"Iya, dia udah share lokasi."
"Kasih tau saya, biar saya aja yang kesana,"
Alma heran, mengapa labil sekali pria yang ada di depannya ini. "Gak! diem, gue udah terlanjur ikut campur di sini,"
"Saya gak akan bikin kamu ikut campur di masalah ini,"
"Tapi lo yang bikin gue terlibat!,"
"Saya belum telat untuk menyelamatkan kamu," Ghaftan masih dengan pembawaannya yang tenang meskipun seluruh tubuhnya sudah menandakan kalau ia khawatir terjadi sesuatu.
"Lo udah telat, udah deh biarin aja gue terlibat, gue mau bantu orang dan kebetulan ini adalah saat yang tepat." Alma selalu keras kepala dibeberapa situasi yang mengharuskan dirinya untuk mengalah.
Tepat setelah mereka berdebat, keduanya didatangi oleh seorang anak kecil, siapa lagi kalau bukan Moira. Ghaftan membawa Moi untuk berjalan-jalan di pagi hari sebelum dirinya beraktivitas, mengingat kedua orang tuanya yang sudah sangat sibuk.
"KakTa sama kak Ama mau es krim gak?," ungkap gadis cilik itu.
Dunia yang tadinya terlihat suram, mencekam, dan hampir ada badai seketika sirna. Kelucuan dan keceriaan anak kecil ini mampu meredakan emosi dua orang yang tengah berdebat.
"Sayang, kamu inget kak Ama?," Alma senang mendengarkan nama dirinya dipanggil oleh seorang anak kecil. Moira pandai sekali mengambil hati orang-orang disekitarnya bahkan ia mampu mengingat nama Alma.
"Ya ya ya, Moi inget, ayo jajan ya ya,"
Ghaftan mengangguk sedangkan Alma lebih memilih untuk memperingatkan dulu gadis kecil ini, "Moi boleh mam es krim tapii gak boleh banyak-banyak ya, dikit aja,"

KAMU SEDANG MEMBACA
Sudut Pandang [Sedang Revisi]
Teen Fiction"A story i've never seen before". Kalau saja akar pohon itu tidak kokoh mungkin akan mati dan tidak bisa bertahan lama. "Haruskah bertahan?". Jawabannya sesuai bagaimana caramu memandang. °°° "Setiap hal yang dilihat melalui dua kepala yang berbeda...