Pendaftar Pertama

4 0 0
                                    

Pagi harinya Lindri seperti biasa, pergi sekolah sekitaran jam setengah tujuh, naik motor matic kesayangan yang penunjuk isi tank motornya sudah mati, berjalan dari tempat parkir sekolah sambil mengenakan headset yang kabelnya dimasukkan lewat dalam seragam. Tidak lupa juga playlist andalan pagi harinya, yaitu Jakarta Pagi Ini dari Slank.

"Aku di sini ... sendiri ...." Nyanyinya sambil melewati selasar yang mulai dipenuhi murid-murid.

Lindri akhirnya sampai di kelasnya, XI IPA 2. Baru kakinya ingin masuk, dirinya sudah ditarik Darwin, salah satu teman kelas laki-lakinya. Lindri berteriak kaget, membuat semua penghuni menoleh ke arahnya.

"Apaan sih, Win?!" Kesalnya.

Tanpa ba-bi-bu, Darwin menunjukkan layar ponselnya tepat di depan wajah Lindri. Perempuan itu mengaga tidak percaya atas apa yang dilihatnya, lalu matanya beralih ke Darwin dengan melotot.

"Ini nomor lo, kan?" Tanya Darwin. Lindri mengangguk ragu, bibirnya tergagap seperti ingin mengatakan sesuatu namun ada beban yang berat hingga untuk bersuara saja tidak mampu.

"Win," panggil Lindri dengan pelan. Dia memegang pundak Darwin dan mengguncangnya kencang. "Lo bisa dapat itu dari mana, Win?" Tanyanya histeris, tidak peduli pada pandangan murid yang lalu-lalang di selasar depan kelas. "Kok bisa di lo?!"

Darwin melepas paksa pegangan Lindri di pundaknya. "Gue dapat dari temen gue yang ada di tim futsal."

"Apa?!"

*

"Gawat!" Bisik Lindri di telinga Kelia yang ternyata sudah datang. Lindri melempar tasnya sembarang ke bangku, dia langsung duduk di bangku sebelah Kelia –tempat Tita duduk sebenarnya.

"Kenapa?"

"Editan sayembara yang gue buat nyebar ke tim futsal sekolah, Kel!" Bisiknya lagi. Lindri menyembunyikan wajah di balik lipatan tangannya di atas meja. Dia merasa frustasi sekarang. Memang dia yang membuat pengumuman sayembara itu, tapi hanya sebagai bahan bercandaan di grup tongkrongan –sama seperti ketika Tita mengedit foto dengan artis-artis idolanya.

Kelia menoleh cepat, menatap Lindri dengan pandangan tidak kalah kaget. "Beneran, Lin? Kok bisa?" Oke, sekarang Kelia yang tenang pun jadi ikutan panik. "Lo ada kirim itu ke siapa gak selain ke chat grup kita?"

Lindri duduk tegap lagi, dia menggeleng. Ekspresi wajahnya sangat menyedihkan. "Gak ada, Kel. Gue gak segila itu buat nyebar barang kayak gitu."

"Selamat pagi kalian!" Jihan menyapa dengan ceria. Dia melepas jaket jeansnya dan berdiri di samping meja Kelia. "Kalian kenapa? Kok mukanya kusut? Harusnya pagi itu mesti semangat karena hi-"

"Pengumuman sayembara yang Lindri buat kesebar ke tim futsal sekolah."

"Apa?!" Jihan menggeleng tidak percaya. "Kok bisa, Lin? Lo tau dari mana?"

"Darwin ngasi tau gue."

"Astaga! Kel, jadi kita mesti ngapain?!" Oke, sekarang Jihan pun lebih panik. "Lo gak ada ngasi itu ke orang selain kita, kan?" Lindri tidak mampu menjawab lagi, jadi dia hanya menggeleng lemah. "Siapa jadinya yang nyebarin itu?"

"Yang pasti di antara kita berempat bearti." Kelia menopang dagunya. Lantas, ketiga perempuan itu beradu pandang. Mereka menyadari satu hal, hanya Tita yang belum ada di sini, itu artinya ....

"Gue telat, ya?" Tita datang dengan wajah kelewat datar. Dengan santai dia menarik tubuh Lindri enteng untuk segera pindah dari singgasananya. Dia belum menyadari ekspresi sahabatnya yang lain, ada yang sebelah alisnya terangkat, dua lagi melihat Tita dengan memicing tajam. "Gila aja, gue kira udah telat ya." Tita masih meneruskan kebiasaannya yang menyisir rambut hitamnya. "Kirain udah jam delapan masa, abisnya di rumah udah pada sepi. Kejam emang Ibu gue gak bangunin," lanjutnya bercerita.

SAYEMBARA (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang